Niat Sholat Dhuha 2 Rakaat: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya

Niat sholat Dhuha 2 rakaat merupakan kehendak dalam hati untuk mengerjakan salat sunah Dhuha sebanyak dua rakaat karena Allah SWT. Sholat Dhuha dikerjakan pada pagi hari setelah matahari terbit dan meninggi sampai sebelum masuk waktu Zuhur.
Berikut bacaan niat sholat Dhuha 2 rakaat yang umum digunakan:
Tulisan Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Tulisan Latin
Ushallī sunnatadh-dhuhā rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Aku berniat mengerjakan sholat sunah Dhuha dua rakaat karena Allah Taala.”
Bacaan tersebut dapat dilafalkan sebelum takbiratul ihram untuk membantu menghadirkan niat. Namun, inti niat tetap berada dalam hati. Seseorang yang tidak melafalkan bacaan Arab tetap dapat mengerjakan sholat Dhuha selama ia sadar bahwa dirinya akan melaksanakan salat sunah Dhuha karena Allah SWT.
Sholat Dhuha minimal dapat dikerjakan sebanyak dua rakaat. Karena itu, pelaksanaan dua rakaat sudah cukup dan sah sebagai ibadah Dhuha. Rasulullah saw. juga memberikan pesan kepada Abu Hurairah untuk menjaga dua rakaat Dhuha.
Artikel ini membahas bacaan niat sholat Dhuha 2 rakaat, waktu pelaksanaan, hukum, tata cara, pilihan surat, doa setelah salat, keutamaan, serta beberapa kesalahan yang perlu dihindari.
Bacaan Niat Sholat Dhuha 2 Rakaat
Bacaan niat berikut sering digunakan oleh umat Islam di Indonesia sebelum melaksanakan sholat Dhuha.
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatadh-dhuhā rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Terjemahan
“Aku berniat mengerjakan sholat sunah Dhuha dua rakaat karena Allah Taala.”
Terdapat beberapa variasi penulisan Latin. Kata dhuhā dapat ditulis Dhuha atau Dhuhaa. Kata rak‘ataini juga dapat ditulis rak’ataini. Perbedaan transliterasi tersebut tidak mengubah makna niat.
Niat tidak bergantung pada kesempurnaan pengucapan Latin. Seseorang dapat langsung menghadirkan maksud dalam hati, misalnya:
“Saya akan mengerjakan sholat sunah Dhuha dua rakaat karena Allah SWT.”
Kalimat sederhana tersebut sudah menunjukkan jenis salat, jumlah rakaat, dan tujuan ibadah.
Apakah Niat Sholat Dhuha Harus Dibaca?
Niat harus hadir dalam hati, tetapi lafal niat tidak harus diucapkan dengan lisan.
Muhammadiyah menjelaskan bahwa niat merupakan kehendak sadar untuk melakukan ibadah demi mencari rida Allah. Karena niat termasuk perbuatan hati, tidak terdapat tuntunan yang mewajibkan pelafalan niat sebelum salat.
Dalam penjelasan fikih Mazhab Syafi’i yang dimuat NU Online, melafalkan niat dipandang sebagai amalan yang dapat membantu hati mempersiapkan diri. Namun, niat dalam hati tetap menjadi unsur utama. Orang yang tidak mengucapkan lafal tetapi menghadirkan niat dalam hati tetap memiliki niat.
Karena itu, terdapat dua praktik yang dapat dijumpai:
Sebagian orang melafalkan bacaan ushallī sunnatadh-dhuhā rak‘ataini lillāhi ta‘ālā sebelum takbir. Mereka melakukannya untuk membantu konsentrasi.
Sebagian lainnya tidak mengucapkan lafal tertentu. Mereka langsung bertakbir setelah menghadirkan niat dalam hati.
Perbedaan tersebut tidak perlu menjadi sumber perselisihan. Hal yang paling penting ialah seseorang mengetahui salat yang akan dikerjakan dan melakukannya secara ikhlas karena Allah SWT.
Apa Itu Sholat Dhuha?
Sholat Dhuha adalah salat sunah yang dikerjakan pada waktu Dhuha. Waktunya berada pada pagi hari setelah matahari terbit dan meninggi sampai menjelang masuk waktu Zuhur.
