Ibadah

Niat Puasa Ayyamul Bidh Rajab: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya

Niat puasa Ayyamul Bidh Rajab merupakan kehendak dalam hati untuk menjalankan puasa sunah pada hari-hari putih di bulan Rajab karena Allah SWT. Ayyamul Bidh umumnya dilaksanakan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah, termasuk pada bulan Rajab.

Survey Berhadiah

Bacaan niat yang umum digunakan adalah:

Daftar Isi:

Tulisan Arab

نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Tulisan Latin

Nawaitu shauma ayyāmil-bīḍi lillāhi ta‘ālā.

Artinya

“Aku berniat puasa Ayyamul Bidh karena Allah Taala.”

Bacaan tersebut tidak harus ditambah dengan kata Rajab. Seseorang cukup mengetahui bahwa puasa Ayyamul Bidh yang dijalankannya bertepatan dengan tanggal 13, 14, atau 15 Rajab.

Puasa tiga hari setiap bulan memiliki dasar dalam hadis. Rasulullah saw. memerintahkan puasa pada hari-hari putih, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah. Riwayat Abu Dawud juga menyebutkan bahwa pelaksanaannya memiliki nilai seperti puasa sepanjang masa.

Artikel ini membahas bacaan niat puasa Ayyamul Bidh Rajab, waktu berniat, tanggal pelaksanaan, hukum, tata cara, keutamaan, serta perbedaannya dengan puasa Rajab biasa.

Bacaan Niat Puasa Ayyamul Bidh Rajab

Berikut lafal niat yang banyak digunakan oleh umat Islam di Indonesia.

Arab

نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin

Nawaitu shauma ayyāmil-bīḍi lillāhi ta‘ālā.

Terjemahan

“Aku berniat puasa Ayyamul Bidh karena Allah Taala.”

Lafal tersebut dicantumkan dalam sejumlah panduan fikih sebagai niat khusus puasa Ayyamul Bidh. Namun, niat utamanya tetap berada dalam hati. Lafal digunakan untuk membantu seseorang menentukan jenis ibadah yang akan dikerjakan.

Seseorang juga boleh berniat menggunakan bahasa Indonesia:

“Saya berniat menjalankan puasa sunah Ayyamul Bidh pada bulan Rajab karena Allah SWT.”

Bahasa Arab bukan syarat sah niat. Hal yang terpenting adalah adanya kesadaran bahwa seseorang akan menjalankan puasa sunah pada hari Ayyamul Bidh karena Allah SWT.

Apakah Harus Menyebut Rajab dalam Niat?

Kata Rajab tidak harus disebutkan dalam lafal niat.

Puasa yang sedang dikerjakan adalah puasa Ayyamul Bidh. Bulan Rajab hanya menjadi waktu pelaksanaannya. Karena itu, bacaan Nawaitu shauma ayyāmil-bīḍi lillāhi ta‘ālā sudah dapat digunakan.

Orang yang ingin memperjelas niat dapat menggunakan kalimat bahasa Indonesia:

“Saya berniat puasa Ayyamul Bidh pada bulan Rajab karena Allah SWT.”

Tidak perlu mencari bacaan Arab yang terlalu panjang. Niat bukan rangkaian mantra yang harus diucapkan dengan susunan kata tertentu. Niat merupakan kehendak sadar di dalam hati.

Baca juga:   Niat Zakat Fitrah untuk Keluarga: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya

Kesalahan kecil dalam pengucapan Latin juga tidak otomatis membatalkan puasa. Selama orang tersebut memahami jenis ibadah yang dijalankan, maksud niatnya sudah jelas.

Apa Itu Puasa Ayyamul Bidh?

Ayyamul Bidh secara harfiah berarti hari-hari putih. Istilah tersebut merujuk pada hari ketika malam diterangi bulan purnama atau mendekati purnama.

Puasa Ayyamul Bidh biasanya dilakukan pada tanggal berikut:

  • Tanggal 13 bulan Hijriah.
  • Tanggal 14 bulan Hijriah.
  • Tanggal 15 bulan Hijriah.

