Niat Sholat Sunnah: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Jenisnya

Niat sholat sunnah merupakan kehendak dalam hati untuk mengerjakan salat sunah tertentu karena Allah SWT. Niat membedakan satu ibadah dari ibadah lain. Niat juga membedakan ibadah dari gerakan biasa yang tidak ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Tidak ada satu bacaan niat yang digunakan untuk seluruh jenis sholat sunnah. Bacaan dapat menyesuaikan salat yang akan dikerjakan. Orang yang ingin mengerjakan sholat Dhuha menghadirkan niat Dhuha. Orang yang ingin melakukan Tahajud menghadirkan niat Tahajud.
Untuk sholat sunnah yang tidak terikat dengan waktu atau sebab tertentu, seseorang dapat menggunakan niat sholat sunnah mutlak berikut:
Bacaan Niat Sholat Sunnah 2 Rakaat
Tulisan Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Tulisan Latin
Ushallī sunnatan rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Aku berniat mengerjakan sholat sunnah dua rakaat karena Allah Taala.”
Lafal tersebut digunakan dalam sejumlah literatur fikih untuk sholat sunnah mutlak dua rakaat. Sholat sunnah mutlak merupakan salat tambahan yang tidak terikat dengan nama, waktu, atau sebab khusus. Pelaksanaannya pada dasarnya sama dengan salat dua rakaat lainnya.
Namun, niat tidak hanya berbentuk ucapan. Seseorang harus mengetahui ibadah yang akan dikerjakan dan mengarahkannya kepada Allah SWT.
Apa yang Dimaksud dengan Niat Sholat Sunnah?
Niat adalah kehendak sadar untuk melakukan suatu ibadah. Dalam sholat sunnah, seseorang perlu mengetahui bahwa salat yang akan dikerjakannya bukan salat wajib.
Hadis tentang niat menjelaskan bahwa nilai suatu amal berkaitan dengan niat orang yang mengerjakannya. Para ulama juga menempatkan niat sebagai unsur yang menentukan keabsahan salat, meskipun mereka berbeda dalam mengategorikannya sebagai rukun atau syarat.
Niat memiliki beberapa fungsi penting.
Pertama, niat membedakan sholat dari gerakan olahraga atau kebiasaan. Berdiri, membungkuk, dan duduk tidak menjadi ibadah salat tanpa adanya maksud untuk mengerjakan salat.
Kedua, niat membedakan salat wajib dari salat sunah. Seseorang harus mengetahui apakah ia sedang mengerjakan Zuhur, Dhuha, Tahajud, atau salat lainnya.
Ketiga, niat membedakan satu sholat sunnah dari sholat sunnah lain. Gerakan Dhuha dan Istikharah dapat sama-sama terdiri dari dua rakaat, tetapi maksud pelaksanaannya berbeda.
Keempat, niat mengarahkan tujuan ibadah. Seorang Muslim mengerjakan salat untuk menaati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pujian.
Apakah Niat Sholat Sunnah Harus Dilafalkan?
Niat sholat sunnah harus hadir dalam hati. Namun, terdapat perbedaan pandangan tentang pelafalan niat dengan lisan.
Muhammadiyah menjelaskan bahwa niat merupakan pekerjaan hati. Seseorang tidak wajib membaca susunan lafal tertentu sebelum takbiratul ihram. Kesadaran bahwa ia akan melakukan salat tertentu karena Allah sudah menunjukkan adanya niat.
Dalam tradisi fikih Mazhab Syafi’i, melafalkan niat sebelum takbir dipandang dapat membantu hati mempersiapkan diri. Pelafalan tersebut bukan pengganti niat dalam hati. Membaca lafal tanpa mengetahui dan memaksudkan ibadah yang akan dikerjakan tidak mencerminkan hakikat niat.
Karena itu, dua praktik berikut dapat dijumpai di tengah masyarakat:
- Seseorang membaca lafal niat sebelum takbir untuk membantu konsentrasi.
- Seseorang tidak membaca lafal tertentu dan langsung bertakbir setelah menghadirkan niat dalam hati.
Keduanya tidak perlu menjadi sumber perselisihan. Hal utama ialah adanya kehendak yang jelas untuk mengerjakan salat tertentu karena Allah SWT.
Kapan Niat Sholat Sunnah Dilakukan?
Niat dilakukan ketika seseorang hendak memulai salat. Secara praktis, tentukan jenis salat sebelum takbiratul ihram. Pertahankan kesadaran tersebut ketika mengucapkan takbir.