Istilah Dhuha merujuk pada waktu pagi ketika matahari mulai naik. Sholat ini tidak dikerjakan tepat ketika matahari baru terbit karena saat matahari terbit termasuk waktu yang perlu dihindari untuk mengerjakan salat sunah tanpa sebab tertentu.
Hukum sholat Dhuha adalah sunah. Orang yang mengerjakannya mendapat pahala. Orang yang tidak mengerjakannya tidak berdosa.
Walaupun berstatus sunah, sholat Dhuha memiliki dasar yang kuat dalam hadis. Salah satunya ialah pesan Rasulullah saw. kepada Abu Hurairah untuk mengerjakan dua rakaat Dhuha. Hadis lain menjelaskan bahwa dua rakaat Dhuha mencukupi sedekah yang berkaitan dengan persendian tubuh pada pagi hari.
Kapan Waktu Sholat Dhuha?
Waktu sholat Dhuha dimulai ketika matahari sudah terbit dan meninggi. Waktunya berakhir sebelum matahari berada tepat di tengah dan sebelum masuk waktu Zuhur.
Sholat Dhuha tidak dilakukan tepat pada waktu matahari terbit. Berikan jarak sampai matahari benar-benar meninggi.
Dalam praktiknya, awal waktu Dhuha dapat diperkirakan sekitar 15 sampai 30 menit setelah waktu syuruq. Namun, perkiraan tersebut dapat berbeda menurut lokasi, musim, dan metode penyusunan jadwal salat. Cara yang lebih praktis ialah memeriksa jadwal waktu Dhuha resmi di daerah masing-masing. Muhammadiyah menjelaskan bahwa sejumlah pedoman menggunakan perkiraan 15 sampai 20 menit setelah matahari terbit, sedangkan jadwal tertentu menetapkan jarak yang lebih panjang sebagai bentuk kehati-hatian.
Batas akhirnya ialah sebelum masuk waktu Zuhur. Jangan menunda sampai matahari tepat berada di tengah langit karena terdapat waktu singkat menjelang Zuhur yang termasuk waktu larangan salat.
Waktu Terbaik Mengerjakan Sholat Dhuha
Sholat Dhuha dapat dilakukan sejak awal waktunya. Namun, waktu yang lebih utama ialah ketika matahari sudah terasa semakin panas.
Rasulullah saw. menyebut salatnya orang-orang yang kembali kepada Allah dilakukan ketika anak unta mulai merasakan panasnya matahari. Hadis ini dipahami sebagai anjuran mengerjakan Dhuha ketika pagi sudah mulai menghangat, bukan tepat setelah matahari terbit.
Jam pelaksanaannya tidak dapat disamakan untuk semua daerah. Secara umum, banyak orang mengerjakannya pada rentang pukul 08.00 sampai 10.30. Namun, patokan utamanya tetap posisi matahari dan jadwal salat setempat, bukan angka jam yang tetap.
Seseorang yang harus bekerja atau belajar tetap dapat mengerjakan Dhuha pada awal waktunya. Jangan meninggalkan salat hanya karena tidak dapat melaksanakannya pada waktu yang dianggap paling utama.
Berapa Jumlah Rakaat Sholat Dhuha?
Jumlah paling sedikit untuk sholat Dhuha ialah dua rakaat.
Terdapat riwayat yang menunjukkan pelaksanaan Dhuha sebanyak dua, empat, enam, dan delapan rakaat. Riwayat dari Aisyah juga menjelaskan bahwa Rasulullah saw. mengerjakan Dhuha empat rakaat dan menambahnya sesuai kehendak Allah.
Para ulama memiliki perincian berbeda mengenai jumlah maksimal sholat Dhuha. Sebagian kitab fikih menyebut delapan rakaat. Sebagian menyebut dua belas rakaat. Pendapat lain tidak menetapkan batas maksimal tertentu.
Perbedaan tersebut tidak memengaruhi keabsahan pelaksanaan dua rakaat. Seseorang yang hanya memiliki waktu singkat dapat mengerjakan dua rakaat.
Jika mengerjakan lebih dari dua rakaat, pelaksanaannya dapat dilakukan dua rakaat lalu salam. Setelah itu, berdiri kembali untuk dua rakaat berikutnya.
Contohnya:
- Dua rakaat dilakukan satu kali salam.