Rasulullah saw. memerintahkan puasa pada tanggal 13, 14, dan 15. Riwayat ini menjadi dasar penetapan ketiga tanggal tersebut sebagai waktu utama puasa Ayyamul Bidh.

Riwayat lain menjelaskan anjuran berpuasa tiga hari setiap bulan tanpa selalu menentukan harinya. Karena itu, orang yang tidak dapat berpuasa pada tanggal 13, 14, dan 15 masih dapat menjalankan puasa tiga hari pada tanggal lain. Namun, tanggal 13 sampai 15 menjadi waktu yang lebih dikenal dan memiliki dalil khusus sebagai Ayyamul Bidh.

Kapan Puasa Ayyamul Bidh Rajab Dilaksanakan?

Puasa Ayyamul Bidh Rajab dilaksanakan pada tanggal:

  1. 13 Rajab.
  2. 14 Rajab.
  3. 15 Rajab.

Tanggal Masehinya berubah setiap tahun karena kalender Hijriah mengikuti siklus bulan. Oleh karena itu, pembaca perlu memeriksa kalender Hijriah atau pengumuman lembaga keagamaan yang menjadi rujukan.

Jangan menentukan tanggal hanya berdasarkan informasi tahun sebelumnya. Tanggal 13 Rajab dapat jatuh pada hari Masehi yang berbeda setiap tahun.

Jika terdapat perbedaan awal bulan Rajab di tengah masyarakat, ikuti kalender atau metode penetapan yang menjadi rujukan masing-masing dengan tetap menghormati pihak lain.

Kapan Niat Puasa Ayyamul Bidh Rajab Dibaca?

Waktu terbaik untuk membaca atau menghadirkan niat adalah pada malam hari sebelum pelaksanaan puasa.

Niat dapat dilakukan sejak matahari terbenam sampai sebelum terbit fajar. Contohnya:

  • Niat untuk puasa 13 Rajab dilakukan pada malam tanggal 13 Rajab.
  • Niat untuk puasa 14 Rajab dilakukan pada malam tanggal 14 Rajab.
  • Niat untuk puasa 15 Rajab dilakukan pada malam tanggal 15 Rajab.

Secara praktis, niat dapat dilakukan:

  • Setelah salat Magrib.
  • Setelah salat Isya.
  • Sebelum tidur.
  • Saat menyiapkan makanan sahur.
  • Ketika makan sahur.
  • Beberapa saat sebelum masuk waktu Subuh.

Menurut penjelasan fikih Mazhab Syafi’i, puasa Ayyamul Bidh termasuk puasa sunah. Niatnya dapat dilakukan sejak malam hari sampai sebelum matahari tergelincir, selama orang tersebut belum melakukan pembatal puasa sejak terbit fajar.

Meskipun terdapat kelonggaran, berniat sejak malam tetap menjadi pilihan yang lebih tertib dan aman.

Niat Puasa Ayyamul Bidh pada Pagi Hari

Orang yang lupa berniat pada malam hari masih dapat berniat pada pagi hari menurut pendapat yang membolehkan niat puasa sunah sebelum Zuhur.

Syaratnya adalah:

  • Belum makan sejak terbit fajar.
  • Belum minum.
  • Belum melakukan hubungan suami istri.
  • Belum melakukan hal lain yang membatalkan puasa.
  • Niat dilakukan sebelum matahari tergelincir atau sebelum waktu Zuhur.

Seseorang dapat menggunakan niat sederhana dalam bahasa Indonesia:

“Saya berniat menjalankan puasa sunah Ayyamul Bidh hari ini karena Allah SWT.”

Lafal Arab yang dapat digunakan adalah:

Arab

نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin

Nawaitu shauma hādzal-yaumi ‘an adā’i ayyāmil-bīḍi lillāhi ta‘ālā.

Artinya

“Aku berniat puasa Ayyamul Bidh pada hari ini karena Allah Taala.”

