Ibadah

Niat Puasa 1 Muharram: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya

Niat puasa 1 Muharram merupakan kehendak dalam hati untuk menjalankan puasa sunah pada hari pertama bulan Muharram karena Allah SWT. Puasa ini dapat dilakukan sebagai bagian dari anjuran memperbanyak puasa sunah selama bulan Muharram.

Survey Berhadiah

Berikut bacaan niat puasa 1 Muharram yang umum digunakan:

Daftar Isi:

Tulisan Arab

نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Tulisan Latin

Nawaitu shaumal-Muharrami lillāhi ta‘ālā.

Artinya

“Saya berniat puasa Muharram karena Allah Taala.”

Lafal tersebut merupakan niat puasa Muharram secara umum. Bacaan yang sama dapat digunakan ketika puasa dilakukan pada tanggal 1 Muharram atau hari lain selama bulan Muharram, kecuali ketika seseorang ingin menentukan secara khusus puasa Tasu’a atau Asyura.

Niat sebenarnya berada dalam hati. Seseorang tidak harus mengucapkan lafal Arab agar puasanya sah. Ia cukup mengetahui bahwa puasa yang akan dilaksanakan adalah puasa sunah pada bulan Muharram karena Allah SWT.

Namun, ada hal yang perlu dipahami. Dalil sahih yang kuat menjelaskan keutamaan puasa pada bulan Muharram secara umum serta puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Adapun puasa tanggal 1 Muharram tidak memiliki keutamaan khusus yang disebutkan secara tegas dalam hadis sahih. Karena itu, puasa pada hari pertama Muharram sebaiknya dipahami sebagai bagian dari puasa sunah Muharram, bukan sebagai ibadah khusus dengan pahala tertentu yang hanya berlaku pada tanggal tersebut.

Apakah Ada Niat Khusus Puasa 1 Muharram?

Tidak ada lafal yang wajib menyebutkan kata “tanggal 1” dalam niat puasa Muharram.

Seseorang dapat menggunakan niat puasa Muharram secara umum:

Nawaitu shaumal-Muharrami lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Saya berniat puasa Muharram karena Allah Taala.”

Orang yang ingin memperjelas maksudnya juga dapat berniat menggunakan bahasa Indonesia:

“Saya berniat menjalankan puasa sunah pada tanggal 1 Muharram karena Allah SWT.”

Kedua bentuk tersebut dapat membantu menghadirkan niat. Penentu utamanya bukan panjang bacaan, melainkan kesadaran dalam hati untuk menjalankan puasa sebagai ibadah kepada Allah.

Dalam pembahasan puasa sunah Muharram, niat mutlak seperti “saya berniat berpuasa karena Allah” juga dinilai mencukupi. Menentukan bulan Muharram dalam lafal dapat membantu memperjelas jenis puasa, tetapi bukan berarti susunan kalimat tersebut harus diucapkan secara persis.

Apakah Puasa 1 Muharram Disunnahkan?

Puasa pada tanggal 1 Muharram boleh dan dapat bernilai sunah karena dilakukan dalam bulan Muharram.

Rasulullah saw. menjelaskan bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Hadis tersebut menunjukkan keutamaan memperbanyak puasa sunah selama bulan Muharram sesuai kemampuan.

Namun, hadis itu membahas bulan Muharram secara umum. Hadis tersebut tidak menetapkan pahala khusus yang hanya diperoleh dengan berpuasa pada tanggal 1 Muharram.

Baca juga:   Niat Puasa Ramadhan: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Waktu Membacanya

Puasa yang memiliki penekanan dalil lebih kuat pada bulan Muharram adalah:

  1. Puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram.
  2. Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram.
  3. Puasa pada tanggal 11 Muharram sebagai tambahan menurut sebagian pembahasan fikih.
  4. Memperbanyak puasa pada hari-hari lain selama Muharram sesuai kemampuan.

Muhammadiyah menjelaskan bahwa puasa yang paling ditekankan pada bulan Muharram adalah puasa tanggal 9 dan 10 Muharram. Sementara itu, NU juga menjelaskan kebolehan dan anjuran puasa Muharram secara umum.