Contohnya, seseorang ingin mengerjakan sholat Dhuha. Sebelum mengangkat tangan, ia mengetahui bahwa dirinya akan melakukan sholat sunnah Dhuha dua rakaat. Kesadaran tersebut menyertai saat ia mengucapkan “Allahu akbar”.
Dalam penjelasan fikih Mazhab Syafi’i, niat dalam hati berkaitan erat dengan takbiratul ihram. Melafalkan niat, bagi orang yang memilih melakukannya, ditempatkan sebelum takbir sebagai sarana membantu hati.
Jangan membaca lafal secara tergesa-gesa tanpa memahami artinya. Tenangkan diri. Tentukan jenis salat, jumlah rakaat jika diperlukan, dan tujuan ibadah karena Allah SWT.
Macam-Macam Niat Sholat Sunnah
Setiap sholat sunnah memiliki tujuan dan ketentuan yang berbeda. Berikut beberapa bacaan niat yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia.
Lafal-lafal berikut berfungsi sebagai sarana membantu hati. Lafal tersebut bukan bacaan wajib yang harus diucapkan dengan susunan kata yang sama.
1. Niat Sholat Sunnah Mutlak
Sholat sunnah mutlak tidak terikat dengan sebab atau nama salat tertentu.
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatan rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Aku berniat mengerjakan sholat sunnah dua rakaat karena Allah Taala.”
Sholat ini dapat dikerjakan sebagai ibadah tambahan selama tidak berada pada waktu yang dilarang untuk salat. Tidak terdapat surat khusus yang wajib dibaca setelah Al-Fatihah.
2. Niat Sholat Dhuha 2 Rakaat
Sholat Dhuha dilakukan pada pagi hari setelah matahari terbit dan meninggi hingga sebelum waktu Zuhur.
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatadh-dhuhā rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Aku berniat mengerjakan sholat sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah Taala.”
Jumlah paling sedikit untuk Dhuha ialah dua rakaat. Seseorang dapat menambah rakaat sesuai kemampuan dengan mengikuti tata cara yang menjadi rujukannya.
3. Niat Sholat Tahajud 2 Rakaat
Sholat Tahajud merupakan salat malam yang dikerjakan setelah tidur menurut pengertian yang banyak digunakan dalam fikih.
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatat-tahajjudi rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Aku berniat mengerjakan sholat sunnah Tahajud dua rakaat karena Allah Taala.”
Kementerian Agama mencantumkan lafal tersebut dalam panduan Tahajud. Tahajud dilakukan pada malam hari, sedangkan sebagian penjelasan fikih secara khusus mengaitkannya dengan salat setelah bangun tidur.
4. Niat Sholat Witir Satu Rakaat
Witir merupakan salat malam dengan jumlah rakaat ganjil. Witir dapat menjadi penutup rangkaian salat malam.
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْوِتْرِ رَكْعَةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatal-witri rak‘atan lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Aku berniat mengerjakan sholat sunnah Witir satu rakaat karena Allah Taala.”
Witir juga dapat dikerjakan dalam tiga rakaat atau jumlah ganjil lainnya berdasarkan tata cara yang diikuti. Riwayat mengenai salat malam menjelaskan praktik salam pada setiap dua rakaat, kemudian ditutup dengan satu rakaat Witir.
5. Niat Sholat Hajat 2 Rakaat
Sholat Hajat dilakukan ketika seseorang memiliki keperluan dan ingin memohon pertolongan Allah SWT.
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatal-hājati rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Aku berniat mengerjakan sholat sunnah Hajat dua rakaat karena Allah Taala.”
Setelah salat, seseorang dapat memuji Allah, membaca selawat, dan menyampaikan kebutuhannya melalui doa. Terdapat riwayat yang menjadi dasar pelaksanaan dua rakaat ketika seseorang memiliki kebutuhan kepada Allah atau sesama manusia.
6. Niat Sholat Istikharah 2 Rakaat
Istikharah dilakukan ketika seseorang memohon pilihan terbaik kepada Allah dalam perkara yang dibolehkan.
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْاِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatal-istikhārati rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Aku berniat mengerjakan sholat sunnah Istikharah dua rakaat karena Allah Taala.”
Dasar Istikharah berasal dari hadis yang memerintahkan orang yang menghadapi suatu urusan untuk melakukan dua rakaat selain salat wajib, kemudian membaca doa Istikharah. Istikharah tidak selalu menghasilkan jawaban melalui mimpi. Seseorang tetap perlu menilai pilihan secara rasional, meminta nasihat, dan memperhatikan kemudahan atau hambatan yang muncul.