Namun, lafal pagi tersebut tidak menjadi susunan wajib. Niat dalam hati menggunakan bahasa yang dipahami sudah mencukupi.

Apakah Niat Harus Dilafalkan?

Niat tidak harus dilafalkan dengan suara.

Inti niat adalah kesadaran dalam hati. Seseorang yang sejak malam telah berencana menjalankan puasa Ayyamul Bidh berarti sudah memiliki niat meskipun tidak mengucapkan bacaan Arab.

Misalnya, seseorang melihat kalender dan mengetahui bahwa besok adalah 13 Rajab. Ia memasang alarm untuk sahur karena ingin menjalankan puasa Ayyamul Bidh. Keputusan tersebut menunjukkan adanya niat.

Dalam tradisi fikih Mazhab Syafi’i, melafalkan niat dapat membantu hati menentukan jenis ibadah. Namun, pelafalan tidak menggantikan kehendak dalam hati.

Karena itu, jangan mengulang lafal berkali-kali karena takut salah. Tentukan jenis puasa, niatkan karena Allah SWT, lalu jalankan ibadah dengan tenang.

Hukum Puasa Ayyamul Bidh Rajab

Hukum puasa Ayyamul Bidh adalah sunah.

Orang yang mengerjakannya mendapatkan pahala. Orang yang tidak mengerjakannya tidak berdosa.

Rasulullah saw. berpesan kepada Abu Hurairah untuk menjaga tiga amalan, salah satunya adalah berpuasa tiga hari setiap bulan. Dua amalan lainnya adalah mengerjakan dua rakaat Dhuha dan melaksanakan Witir sebelum tidur.

Baca juga:   Niat Sholat Dhuha 2 Rakaat: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya

Hadis lain secara khusus menyebutkan puasa tanggal 13, 14, dan 15. Hal ini menunjukkan bahwa puasa tiga hari setiap bulan dapat diarahkan pada tanggal-tanggal Ayyamul Bidh.

Pelaksanaannya pada bulan Rajab tetap berstatus puasa Ayyamul Bidh. Tidak ada kewajiban menjadikannya sebagai puasa khusus Rajab dengan pahala tertentu yang tidak memiliki dalil kuat.

Apakah Puasa Ayyamul Bidh Rajab Memiliki Keutamaan Khusus?

Keutamaan utamanya berasal dari puasa Ayyamul Bidh dan puasa tiga hari setiap bulan.

Pelaksanaan pada bulan Rajab juga bertepatan dengan salah satu bulan suci. Hadis sahih menyebut Rajab sebagai salah satu dari empat bulan haram bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Namun, perlu dibedakan antara dua hal:

Pertama, terdapat dalil umum tentang puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah.

Kedua, tidak terdapat dalil sahih yang secara khusus menetapkan pahala tambahan dengan angka tertentu hanya karena Ayyamul Bidh dilakukan pada bulan Rajab.

Muhammadiyah menjelaskan bahwa tidak terdapat tuntunan sahih mengenai puasa Rajab dengan keutamaan khusus yang hanya berlaku pada bulan tersebut. Puasa tetap dapat dilakukan berdasarkan anjuran umum, termasuk puasa Ayyamul Bidh, Senin-Kamis, atau tiga hari setiap bulan.

Dengan demikian, puasa Ayyamul Bidh Rajab merupakan ibadah sunah yang memiliki dasar. Namun, hindari klaim seperti pahala setara ribuan tahun, pasti menghapus dosa tertentu, atau jaminan khusus yang tidak memiliki sumber tepercaya.

Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

Puasa Ayyamul Bidh memiliki sejumlah keutamaan yang dapat dipahami dari hadis dan tujuan umum ibadah puasa.

1. Menjalankan pesan Rasulullah saw.

Rasulullah saw. menganjurkan umat Islam berpuasa tiga hari setiap bulan. Pelaksanaannya pada tanggal 13, 14, dan 15 menjadi salah satu pola yang memiliki dasar hadis.

Menjalankan puasa tersebut merupakan bentuk mengikuti ibadah sunah sesuai kemampuan.