- Empat rakaat dilakukan dua rakaat, salam, kemudian dua rakaat lagi.
- Enam rakaat dilakukan dalam tiga rangkaian.
- Delapan rakaat dilakukan dalam empat rangkaian.
Mulailah dari dua rakaat. Kebiasaan yang konsisten lebih mudah dijaga daripada langsung mengambil jumlah banyak lalu berhenti melakukannya.
Tata Cara Sholat Dhuha 2 Rakaat
Tata cara sholat Dhuha 2 rakaat pada dasarnya sama dengan salat sunah dua rakaat lainnya.
1. Bersuci
Pastikan tubuh, pakaian, dan tempat salat dalam keadaan suci. Lakukan wudu jika belum memiliki wudu atau sudah mengalami hal yang membatalkannya.
2. Menutup aurat
Kenakan pakaian yang memenuhi ketentuan menutup aurat. Pakaian juga harus bersih dari najis.
3. Menghadap kiblat
Berdirilah menghadap kiblat. Orang yang tidak mampu berdiri karena sakit dapat melakukan salat sesuai kemampuan dan ketentuan yang berlaku.
4. Menghadirkan niat
Hadirkan niat sholat Dhuha 2 rakaat dalam hati. Seseorang dapat melafalkan bacaan berikut untuk membantu konsentrasi:
Ushallī sunnatadh-dhuhā rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku berniat mengerjakan sholat sunah Dhuha dua rakaat karena Allah Taala.”
5. Melakukan takbiratul ihram
Angkat tangan sesuai tata cara salat, kemudian ucapkan:
Allāhu akbar.
Takbiratul ihram menandai dimulainya salat.
6. Membaca doa iftitah
Setelah takbiratul ihram, seseorang dapat membaca doa iftitah. Bacaan ini berstatus sunah. Salat tetap sah jika tidak membacanya.
7. Membaca Surah Al-Fatihah
Baca Surah Al-Fatihah dengan tertib pada rakaat pertama.
8. Membaca surah atau ayat Al-Qur’an
Setelah Al-Fatihah, baca surah atau beberapa ayat Al-Qur’an yang dikuasai.
Sebagian panduan menganjurkan Surah Asy-Syams pada rakaat pertama dan Surah Ad-Dhuha pada rakaat kedua. Ada juga yang memilih Surah Al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surah Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Namun, surah-surah tersebut bukan syarat sah sholat Dhuha. Seseorang boleh membaca surah lain yang telah dihafalnya.
9. Rukuk
Lakukan rukuk dengan tumakninah, kemudian baca zikir rukuk sesuai tuntunan salat.
10. Iktidal
Bangkit dari rukuk dan berdiri tegak dengan tumakninah.
11. Sujud pertama
Lakukan sujud dengan tenang. Baca zikir sujud sesuai tuntunan.
12. Duduk di antara dua sujud
Bangkit dari sujud, lalu duduk dengan tumakninah dan membaca doa di antara dua sujud.
13. Sujud kedua
Lakukan sujud kedua. Setelah itu, berdiri untuk rakaat kedua.
14. Mengerjakan rakaat kedua
Pada rakaat kedua, baca Surah Al-Fatihah dan surah lain. Lanjutkan dengan rukuk, iktidal, dua kali sujud, serta duduk di antara dua sujud.
15. Membaca tasyahud akhir
Setelah sujud kedua pada rakaat kedua, duduklah untuk membaca tasyahud akhir dan selawat.
16. Mengucapkan salam
Akhiri salat dengan mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri.
Rangkaian sholat Dhuha dua rakaat selesai setelah salam. Setelah itu, seseorang dapat berzikir dan berdoa sesuai kebutuhan.
Surat Apa yang Dibaca Saat Sholat Dhuha?
Tidak ada surah pendek tertentu yang menjadi syarat sah sholat Dhuha.
Setelah membaca Al-Fatihah, seseorang boleh membaca surah apa pun yang dikuasai. Ia juga dapat membaca beberapa ayat dari surah yang panjang.
Beberapa pasangan surah yang sering digunakan ialah:
- Asy-Syams dan Ad-Dhuha.
- Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.
- Al-Falaq dan An-Nas.
- Al-‘Ashr dan Al-Kautsar.