Dengan demikian, kesimpulannya adalah:

Puasa 1 Muharram boleh dilakukan dan termasuk puasa sunah Muharram, tetapi tidak perlu diyakini memiliki pahala khusus yang berbeda dari puasa Muharram pada hari-hari lainnya.

Apa Hukum Puasa 1 Muharram?

Hukum puasa 1 Muharram adalah sunah.

Orang yang mengerjakannya mengharapkan pahala dari Allah SWT. Orang yang tidak mengerjakannya tidak berdosa.

Puasa tersebut tidak boleh dianggap sebagai kewajiban. Seseorang juga tidak boleh menilai orang lain bersalah hanya karena tidak berpuasa pada tahun baru Hijriah.

Pelaksanaan puasa 1 Muharram sebaiknya dilandasi oleh tiga hal:

  1. Mengikuti anjuran umum memperbanyak puasa pada bulan Muharram.
  2. Mengawali tahun Hijriah dengan ibadah dan introspeksi.
  3. Mendekatkan diri kepada Allah SWT tanpa meyakini pahala khusus yang tidak memiliki dalil kuat.

Muharram sendiri termasuk salah satu dari empat bulan suci atau bulan haram bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Kedudukan tersebut dijelaskan dalam hadis sahih tentang pembagian dua belas bulan dalam satu tahun.

Kapan Niat Puasa 1 Muharram Dibaca?

Waktu terbaik untuk melakukan niat puasa 1 Muharram adalah pada malam hari sebelum pelaksanaan puasa.

Niat dapat dilakukan sejak matahari terbenam pada hari terakhir bulan Dzulhijjah sampai sebelum terbit fajar pada tanggal 1 Muharram.

Seseorang dapat melakukan niat pada waktu berikut:

  • Setelah masuk waktu Magrib.
  • Setelah salat Isya.
  • Sebelum tidur.
  • Ketika menyiapkan makanan sahur.
  • Saat makan sahur.
  • Beberapa saat sebelum waktu Subuh.

Berniat sejak malam hari lebih baik karena menunjukkan bahwa seseorang sudah mempersiapkan ibadah sejak awal. Niat pada malam hari juga mengurangi risiko lupa atau terlambat menentukan puasa.

Lafal yang dapat dibaca ialah:

Nawaitu shaumal-Muharrami lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Saya berniat puasa Muharram karena Allah Taala.”

Niat puasa Muharram pada malam hari dapat dilakukan setelah Magrib sampai menjelang fajar.

Bolehkah Niat Puasa 1 Muharram Setelah Subuh?

Puasa 1 Muharram merupakan puasa sunah. Dalam pembahasan fikih Mazhab Syafi’i, seseorang yang lupa berniat pada malam hari masih dapat berniat pada pagi hari sampai sebelum waktu Zuhur.

Ketentuan tersebut berlaku selama ia belum melakukan sesuatu yang membatalkan puasa sejak terbit fajar, seperti:

  • Belum makan.
  • Belum minum.
  • Belum melakukan hubungan suami istri.
  • Belum melakukan pembatal puasa lainnya.

Kelonggaran niat pada pagi hari berlaku untuk puasa sunah. Ketentuannya berbeda dari puasa wajib, seperti qadha Ramadhan, yang menurut Mazhab Syafi’i memerlukan niat sejak malam hari.

Jika baru berniat pada pagi hari, seseorang dapat menggunakan bahasa Indonesia:

“Saya berniat menjalankan puasa sunah Muharram hari ini karena Allah SWT.”

Bacaan Arabnya dapat disusun sebagai berikut:

Tulisan Arab

نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Tulisan Latin

Nawaitu shauma hādzal yaumi ‘an adā’i sunnatil-Muharrami lillāhi ta‘ālā.

Artinya

“Saya berniat puasa sunah Muharram pada hari ini karena Allah Taala.”

Namun, berniat sejak malam tetap menjadi pilihan yang lebih aman dan lebih tertib.

Apakah Niat Puasa Harus Diucapkan?

Niat puasa 1 Muharram tidak harus diucapkan dengan suara.

Niat merupakan kehendak yang berada dalam hati. Seseorang yang pada malam hari sudah memutuskan untuk berpuasa Muharram berarti telah memiliki niat, meskipun tidak membaca lafal Arab.