2. Bernilai seperti puasa sepanjang masa

Dalam riwayat Abu Dawud, puasa tiga hari pada Ayyamul Bidh disebut seperti puasa sepanjang masa. Pemaknaan ini berkaitan dengan pelipatgandaan pahala kebaikan, bukan berarti seseorang benar-benar berpuasa setiap hari tanpa berbuka.

Keterangan tersebut tidak boleh digunakan untuk meremehkan ibadah wajib atau menganggap tiga hari puasa dapat menggantikan puasa Ramadhan.

3. Membantu menjaga konsistensi ibadah

Ayyamul Bidh memiliki jadwal yang berulang setiap bulan Hijriah. Pola ini membantu seseorang membangun kebiasaan berpuasa secara teratur.

Seseorang dapat menandai tanggal 13, 14, dan 15 pada kalender. Jadwal tersebut relatif mudah direncanakan dibandingkan puasa tanpa pola yang jelas.

4. Melatih pengendalian diri

Puasa melatih seseorang mengendalikan makan, minum, emosi, ucapan, dan keinginan.

Latihan tersebut seharusnya membawa perubahan pada perilaku. Orang yang berpuasa perlu menghindari kebohongan, penghinaan, pertengkaran, dan tindakan yang merugikan orang lain.

5. Menjadi sarana meningkatkan keikhlasan

Puasa merupakan ibadah yang sangat bergantung pada kejujuran. Orang lain tidak selalu mengetahui apakah seseorang benar-benar menjaga puasanya.

Keadaan tersebut membantu melatih keikhlasan dan kesadaran bahwa ibadah dilakukan karena Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pengakuan manusia.

6. Mengisi bulan Rajab dengan amal yang memiliki dasar

Rajab termasuk bulan haram. Menjalankan Ayyamul Bidh menjadi salah satu cara mengisi bulan tersebut dengan ibadah yang memiliki landasan umum yang jelas.

Selain berpuasa, seseorang dapat memperbanyak salat sunah, sedekah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Apakah Harus Puasa Tiga Hari Berturut-turut?

Untuk mendapatkan bentuk pelaksanaan Ayyamul Bidh yang umum, puasa dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 secara berurutan.

Namun, seseorang yang hanya mampu mengerjakan satu atau dua hari tetap dapat berpuasa sunah. Ia tidak perlu meninggalkan seluruhnya hanya karena tidak dapat menyelesaikan tiga hari.

Contohnya, seseorang dapat berpuasa pada 13 dan 14 Rajab, tetapi pada tanggal 15 memiliki kondisi kesehatan atau pekerjaan yang tidak memungkinkan. Dua hari yang sudah dijalankan tetap merupakan ibadah sunah.

Riwayat juga menunjukkan anjuran berpuasa tiga hari setiap bulan tanpa selalu mengikatkannya pada tanggal tertentu. Oleh karena itu, seseorang yang terlewat pada tanggal 13 sampai 15 masih dapat menjalankan puasa sunah tiga hari pada tanggal lain, meskipun tidak lagi disebut pelaksanaan Ayyamul Bidh pada waktunya.

Apakah Boleh Hanya Puasa Tanggal 13 Rajab?

Boleh.

Puasa sunah tidak harus ditinggalkan seluruhnya ketika seseorang hanya mampu menjalankan satu hari. Ia tetap dapat berpuasa pada tanggal 13 Rajab.

Namun, bentuk Ayyamul Bidh yang lengkap dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15. Jika mampu, selesaikan ketiga hari tersebut.

Baca juga:   Niat Mengganti Puasa Ramadhan: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya

Prinsipnya adalah melakukan ibadah sesuai kemampuan tanpa mengubah status sunah menjadi kewajiban.

Apakah Puasa Ayyamul Bidh Rajab Sah Tanpa Sahur?

Puasa tetap sah meskipun seseorang tidak makan sahur.

Sahur merupakan amalan yang dianjurkan, bukan syarat sah puasa. Orang yang sudah berniat pada malam hari tetapi terlambat bangun dapat tetap melanjutkan puasanya.