7. Niat Sholat Taubat 2 Rakaat
Sholat Taubat dikerjakan sebagai bagian dari upaya kembali kepada Allah setelah melakukan dosa.
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatat-taubati rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Aku berniat mengerjakan sholat sunnah Taubat dua rakaat karena Allah Taala.”
Sholat tersebut perlu disertai taubat yang sungguh-sungguh. Taubat mencakup penyesalan, meninggalkan dosa, memohon ampun, dan bertekad tidak mengulanginya. Apabila kesalahan berkaitan dengan hak manusia, pelakunya juga perlu mengembalikan hak atau meminta penyelesaian yang semestinya. Dasar sholat Taubat mencakup riwayat tentang orang yang bersuci, mengerjakan salat, lalu memohon ampun setelah melakukan dosa.
8. Niat Sholat Tahiyyatul Masjid
Tahiyyatul Masjid dikerjakan ketika seseorang memasuki masjid sebelum duduk.
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةَ تَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnata tahiyyatil-masjidi rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Aku berniat mengerjakan sholat sunnah Tahiyyatul Masjid dua rakaat karena Allah Taala.”
Gerakan dan bacaannya mengikuti salat dua rakaat pada umumnya. Perbedaannya terletak pada niat dan sebab pelaksanaannya, yaitu memasuki masjid.
9. Niat Sholat Sunnah Qabliyah Subuh
Qabliyah Subuh merupakan bagian dari sholat sunnah Rawatib yang dilakukan sebelum salat Subuh.
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatas-subhi rak‘ataini qabliyyatan lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Aku berniat mengerjakan sholat sunnah Qabliyah Subuh dua rakaat karena Allah Taala.”
Kata qabliyatan menunjukkan bahwa salat dilakukan sebelum salat wajib. Lafal ini juga dapat disebut sebagai niat salat sunah Fajar.
10. Niat Sholat Sunnah Ba’diyah Zuhur
Ba’diyah Zuhur dilakukan setelah salat wajib Zuhur.
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatazh-zhuhri rak‘ataini ba‘diyyatan lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Aku berniat mengerjakan sholat sunnah Ba’diyah Zuhur dua rakaat karena Allah Taala.”
Kata ba‘diyyatan berarti dilakukan sesudah salat wajib. Untuk Qabliyah Zuhur, kata tersebut diganti menjadi qabliyyatan.
Perbedaan Sholat Sunnah Mutlak dan Sholat Sunnah Tertentu
Sholat sunnah mutlak tidak terikat dengan nama, sebab, atau waktu khusus. Seseorang mengerjakannya sebagai tambahan ibadah. Niatnya cukup diarahkan kepada sholat sunnah.
Sholat sunnah tertentu terikat dengan nama, waktu, atau sebab. Contohnya:
- Dhuha terikat dengan waktu pagi.
- Rawatib terikat dengan salat wajib.
- Tahiyyatul Masjid berkaitan dengan memasuki masjid.
- Istikharah berkaitan dengan permohonan pilihan.
- Tahajud berkaitan dengan ibadah malam.
- Taubat berkaitan dengan permohonan ampun.
Untuk menghindari keraguan, tentukan nama salat yang akan dikerjakan dalam hati. Muhammadiyah menjelaskan bahwa niat berfungsi menentukan jenis ibadah, termasuk membedakan salat wajib dan sunah serta membedakan satu salat dari salat lain.
Apa Perbedaan Sholat Sunnah Muakkad dan Ghairu Muakkad?
Sholat sunnah muakkad merupakan salat sunah yang sangat ditekankan pelaksanaannya. Sholat sunnah ghairu muakkad tetap dianjurkan, tetapi tingkat penekanannya tidak sama.
Contoh yang sering dimasukkan dalam sunnah muakkad ialah dua rakaat sebelum Subuh, Witir, dan sejumlah Rawatib. Adapun klasifikasi rinci dapat berbeda dalam pembahasan mazhab.
Salah satu hadis menerangkan keutamaan menjaga 12 rakaat salat sunah dalam sehari semalam. Rangkaian yang disebutkan mencakup empat rakaat sebelum Zuhur, dua setelah Zuhur, dua setelah Magrib, dua setelah Isya, dan dua sebelum Subuh.
Status sunah tidak berarti ibadah tersebut boleh dianggap remeh. Namun, sholat sunnah tidak boleh diposisikan sebagai pengganti salat wajib.
Tata Cara Sholat Sunnah 2 Rakaat
Sebagian besar sholat sunnah dua rakaat dilakukan seperti salat dua rakaat pada umumnya.