Contohnya, seseorang mengetahui bahwa besok adalah tanggal 1 Muharram. Ia memasang alarm untuk sahur, menyiapkan makanan, dan tidur dengan keputusan untuk berpuasa. Kesadaran tersebut menunjukkan adanya niat.

Lafal niat berfungsi membantu hati memperjelas maksud ibadah. Lafal tidak boleh dianggap sebagai rangkaian kata yang bekerja secara otomatis tanpa adanya kesadaran.

Seseorang juga tidak perlu mengulang niat berkali-kali hanya karena merasa pengucapannya kurang sempurna. Kesalahan kecil dalam transliterasi tidak otomatis merusak puasa selama maksud dalam hati sudah jelas.

Apakah Niat Boleh Menggunakan Bahasa Indonesia?

Niat puasa 1 Muharram boleh menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa lain yang dipahami.

Contohnya:

“Saya berniat berpuasa sunah Muharram besok karena Allah SWT.”

Niat tersebut sudah mengandung unsur penting:

  • Ada kehendak untuk berpuasa.
  • Puasa dilakukan sebagai ibadah sunah.
  • Pelaksanaannya berada pada bulan Muharram.
  • Tujuannya karena Allah SWT.

Bahasa Arab tidak menjadi syarat sah niat. Bacaan Arab digunakan karena membantu sebagian orang memantapkan hati dan menjaga tradisi keilmuan Islam.

Baca juga:   Niat Puasa Tarwiyah: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Waktu Membacanya

Apakah Makan Sahur Sudah Termasuk Niat?

Makan sahur dapat menunjukkan adanya niat jika seseorang sengaja makan untuk menjalankan puasa 1 Muharram.

Misalnya, seseorang bangun sebelum Subuh karena sudah berencana berpuasa. Ia mengetahui bahwa hari tersebut adalah tanggal 1 Muharram dan makan agar mampu menjalankan puasa. Tindakan tersebut menunjukkan adanya kehendak untuk berpuasa.

Namun, makan pada malam hari tidak selalu otomatis menjadi niat. Seseorang mungkin makan karena lapar tanpa bermaksud menjalankan puasa.

Penentunya tetap berada pada tujuan dalam hati.

Agar lebih jelas, hadirkan niat secara sadar ketika makan sahur. Katakan dalam hati:

“Saya makan sahur untuk menjalankan puasa sunah Muharram karena Allah SWT.”

Apakah Puasa 1 Muharram Sah Tanpa Sahur?

Puasa 1 Muharram tetap sah meskipun seseorang tidak makan sahur.

Sahur merupakan amalan yang dianjurkan, bukan syarat sah puasa. Seseorang yang sudah berniat tetapi terlambat bangun tetap dapat melanjutkan puasanya.

Tidak makan sahur juga tidak berarti seseorang harus membatalkan rencana puasa. Namun, ia tetap perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan dan kemampuan tubuh.

Orang yang memiliki penyakit, mengonsumsi obat, sedang hamil, atau memiliki kondisi medis tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menjalankan puasa sunah.

Tata Cara Puasa 1 Muharram

Tata cara puasa 1 Muharram sama dengan pelaksanaan puasa sunah pada umumnya.

1. Memastikan tanggal 1 Muharram

Periksa kalender Hijriah dan penetapan awal bulan dari lembaga keagamaan yang menjadi rujukan.

Tanggal Masehi untuk 1 Muharram berubah setiap tahun karena kalender Hijriah menggunakan peredaran bulan.

2. Menghadirkan niat

Lakukan niat sejak malam hari. Niat dapat diucapkan menggunakan bahasa Arab atau cukup dihadirkan dalam hati.

3. Makan sahur

Makan sahur jika memungkinkan. Pilih makanan bergizi dan minum air dalam jumlah yang sesuai kebutuhan tubuh.

Sahur sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. Makan terlalu banyak dapat membuat tubuh tidak nyaman selama berpuasa.

4. Mulai berpuasa sejak terbit fajar

Puasa dimulai ketika fajar terbit atau waktu Subuh masuk.

Sejak waktu tersebut, orang yang berpuasa menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa.