Jika belum berniat pada malam hari, ia dapat menggunakan kelonggaran niat puasa sunah pada pagi hari selama belum melakukan pembatal puasa dan masih berada sebelum batas waktu yang dibolehkan.

Walaupun sah tanpa sahur, pertimbangkan kondisi kesehatan. Orang yang sedang sakit, hamil, menyusui, atau menjalani pengobatan sebaiknya meminta saran tenaga kesehatan sebelum berpuasa.

Tata Cara Puasa Ayyamul Bidh Rajab

Tata cara puasa Ayyamul Bidh sama seperti puasa sunah lainnya.

1. Memastikan tanggal pelaksanaan

Periksa kalender Hijriah dan pastikan tanggal 13, 14, serta 15 Rajab.

2. Menghadirkan niat

Niatkan puasa sejak malam hari. Lafalkan bacaan niat apabila hal tersebut membantu konsentrasi.

3. Makan sahur

Makan sahur jika memungkinkan. Pilih makanan bergizi dan minum air sesuai kebutuhan tubuh.

4. Mulai berpuasa sejak terbit fajar

Ketika waktu Subuh masuk, tahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, serta pembatal puasa lainnya.

5. Menjaga ucapan dan perilaku

Hindari berbohong, menggunjing, menghina, bertengkar, dan melakukan tindakan yang merugikan orang lain.

6. Tetap menjalankan kewajiban

Puasa sunah tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan salat wajib, pekerjaan, pendidikan, atau tanggung jawab keluarga.

7. Menyegerakan berbuka

Berbukalah ketika matahari terbenam atau waktu Magrib masuk.

Salah satu doa yang dapat dibaca setelah berbuka adalah:

Dzahabazh-zhama’u wabtallatil-‘urūqu wa tsabatal-ajru insyā Allāh.

Artinya:

“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insyaallah.”

Bolehkah Menggabungkan Ayyamul Bidh Rajab dengan Qadha Ramadhan?

Ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai penggabungan puasa wajib dan puasa sunah.

Sebagian ulama membolehkan seseorang menjalankan qadha pada hari Ayyamul Bidh dan mengharapkan keutamaan hari tersebut. Namun, niat utamanya harus diarahkan kepada qadha Ramadhan.

Pendapat lain menyarankan agar puasa wajib dan puasa sunah dilakukan secara terpisah agar setiap ibadah memiliki niat dan pelaksanaan sendiri.

Pilihan yang lebih aman adalah memprioritaskan qadha Ramadhan. Gunakan niat qadha:

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Aku berniat berpuasa esok hari untuk mengqadha puasa wajib bulan Ramadhan karena Allah Taala.”

Jangan hanya menggunakan niat Ayyamul Bidh jika tujuan utamanya adalah mengganti utang puasa Ramadhan.

Kesalahan Umum tentang Puasa Ayyamul Bidh Rajab

Menganggap Rajab harus disebut dalam niat

Tidak harus. Gunakan niat Ayyamul Bidh dan pahami bahwa pelaksanaannya berada pada bulan Rajab.

Menganggap puasa tersebut wajib

Ayyamul Bidh berstatus sunah. Orang yang tidak mengerjakannya tidak berdosa.

Meyakini pahala khusus Rajab tanpa dalil

Keutamaan dasarnya berasal dari puasa Ayyamul Bidh dan puasa tiga hari setiap bulan. Jangan menyebarkan klaim khusus tanpa sumber tepercaya.

Salah menentukan tanggal

Ayyamul Bidh mengikuti kalender Hijriah, bukan tanggal 13, 14, dan 15 kalender Masehi.

Menganggap harus sempurna atau tidak sama sekali

Orang yang hanya mampu berpuasa satu atau dua hari tetap boleh melakukannya.

Menganggap tidak sahur membatalkan puasa

Sahur dianjurkan, tetapi bukan syarat sah puasa.

Menggunakan niat sunah untuk qadha Ramadhan

Jika puasa bertujuan mengganti kewajiban Ramadhan, gunakan niat qadha.