1. Bersuci
Pastikan tubuh, pakaian, dan tempat salat suci. Lakukan wudu jika tidak berada dalam keadaan suci dari hadas.
2. Menutup aurat
Gunakan pakaian yang menutup aurat dan tidak terkena najis.
3. Menghadap kiblat
Berdirilah menghadap kiblat bagi orang yang mampu.
4. Menghadirkan niat
Tentukan sholat sunnah yang akan dilakukan. Niatkan ibadah karena Allah SWT.
5. Takbiratul ihram
Angkat tangan dan ucapkan:
Allāhu akbar.
6. Membaca Al-Fatihah
Setelah doa iftitah jika membacanya, lanjutkan dengan Surah Al-Fatihah.
7. Membaca surah atau ayat Al-Qur’an
Baca surah yang dikuasai. Tidak semua sholat sunnah memiliki surat khusus yang wajib dibaca.
8. Rukuk dan iktidal
Lakukan rukuk, kemudian bangkit untuk iktidal dengan tumakninah.
9. Dua kali sujud
Lakukan sujud pertama, duduk di antara dua sujud, lalu sujud kedua.
10. Rakaat kedua
Berdiri dan ulangi rangkaian bacaan serta gerakan.
11. Tasyahud akhir dan salam
Setelah sujud kedua pada rakaat kedua, duduk untuk membaca tasyahud akhir. Akhiri salat dengan salam.
Beberapa sholat sunnah memiliki tata cara khusus. Sholat gerhana, misalnya, memiliki susunan yang berbeda dari salat sunah dua rakaat biasa. Karena itu, pelajari panduan khusus ketika hendak menjalankan jenis salat tertentu.
Apakah Surat Tertentu Wajib Dibaca?
Surah Al-Fatihah tetap menjadi bacaan pokok dalam setiap rakaat. Setelah Al-Fatihah, seseorang dapat membaca surah atau ayat Al-Qur’an yang dikuasai.
Sebagian kitab atau panduan menganjurkan surat tertentu untuk jenis sholat sunnah tertentu. Namun, anjuran tersebut tidak selalu berarti surat itu wajib.
Dalam pembahasan Istikharah, misalnya, terdapat anjuran membaca Al-Kafirun dan Al-Ikhlas. Muhammadiyah menjelaskan bahwa penentuan kedua surah itu tidak memiliki dasar khusus yang dapat dijadikan kewajiban. Sholat tetap dapat dilakukan dengan surah lain.
Jangan menunda sholat sunnah hanya karena belum hafal surat yang panjang. Baca surat pendek dengan benar dan tenang.
Waktu yang Perlu Dihindari untuk Sholat Sunnah
Sholat sunnah yang tidak memiliki sebab khusus perlu memperhatikan waktu-waktu larangan salat.
Secara umum, waktu yang perlu dihindari mencakup setelah salat Subuh sampai matahari meninggi, ketika matahari berada di tengah langit sebelum Zuhur, dan setelah salat Asar sampai matahari terbenam. Terdapat pengecualian dan rincian untuk salat yang memiliki sebab tertentu.
Karena terdapat perincian fikih, periksa jadwal salat setempat dan ikuti penjelasan ulama yang menjadi rujukan. Jangan hanya menggunakan angka jam yang sama untuk seluruh daerah.
Kesalahan Umum tentang Niat Sholat Sunnah
Menganggap lafal adalah niat itu sendiri
Lafal hanya membantu hati. Inti niat ialah kehendak sadar untuk mengerjakan salat tertentu.
Membaca lafal tanpa mengetahui jenis salat
Seseorang perlu mengetahui apakah ia sedang mengerjakan Dhuha, Tahajud, Hajat, atau salat lainnya.
Menganggap bahasa Arab sebagai syarat sah
Niat tidak bergantung pada bahasa. Orang yang belum hafal bahasa Arab dapat menghadirkan niat menggunakan bahasa yang dipahami.
Mengulang niat karena takut salah pengucapan
Kesalahan kecil dalam transliterasi tidak otomatis merusak salat. Fokuskan hati pada jenis ibadah dan tujuan karena Allah SWT.
Memulai salat tanpa memastikan jenisnya
Jangan baru menentukan jenis salat setelah takbir. Tetapkan maksud sebelum memulai salat.
Menganggap semua sholat sunnah dilakukan dua rakaat
Banyak sholat sunnah dilakukan dua rakaat. Namun, beberapa salat memiliki jumlah atau tata cara berbeda, seperti Witir, Tarawih, dan salat gerhana.
Mendahulukan sunah tetapi meninggalkan kewajiban
Salat lima waktu tetap menjadi prioritas. Sholat sunnah berfungsi melengkapi ketaatan, bukan menggantikan kewajiban.