5. Menjaga ucapan dan tindakan

Puasa tidak hanya berarti menahan lapar dan haus.

Orang yang berpuasa perlu menghindari:

  • Berbohong.
  • Menggunjing.
  • Menghina orang lain.
  • Bertengkar.
  • Menyebarkan fitnah.
  • Melakukan kecurangan.
  • Menyakiti orang lain.

Isi hari pertama Muharram dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, belajar, bekerja secara jujur, dan membantu keluarga.

6. Menyegerakan berbuka

Puasa berakhir ketika matahari terbenam atau waktu Magrib masuk.

Berbukalah dengan air, kurma, atau makanan yang tersedia. Tidak ada makanan khusus yang wajib disediakan untuk berbuka puasa Muharram.

7. Membaca doa berbuka

Salah satu doa berbuka yang dapat dibaca ialah:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللّٰهُ

Dzahabazh-zhama’u wabtallatil-‘urūqu wa tsabatal-ajru insyā Allāh.

Artinya:

“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insyaallah.”

Doa tersebut dapat digunakan ketika berbuka dari berbagai jenis puasa, termasuk puasa Muharram.

Keutamaan Puasa Muharram

Keutamaan puasa 1 Muharram sebaiknya ditempatkan dalam keutamaan puasa Muharram secara umum.

1. Termasuk puasa utama setelah Ramadhan

Rasulullah saw. menyebut puasa pada bulan Muharram sebagai puasa paling utama setelah Ramadhan. Keterangan ini menjadi dasar untuk memperbanyak puasa selama Muharram sesuai kemampuan.

Hadis tersebut tidak berarti seseorang harus berpuasa selama satu bulan penuh. Ia dapat memilih beberapa hari yang sesuai dengan kondisi tubuh dan tanggung jawabnya.

2. Dilaksanakan pada salah satu bulan suci

Muharram termasuk salah satu dari empat bulan suci dalam kalender Islam. Tiga bulan lainnya ialah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab.

Kedudukan Muharram mendorong umat Islam memperbanyak amal baik dan menjauhi perbuatan buruk.

3. Mengawali tahun Hijriah dengan ibadah

Tanggal 1 Muharram menandai awal tahun dalam kalender Hijriah. Masyarakat Muslim sering menjadikannya sebagai momentum introspeksi, memperbaiki kebiasaan, dan meningkatkan ibadah.

Puasa dapat menjadi salah satu cara mengawali tahun baru dengan pengendalian diri. Namun, hal tersebut merupakan hikmah dan pilihan ibadah, bukan ketentuan bahwa setiap Muslim wajib berpuasa pada awal tahun Hijriah.

4. Melatih pengendalian diri

Puasa melatih seseorang untuk mengendalikan kebutuhan fisik, emosi, ucapan, dan tindakan.

Latihan ini dapat dijadikan dasar untuk memperbaiki diri selama tahun Hijriah yang baru. Perubahan tidak cukup berhenti pada menahan makan dan minum. Orang yang berpuasa juga perlu memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia.

5. Membantu membangun konsistensi ibadah

Puasa 1 Muharram dapat menjadi awal untuk melanjutkan ibadah lain selama bulan Muharram.

Baca juga:   Niat Sholat Sunnah: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Jenisnya

Seseorang dapat merencanakan puasa Senin-Kamis, Tasu’a, Asyura, atau beberapa hari lain sesuai kemampuan.

Perbedaan Puasa 1 Muharram, Tasu’a, dan Asyura

Ketiga puasa tersebut sama-sama dilakukan pada bulan Muharram, tetapi dasar penekanannya berbeda.

Puasa 1 Muharram

Puasa ini dilaksanakan pada hari pertama bulan Muharram. Hukumnya sunah dalam cakupan anjuran umum memperbanyak puasa selama Muharram.

Tidak terdapat hadis sahih yang menetapkan pahala khusus hanya untuk puasa tanggal 1 Muharram.

Puasa Tasu’a

Puasa Tasu’a dilakukan pada tanggal 9 Muharram.

Rasulullah saw. menyatakan keinginan untuk berpuasa pada hari kesembilan apabila masih hidup pada tahun berikutnya. Keterangan tersebut menjadi dasar anjuran puasa Tasu’a bersama Asyura.