Pertanyaan Umum tentang Niat Puasa Ayyamul Bidh Rajab

Apa bacaan niat puasa Ayyamul Bidh Rajab?

Bacaannya adalah Nawaitu shauma ayyāmil-bīḍi lillāhi ta‘ālā.

Apa arti bacaan tersebut?

Artinya, “Aku berniat puasa Ayyamul Bidh karena Allah Taala.”

Apakah harus menyebut bulan Rajab dalam niat?

Tidak. Niat Ayyamul Bidh sudah cukup. Bulan Rajab merupakan waktu pelaksanaannya.

Puasa Ayyamul Bidh Rajab tanggal berapa?

Puasa dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 Rajab.

Kapan niat dibaca?

Waktu terbaiknya sejak Magrib pada malam sebelumnya sampai sebelum terbit fajar.

Apakah boleh niat setelah Subuh?

Boleh untuk puasa sunah menurut pendapat Mazhab Syafi’i, selama belum melakukan pembatal puasa dan niat dilakukan sebelum Zuhur.

Apakah niat harus dilafalkan?

Tidak harus. Niat cukup hadir dalam hati.

Apakah boleh menggunakan bahasa Indonesia?

Boleh. Gunakan bahasa yang dipahami selama maksud puasanya jelas.

Apakah Ayyamul Bidh harus tiga hari?

Pelaksanaan lengkap dilakukan selama tiga hari. Namun, orang yang hanya mampu satu atau dua hari tetap boleh menjalankan puasa sunah.

Apakah tiga hari harus berturut-turut?

Ayyamul Bidh dilakukan berurutan pada tanggal 13, 14, dan 15. Puasa tiga hari bulanan juga dapat dilakukan pada hari lain berdasarkan riwayat yang lebih umum.

Apakah puasa sah tanpa sahur?

Sah. Sahur bukan syarat sah puasa.

Apakah puasa Ayyamul Bidh Rajab memiliki pahala khusus?

Keutamaannya berasal dari puasa Ayyamul Bidh dan puasa tiga hari setiap bulan. Tidak terdapat dalil sahih yang menetapkan pahala khusus dengan angka tertentu hanya karena dilakukan pada bulan Rajab.

Apakah boleh qadha Ramadhan pada Ayyamul Bidh Rajab?

Boleh memilih tanggal tersebut untuk qadha. Gunakan niat qadha Ramadhan karena qadha berstatus wajib.

Apakah wanita boleh menjalankan Ayyamul Bidh?

Boleh selama tidak sedang haid atau nifas dan kondisi tubuhnya memungkinkan.

Kesimpulan

Niat puasa Ayyamul Bidh Rajab yang umum digunakan adalah:

Nawaitu shauma ayyāmil-bīḍi lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Aku berniat puasa Ayyamul Bidh karena Allah Taala.”

Puasa Ayyamul Bidh Rajab dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 Rajab. Tanggal Masehinya berubah setiap tahun sehingga perlu diperiksa melalui kalender Hijriah yang menjadi rujukan.

Niat sebaiknya dilakukan sejak malam hari setelah Magrib sampai sebelum terbit fajar. Karena Ayyamul Bidh merupakan puasa sunah, orang yang lupa berniat pada malam hari masih dapat berniat pada pagi hari sebelum Zuhur selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.

Kata Rajab tidak harus disebutkan dalam niat. Hal yang terpenting adalah adanya kehendak dalam hati untuk menjalankan puasa Ayyamul Bidh karena Allah SWT.

Keutamaan puasa ini berasal dari anjuran berpuasa tiga hari setiap bulan dan hadis yang secara khusus menyebut tanggal 13, 14, dan 15. Pelaksanaannya pada bulan Rajab juga berlangsung dalam salah satu bulan haram, tetapi jangan menetapkan pahala khusus Rajab tanpa dalil yang kuat.

Laksanakan puasa sesuai kemampuan. Jaga kesehatan, ucapan, perilaku, dan kewajiban lain selama berpuasa.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Related Articles

Back to top button