Pertanyaan Umum tentang Niat Sholat Sunnah
Apa bacaan niat sholat sunnah dua rakaat?
Bacaan umumnya ialah Ushallī sunnatan rak‘ataini lillāhi ta‘ālā. Artinya, “Aku berniat mengerjakan sholat sunnah dua rakaat karena Allah Taala.”
Apakah satu niat dapat digunakan untuk semua sholat sunnah?
Niat umum dapat digunakan untuk sholat sunnah mutlak. Untuk sholat yang memiliki nama atau tujuan khusus, sebaiknya tentukan jenisnya dalam hati.
Apakah niat harus dibaca dengan suara?
Tidak harus. Niat wajib hadir dalam hati. Pelafalan dapat digunakan untuk membantu konsentrasi menurut sebagian pandangan fikih.
Apakah niat boleh menggunakan bahasa Indonesia?
Boleh. Contohnya, “Saya berniat mengerjakan sholat sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah SWT.”
Kapan niat dilakukan?
Niat ditentukan ketika hendak memulai salat dan menyertai dimulainya takbiratul ihram.
Apakah salah membaca lafal membuat salat tidak sah?
Kesalahan pengucapan tidak otomatis membatalkan salat selama maksud dalam hati sudah jelas. Niat utama berada dalam hati.
Apa niat sholat sunnah malam?
Niatnya menyesuaikan jenis salat. Untuk Tahajud, seseorang berniat Tahajud. Untuk Witir, seseorang berniat Witir. Salat malam yang tidak ditentukan jenisnya dapat dilakukan sebagai sholat sunnah mutlak.
Apakah semua sholat sunnah harus dua rakaat?
Tidak. Dua rakaat merupakan bentuk yang umum. Witir dapat dilakukan dengan jumlah ganjil. Rawatib dan salat malam juga dapat dikerjakan dalam beberapa rangkaian rakaat.
Apakah sholat sunnah boleh dilakukan setiap hari?
Boleh selama jenis dan waktunya sesuai. Rawatib, Dhuha, Witir, dan beberapa salat sunah lain dapat dijaga secara rutin.
Apakah boleh sholat sunnah setelah Subuh?
Terdapat larangan umum untuk salat sunah tanpa sebab setelah Subuh sampai matahari meninggi. Beberapa salat yang memiliki sebab memiliki rincian hukum tersendiri.
Apakah sholat sunnah dapat dilakukan sambil duduk?
Orang yang mampu berdiri tetap boleh melakukan sebagian salat sunah sambil duduk, tetapi terdapat pembahasan tentang perbedaan nilai pahalanya. Orang yang memiliki keterbatasan kesehatan dapat menyesuaikan pelaksanaan dengan kemampuannya.
Mana yang lebih utama, memperbanyak rakaat atau menjaga konsistensi?
Keduanya baik. Namun, pilih jumlah yang dapat dijalankan dengan tertib dan khusyuk. Dua rakaat yang dijaga secara rutin lebih realistis bagi pemula daripada mengambil jumlah banyak lalu meninggalkannya.
Kesimpulan
Niat sholat sunnah merupakan kehendak dalam hati untuk mengerjakan salat sunah tertentu karena Allah SWT.
Untuk sholat sunnah mutlak dua rakaat, bacaan yang umum digunakan ialah:
Ushallī sunnatan rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku berniat mengerjakan sholat sunnah dua rakaat karena Allah Taala.”
Lafal tersebut tidak wajib diucapkan. Inti niat berada dalam hati. Seseorang perlu mengetahui jenis salat yang akan dilakukan dan mengarahkannya hanya kepada Allah SWT.
Untuk salat yang memiliki nama khusus, sesuaikan niatnya. Gunakan niat Dhuha untuk sholat Dhuha, niat Tahajud untuk Tahajud, niat Istikharah untuk Istikharah, dan niat Rawatib untuk salat yang mengiringi salat wajib.
Lakukan niat ketika hendak memulai salat. Jaga kesadaran tersebut saat mengucapkan takbiratul ihram. Jangan terlalu khawatir dengan panjang lafal atau kesalahan kecil dalam pengucapan.
Pelajari pula waktu dan tata cara setiap sholat sunnah. Sebagian besar mengikuti tata cara salat dua rakaat biasa, tetapi beberapa memiliki ketentuan khusus.
Utamakan salat wajib. Jadikan sholat sunnah sebagai sarana menambah ketaatan, memperbaiki kekurangan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Wallahu a‘lam bish-shawab.