Niat puasa Tasu’a ialah:

Nawaitu shauma Tāsū‘ā’a lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Saya berniat puasa Tasu’a karena Allah Taala.”

Puasa Asyura

Puasa Asyura dilakukan pada tanggal 10 Muharram.

Hadis sahih menjelaskan bahwa puasa Asyura diharapkan menjadi penghapus dosa tahun sebelumnya.

Niat puasa Asyura ialah:

Nawaitu shauma ‘Āsyūrā’a lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Saya berniat puasa Asyura karena Allah Taala.”

Dengan demikian, puasa 1 Muharram tetap baik dilakukan. Namun, seseorang sebaiknya juga memperhatikan puasa Tasu’a dan Asyura karena memiliki dalil yang lebih khusus.

Apakah Boleh Puasa Hanya pada Tanggal 1 Muharram?

Boleh.

Seseorang tidak harus melanjutkan puasa selama beberapa hari berturut-turut. Ia dapat berpuasa hanya pada tanggal 1 Muharram sesuai kemampuan.

Puasa tersebut tidak bergantung pada pelaksanaan puasa Tasu’a atau Asyura. Masing-masing dilakukan pada waktu yang berbeda.

Namun, apabila mampu, seseorang dapat menyusun jadwal sebagai berikut:

  • Puasa 1 Muharram untuk mengawali bulan dengan ibadah.
  • Puasa Senin atau Kamis selama Muharram.
  • Puasa Tasu’a pada 9 Muharram.
  • Puasa Asyura pada 10 Muharram.
  • Puasa Ayyamul Bidh pada 13, 14, dan 15 Muharram.

Tidak perlu memaksakan semua jadwal. Pilih ibadah yang dapat dilakukan dengan sehat, ikhlas, dan konsisten.

Bolehkah Puasa 1 Muharram Digabung dengan Qadha Ramadhan?

Ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai penggabungan puasa wajib dan puasa sunah.

Sebagian penjelasan fikih membolehkan seseorang melaksanakan qadha pada hari yang memiliki keutamaan puasa sunah. Niat utamanya tetap diarahkan kepada qadha Ramadhan.

Majelis Tarjih Muhammadiyah menyarankan agar puasa wajib dan puasa sunah dilaksanakan secara terpisah karena masing-masing memiliki tujuan tersendiri.

Pilihan yang lebih aman adalah memprioritaskan qadha Ramadhan.

Jika seseorang memilih tanggal 1 Muharram untuk membayar utang puasa, gunakan niat qadha:

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Saya berniat berpuasa esok hari untuk mengqadha puasa wajib Ramadhan karena Allah Taala.”

Jangan hanya menggunakan niat puasa Muharram jika tujuan utamanya adalah mengganti kewajiban Ramadhan.

Kesalahan Umum tentang Puasa 1 Muharram

Menganggap puasa 1 Muharram wajib

Puasa 1 Muharram berstatus sunah. Orang yang tidak mengerjakannya tidak berdosa.

Meyakini adanya pahala khusus tanpa dalil

Jangan menyebarkan klaim bahwa puasa 1 Muharram pasti menghapus dosa selama beberapa tahun atau memberikan pahala dengan angka tertentu.

Dalil yang kuat menjelaskan keutamaan puasa Muharram secara umum dan keutamaan khusus puasa Asyura.

Menganggap niat wajib menggunakan bahasa Arab

Niat boleh menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa lain yang dipahami.

Menganggap tidak sahur membuat puasa batal

Sahur bukan syarat sah puasa. Puasa tetap dapat dilanjutkan selama niat dan ketentuan lainnya terpenuhi.

Baru berniat setelah makan pada pagi hari

Kelonggaran niat puasa sunah pada pagi hari hanya berlaku jika seseorang belum melakukan pembatal puasa sejak fajar.

Meninggalkan puasa Tasu’a dan Asyura karena merasa puasa tanggal 1 sudah cukup

Setiap puasa merupakan ibadah tersendiri. Puasa tanggal 1 tidak menggantikan keutamaan khusus puasa Tasu’a dan Asyura.