Anjuran membaca Asy-Syams dan Ad-Dhuha terdapat dalam sejumlah kitab fikih. Namun, orang yang belum hafal kedua surah tersebut tidak perlu menunda sholat Dhuha. NU Online menjelaskan bahwa surah tersebut dapat diganti dengan surah pendek lain.
Membaca surah yang pendek juga tidak mengurangi keabsahan salat. Utamakan bacaan yang benar, tertib, dan dapat membantu kekhusyukan.
Doa Setelah Sholat Dhuha
Setelah salam, seseorang dapat membaca istigfar, zikir, selawat, dan doa sesuai kebutuhannya.
Berikut doa setelah sholat Dhuha yang dikenal luas di Indonesia:
Tulisan Arab
اَللّٰهُمَّ إِنَّ الضَّحَاءَ ضَحَاؤُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللّٰهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِيْ فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعْسَرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضَحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ، آتِنِيْ مَا أَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ
Tulisan Latin
Allāhumma innadh-dhuhā’a dhuhā’uka, wal-bahā’a bahā’uka, wal-jamāla jamāluka, wal-quwwata quwwatuka, wal-qudrata qudratuka, wal-‘ishmata ‘ishmatuka. Allāhumma in kāna rizqī fis-samā’i fa anzilhu, wa in kāna fil-ardhi fa akhrijhu, wa in kāna mu‘saran fa yassirhu, wa in kāna harāman fa thahhirhu, wa in kāna ba‘īdan fa qarribhu. Bihaqqi dhuhā’ika wa bahā’ika wa jamālika wa quwwatika wa qudratika, ātinī mā ataita ‘ibādakash-shālihīn.
Artinya
“Ya Allah, sesungguhnya waktu Dhuha adalah waktu Dhuha-Mu. Keagungan adalah keagungan-Mu. Keindahan adalah keindahan-Mu. Kekuatan adalah kekuatan-Mu. Kekuasaan adalah kekuasaan-Mu. Penjagaan adalah penjagaan-Mu.
Ya Allah, jika rezekiku berada di langit, turunkanlah. Jika berada di dalam bumi, keluarkanlah. Jika sulit, mudahkanlah. Jika tercampur dengan yang haram, sucikanlah. Jika jauh, dekatkanlah. Dengan hak waktu Dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, dan kekuasaan-Mu, berikanlah kepadaku apa yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.”
Doa tersebut tercantum dalam sejumlah kitab fikih dan banyak digunakan dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia.
Namun, tidak ditemukan hadis sahih yang menetapkan doa tersebut sebagai bacaan khusus yang diajarkan Rasulullah saw. setelah sholat Dhuha. Karena itu, doa tersebut boleh dibaca sebagai doa umum yang isinya baik, tetapi tidak perlu diyakini sebagai satu-satunya doa Dhuha atau sebagai bacaan wajib.
Seseorang juga boleh berdoa menggunakan bahasa Indonesia setelah salam. Mintalah ampunan, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, rezeki halal, perlindungan, dan kebaikan dunia serta akhirat.
Keutamaan Sholat Dhuha 2 Rakaat
Sholat Dhuha memiliki beberapa keutamaan yang dijelaskan dalam hadis.
1. Mencukupi sedekah bagi persendian tubuh
Rasulullah saw. menjelaskan bahwa setiap tasbih, tahmid, tahlil, takbir, perintah kepada kebaikan, dan pencegahan kemungkaran bernilai sedekah. Dua rakaat Dhuha dapat mencukupi kewajiban sedekah tersebut.
Hadis ini menunjukkan bahwa dua rakaat Dhuha memiliki nilai ibadah yang besar. Namun, hadis tersebut tidak berarti seseorang boleh meninggalkan sedekah harta atau kepedulian sosial.
2. Termasuk ibadah yang diwasiatkan Rasulullah
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mewasiatkan kepadanya tiga amalan. Amalan tersebut meliputi puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Dhuha, dan salat Witir sebelum tidur.
Keterangan ini menjadi dasar kuat untuk menjaga sholat Dhuha secara rutin.
3. Melatih konsistensi ibadah
Sholat Dhuha memiliki waktu yang cukup panjang. Seseorang dapat menyesuaikannya dengan kegiatan kerja, belajar, atau tanggung jawab rumah tangga.
Pelaksanaan dua rakaat biasanya tidak membutuhkan waktu lama. Kebiasaan ini dapat membantu seseorang mengingat Allah di tengah kegiatan pagi.