Memaksakan puasa meskipun sakit

Puasa 1 Muharram adalah ibadah sunah. Jangan memaksakan diri jika puasa membahayakan kesehatan atau mengganggu pengobatan.

Pertanyaan Umum tentang Niat Puasa 1 Muharram

Apa bacaan niat puasa 1 Muharram?

Bacaannya ialah Nawaitu shaumal-Muharrami lillāhi ta‘ālā, yang berarti “Saya berniat puasa Muharram karena Allah Taala.”

Apakah ada niat khusus yang menyebut tanggal 1?

Tidak harus. Gunakan niat puasa Muharram secara umum atau niatkan dalam bahasa Indonesia bahwa puasa dilakukan pada tanggal 1 Muharram.

Apakah puasa 1 Muharram wajib?

Tidak. Hukumnya sunah.

Apakah puasa 1 Muharram memiliki keutamaan khusus?

Dalil sahih menjelaskan keutamaan puasa Muharram secara umum. Tidak ada keterangan sahih yang menetapkan pahala khusus hanya untuk tanggal 1 Muharram.

Kapan niat puasa 1 Muharram dilakukan?

Waktu terbaiknya sejak Magrib pada malam 1 Muharram sampai sebelum terbit fajar.

Apakah boleh niat setelah Subuh?

Boleh untuk puasa sunah menurut pendapat fikih yang memberikan kelonggaran sampai sebelum Zuhur, selama belum melakukan pembatal puasa sejak fajar.

Apakah niat harus dilafalkan?

Tidak harus. Niat cukup hadir dalam hati. Lafal membantu memperjelas maksud ibadah.

Apakah boleh niat menggunakan bahasa Indonesia?

Boleh. Contohnya, “Saya berniat menjalankan puasa sunah Muharram karena Allah SWT.”

Apakah puasa sah tanpa sahur?

Sah. Sahur bukan syarat sah puasa.

Apakah boleh hanya puasa satu hari?

Boleh. Puasa Muharram tidak harus dilaksanakan secara berturut-turut.

Apakah puasa 1 Muharram sama dengan puasa Asyura?

Tidak. Puasa 1 Muharram dilakukan pada hari pertama, sedangkan puasa Asyura dilakukan pada tanggal 10 Muharram.

Mana yang lebih utama, puasa 1 Muharram atau Asyura?

Puasa Asyura memiliki dalil khusus tentang keutamaannya. Puasa 1 Muharram berada dalam anjuran umum berpuasa pada bulan Muharram.

Apakah boleh puasa 1 Muharram jika bertepatan dengan hari Jumat?

Boleh. Namun, terdapat pembahasan fikih tentang mengkhususkan hari Jumat untuk puasa sunah. Untuk kehati-hatian, seseorang dapat menambah puasa pada hari sebelum atau sesudahnya jika mampu.

Apakah boleh qadha Ramadhan pada 1 Muharram?

Boleh. Gunakan niat qadha Ramadhan karena status utamanya adalah puasa wajib.

Kesimpulan

Niat puasa 1 Muharram yang umum digunakan ialah:

Nawaitu shaumal-Muharrami lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Saya berniat puasa Muharram karena Allah Taala.”

Niat tidak harus dilafalkan. Inti niat berada dalam hati. Seseorang boleh menggunakan bahasa Indonesia selama memahami bahwa dirinya akan menjalankan puasa sunah Muharram karena Allah SWT.

Puasa pada tanggal 1 Muharram diperbolehkan dan termasuk dalam anjuran umum memperbanyak puasa sunah selama bulan Muharram. Namun, tidak terdapat dalil sahih yang menetapkan keutamaan khusus hanya untuk tanggal 1 Muharram.

Dalil yang kuat menjelaskan bahwa puasa Muharram merupakan puasa utama setelah Ramadhan. Puasa yang paling ditekankan secara khusus dalam bulan tersebut adalah Tasu’a pada tanggal 9 Muharram dan Asyura pada tanggal 10 Muharram.

Laksanakan puasa sesuai kemampuan. Jaga niat, kesehatan, ucapan, dan perilaku. Jadikan awal tahun Hijriah sebagai momentum untuk memperbaiki ibadah dan hubungan dengan sesama.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Related Articles

Back to top button