4. Menjadi sarana berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah
Setelah salat, seseorang dapat memohon kebutuhan kepada Allah. Namun, sholat Dhuha tidak boleh dipahami sebagai transaksi yang menjamin seseorang langsung kaya atau bebas dari seluruh masalah.
Muhammadiyah menjelaskan bahwa tidak terdapat salat khusus yang hanya ditujukan untuk meminta rezeki. Sholat Dhuha tetap merupakan ibadah sunah yang dianjurkan, dan seorang Muslim boleh memohon rezeki halal setelah melaksanakannya.
5. Menguatkan disiplin pada pagi hari
Melaksanakan Dhuha mendorong seseorang mengatur waktu, menjaga wudu, menghentikan aktivitas sejenak, dan kembali memusatkan perhatian kepada Allah.
Manfaat tersebut akan lebih kuat ketika salat disertai kerja yang jujur, usaha yang terencana, dan tanggung jawab terhadap kewajiban sehari-hari.
Apakah Sholat Dhuha Harus Dilakukan Setiap Hari?
Sholat Dhuha boleh dilakukan setiap hari. Tidak ada larangan untuk menjaganya secara rutin.
Rasulullah saw. mewasiatkan dua rakaat Dhuha kepada Abu Hurairah. Riwayat ini menunjukkan adanya anjuran untuk menjaga amalan tersebut.
Namun, sholat Dhuha tetap berstatus sunah. Seseorang tidak berdosa jika suatu hari tidak sempat mengerjakannya.
Jangan menganggap Dhuha sebagai kewajiban seperti salat Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Salat wajib harus tetap menjadi prioritas.
Apakah Sholat Dhuha Boleh Dikerjakan Berjamaah?
Sholat Dhuha pada dasarnya dapat dikerjakan sendiri. Pelaksanaan sendiri lebih umum dilakukan karena Dhuha termasuk salat sunah yang tidak disyariatkan dengan jamaah rutin seperti salat fardu.
Dalam keadaan tertentu, sholat Dhuha juga dapat dilakukan secara berjamaah. Contohnya, sekolah atau keluarga melakukan Dhuha bersama sebagai kegiatan pendidikan. Muhammadiyah menjelaskan adanya dasar yang membolehkan pelaksanaan Dhuha secara berjamaah.
Namun, jangan menganggap berjamaah sebagai syarat sah. Sholat Dhuha dua rakaat yang dikerjakan sendiri tetap sah.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Sholat Dhuha
Beberapa kesalahan berikut perlu dihindari.
Mengerjakan tepat saat matahari terbit
Tunggu sampai matahari meninggi. Periksa waktu syuruq dan jadwal Dhuha setempat.
Menganggap lafal niat wajib diucapkan
Niat berada dalam hati. Lafal Arab hanya membantu seseorang menghadirkan maksud ibadah.
Merasa dua rakaat belum cukup
Dua rakaat merupakan jumlah minimal yang memiliki dasar dalam hadis. Seseorang tidak harus mengerjakan jumlah yang banyak.
Menganggap Surah Ad-Dhuha wajib dibaca
Setelah Al-Fatihah, seseorang boleh membaca surah apa pun yang dikuasai.
Menganggap doa Dhuha tertentu sebagai bacaan wajib
Tidak ada hadis sahih yang menetapkan satu doa khusus setelah Dhuha. Seseorang boleh membaca doa yang umum digunakan atau berdoa dengan kalimat lain yang baik.
Menjadikan Dhuha sebagai jaminan kekayaan
Sholat Dhuha adalah ibadah kepada Allah. Jangan mengerjakannya hanya untuk mengejar keuntungan materi atau menganggapnya sebagai pengganti usaha.
Rajin Dhuha tetapi meninggalkan salat wajib
Salat wajib memiliki kedudukan yang lebih utama. Ibadah sunah tidak dapat menggantikan kewajiban yang sengaja ditinggalkan.
Membaca bacaan terlalu cepat
Lakukan setiap gerakan dengan tumakninah. Jangan mengejar jumlah rakaat sambil mengabaikan ketenangan dan ketertiban salat.
Pertanyaan Umum tentang Niat Sholat Dhuha 2 Rakaat
Apa bacaan niat sholat Dhuha 2 rakaat?
Bacaannya ialah Ushallī sunnatadh-dhuhā rak‘ataini lillāhi ta‘ālā. Artinya, “Aku berniat mengerjakan sholat sunah Dhuha dua rakaat karena Allah Taala.”
Apakah niat sholat Dhuha harus dibaca dengan suara?
Tidak. Niat cukup hadir dalam hati. Lafal dapat diucapkan untuk membantu konsentrasi.
Jam berapa sholat Dhuha dilakukan?
Dhuha dimulai setelah matahari terbit dan meninggi sampai sebelum Zuhur. Periksa jadwal Dhuha setempat karena waktunya berbeda menurut lokasi dan tanggal.
Apakah boleh sholat Dhuha pukul 06.00?
Jawabannya bergantung pada waktu matahari terbit di lokasi tersebut. Jangan mengerjakan Dhuha tepat saat matahari baru terbit. Tunggu sampai matahari meninggi.
Apakah sholat Dhuha dua rakaat sudah cukup?
Ya. Dua rakaat merupakan jumlah minimal sholat Dhuha dan memiliki dasar yang kuat dalam hadis.
Apakah sholat Dhuha harus empat rakaat?
Tidak. Seseorang boleh mengerjakan dua rakaat. Empat rakaat merupakan pilihan tambahan, bukan syarat.
Apakah harus membaca Surah Ad-Dhuha?
Tidak. Seseorang boleh membaca surah pendek apa pun setelah Al-Fatihah.
Apakah sholat Dhuha boleh dilakukan tanpa membaca doa khusus?
Boleh. Salat tetap sah meskipun tidak membaca doa Dhuha yang populer. Setelah salam, seseorang dapat berzikir atau berdoa dengan kalimat yang baik.
Apakah sholat Dhuha boleh dilakukan setiap hari?
Boleh. Menjaga dua rakaat Dhuha termasuk amalan yang dianjurkan.
Apakah boleh sholat Dhuha setelah Subuh?
Tidak langsung setelah salat Subuh. Tunggu sampai matahari terbit dan meninggi karena waktu setelah Subuh sampai matahari meninggi termasuk waktu yang perlu dihindari untuk salat sunah tanpa sebab.
Apakah boleh mengerjakan Dhuha menjelang Zuhur?
Boleh selama belum memasuki waktu larangan ketika matahari tepat berada di tengah langit. Agar aman, selesaikan beberapa menit sebelum waktu Zuhur.
Apakah wanita boleh mengerjakan sholat Dhuha?
Boleh. Sholat Dhuha dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang memenuhi syarat salat.
Apakah sholat Dhuha harus di masjid?
Tidak. Sholat Dhuha dapat dilakukan di rumah, masjid, sekolah, kantor, atau tempat lain yang bersih dan memenuhi ketentuan salat.
Kesimpulan
Niat sholat Dhuha 2 rakaat merupakan kehendak dalam hati untuk mengerjakan salat sunah Dhuha sebanyak dua rakaat karena Allah SWT.
Bacaan yang umum digunakan ialah:
Ushallī sunnatadh-dhuhā rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku berniat mengerjakan sholat sunah Dhuha dua rakaat karena Allah Taala.”
Lafal tersebut tidak wajib diucapkan. Inti niat berada dalam hati. Seseorang perlu menyadari bahwa salat yang akan dikerjakannya adalah sholat sunah Dhuha karena Allah SWT.
Sholat Dhuha dilakukan setelah matahari terbit dan meninggi sampai sebelum masuk waktu Zuhur. Jumlah minimalnya ialah dua rakaat. Setelah Al-Fatihah, seseorang boleh membaca surah apa pun yang dikuasai.
Setelah salam, seseorang dapat berzikir dan berdoa. Doa Dhuha yang populer boleh dibaca sebagai doa umum, tetapi tidak perlu dianggap sebagai bacaan khusus yang wajib atau sebagai doa yang pasti diajarkan Rasulullah saw.
Laksanakan sholat Dhuha dengan ikhlas dan tenang. Tetap prioritaskan salat wajib. Lengkapi ibadah dengan usaha yang jujur, sedekah, doa, serta tanggung jawab terhadap pekerjaan dan keluarga.
Wallahu a‘lam bish-shawab.


