Ibadah

Niat Puasa Tarwiyah: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Waktu Membacanya

Niat puasa Tarwiyah merupakan kesengajaan dalam hati untuk menjalankan puasa sunah pada tanggal 8 Dzulhijjah karena Allah SWT. Puasa ini dilaksanakan satu hari sebelum puasa Arafah dan dua hari sebelum Hari Raya Iduladha.

Survey Berhadiah

Bacaan niat puasa Tarwiyah yang umum digunakan ialah:

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Aku berniat puasa sunah Tarwiyah karena Allah Taala.”

Niat sebaiknya dilakukan sejak malam hari. Namun, karena puasa Tarwiyah termasuk puasa sunah, orang yang lupa berniat pada malam hari masih dapat berniat pada pagi hari sebelum waktu Zuhur. Syaratnya, ia belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.

Artikel ini membahas bacaan niat puasa Tarwiyah dalam tulisan Arab, Latin, dan artinya. Pembahasan juga mencakup waktu pelaksanaan, hukum, dasar anjuran, kualitas hadis tentang keutamaan khususnya, tata cara, serta perbedaannya dengan puasa Arafah.

Daftar Isi:

Bacaan Niat Puasa Tarwiyah Arab, Latin, dan Artinya

Berikut bacaan niat puasa Tarwiyah yang banyak digunakan oleh umat Islam di Indonesia.

Niat Puasa Tarwiyah dalam Tulisan Arab

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Niat Puasa Tarwiyah Latin

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillāhi ta‘ālā.

Arti Niat Puasa Tarwiyah

“Aku berniat puasa sunah Tarwiyah karena Allah Taala.”

Lafal tersebut menjelaskan bahwa seseorang bermaksud menjalankan puasa sunah pada hari Tarwiyah. Hari Tarwiyah jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah. Lafal yang sama juga digunakan dalam panduan niat puasa Tarwiyah yang diterbitkan NU Online.

Niat sebenarnya berada di dalam hati. Lafal Arab membantu seseorang menegaskan jenis puasa yang akan dilaksanakan. Karena itu, membaca lafal tanpa memahami maksudnya tidak boleh dipisahkan dari kesadaran hati.

Seseorang juga tidak wajib memakai bahasa Arab. Ia boleh berniat menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa lain yang dipahami.

Contohnya:

“Saya berniat menjalankan puasa sunah Tarwiyah besok karena Allah SWT.”

Kalimat tersebut sudah menunjukkan jenis ibadah, waktu pelaksanaan, dan tujuan puasa.

Niat Puasa Tarwiyah pada Pagi Hari

Seseorang mungkin baru mengetahui bahwa hari tersebut merupakan tanggal 8 Dzulhijjah setelah waktu Subuh. Ia juga mungkin sudah mengetahui tanggalnya, tetapi lupa berniat pada malam hari.

Karena puasa Tarwiyah merupakan puasa sunah, ia masih dapat berniat pada pagi hari. Ketentuan ini berlaku selama ia belum makan, minum, atau melakukan hal lain yang membatalkan puasa sejak terbit fajar.

Berikut bacaan niat puasa Tarwiyah pada pagi hari.

Tulisan Arab

نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Tulisan Latin

Nawaitu shauma hādzal yaumi ‘an adā’i tarwiyata sunnatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya

“Aku berniat puasa sunah Tarwiyah pada hari ini karena Allah Taala.”

Baca juga:   Niat Mengganti Puasa Ramadhan: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya

Dalam panduan fikih Mazhab Syafi’i, niat puasa sunah pada pagi hari dapat dilakukan sampai sebelum matahari tergelincir atau sebelum masuk waktu Zuhur. Orang tersebut harus belum melakukan pembatal puasa sejak fajar.

Meskipun mendapat kelonggaran, berniat sejak malam tetap lebih baik. Niat malam membantu seseorang mempersiapkan sahur dan menjalankan puasa sejak awal hari dengan kesadaran penuh.

Apa Itu Puasa Tarwiyah?

Puasa Tarwiyah adalah puasa sunah yang dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Hari tersebut berada dalam rangkaian sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Istilah Tarwiyah juga berkaitan dengan rangkaian ibadah haji. Pada tanggal 8 Dzulhijjah, jemaah haji secara tradisional bergerak dari Makkah menuju Mina. Mereka tinggal di Mina sebelum melanjutkan perjalanan ke Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Salah satu penjelasan tentang nama Tarwiyah menghubungkannya dengan kegiatan menyiapkan dan membawa persediaan air. Dalam pelaksanaan haji, jemaah dahulu perlu membawa air sebelum bergerak menuju Mina dan Arafah. Muhammadiyah menjelaskan bahwa prosesi Tarwiyah dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah dengan keberangkatan menuju Mina dan persiapan perbekalan, terutama air.

Bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, tanggal 8 Dzulhijjah dapat diisi dengan puasa dan berbagai amal saleh lainnya.

Kapan Puasa Tarwiyah Dilaksanakan?

Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah berdasarkan kalender Hijriah.

Tanggal Masehinya berubah setiap tahun. Karena itu, umat Islam perlu memeriksa kalender Hijriah dan mengikuti penetapan awal Dzulhijjah yang menjadi rujukan masing-masing.

Penetapan tanggal 1 Dzulhijjah penting karena menentukan beberapa waktu ibadah, yaitu:

  • Puasa pada awal Dzulhijjah.
  • Puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah.
  • Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
  • Hari Raya Iduladha pada 10 Dzulhijjah.
  • Hari Tasyrik pada 11 sampai 13 Dzulhijjah.

Kementerian Agama menjelaskan bahwa penetapan awal Dzulhijjah menjadi dasar untuk menentukan waktu puasa Tarwiyah, puasa Arafah, dan Hari Raya Iduladha.

Puasa Tarwiyah dimulai sejak terbit fajar pada tanggal 8 Dzulhijjah. Puasa berakhir ketika matahari terbenam dan waktu Magrib masuk.

Kapan Niat Puasa Tarwiyah Dibaca?

Waktu terbaik untuk melakukan niat puasa Tarwiyah ialah pada malam tanggal 8 Dzulhijjah.

Waktunya dimulai setelah matahari terbenam pada tanggal 7 Dzulhijjah. Batas niat malam berakhir ketika fajar terbit pada tanggal 8 Dzulhijjah.

Niat dapat dilakukan pada beberapa waktu berikut:

  • Setelah masuk waktu Magrib.
  • Setelah salat Isya.
  • Sebelum tidur.
  • Ketika menyiapkan sahur.
  • Saat makan sahur.
  • Sebelum azan Subuh.

Seseorang tidak perlu menunggu sampai waktu sahur. Ia dapat berniat segera setelah mengetahui bahwa esok hari merupakan tanggal 8 Dzulhijjah.

Apabila lupa, ia masih dapat berniat pada pagi hari sebelum Zuhur. Ketentuan ini berlaku karena puasa Tarwiyah berstatus sunah. Ia juga belum boleh melakukan pembatal puasa sejak terbit fajar.

Apakah Niat Puasa Tarwiyah Harus Dilafalkan?

Niat puasa Tarwiyah tidak harus dilafalkan dengan suara. Niat merupakan kehendak yang terdapat dalam hati.

Melafalkan niat dapat membantu seseorang mengarahkan perhatian dan menentukan jenis ibadah. Namun, ucapan lisan bukan satu-satunya bentuk niat.

Seseorang dapat dianggap sudah berniat ketika ia mengetahui bahwa esok hari adalah 8 Dzulhijjah dan secara sadar memutuskan untuk berpuasa karena Allah SWT.

Contohnya, ia memasang alarm untuk sahur, menyiapkan makanan, lalu tidur dengan rencana menjalankan puasa Tarwiyah. Rangkaian tindakan tersebut menunjukkan adanya kesengajaan untuk berpuasa.

Kementerian Agama menjelaskan bahwa niat yang hadir dalam hati dapat dianggap sah meskipun tidak dilafalkan. Lafal membantu seseorang menguatkan kesadaran, tetapi inti niat tetap berada dalam hati.

Hukum Puasa Tarwiyah

Hukum puasa Tarwiyah adalah sunah. Orang yang mengerjakannya mendapat pahala. Orang yang tidak mengerjakannya tidak berdosa.

Anjuran puasa tanggal 8 Dzulhijjah berkaitan dengan keutamaan beramal saleh pada awal bulan Dzulhijjah. Sebuah hadis dari Ibnu Abbas menerangkan bahwa amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat dicintai Allah.

Terdapat pula riwayat dari salah seorang istri Rasulullah saw. yang menyebutkan bahwa beliau berpuasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah. Riwayat tersebut tercantum dalam Sunan Abu Dawud.

Muhammadiyah juga menganjurkan umat Islam memperbanyak puasa sunah pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Anjuran tersebut ditempatkan dalam rangka meningkatkan amal saleh selama hari-hari utama Dzulhijjah.

Dengan demikian, puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah tetap memiliki dasar sebagai bagian dari puasa sunah pada sembilan hari pertama Dzulhijjah.

Benarkah Puasa Tarwiyah Menghapus Dosa Satu Tahun?

Di tengah masyarakat, terdapat keterangan yang menyatakan bahwa puasa Tarwiyah menghapus dosa selama satu tahun. Keterangan ini perlu dijelaskan secara hati-hati.

Hadis yang secara khusus menyebutkan bahwa puasa Tarwiyah menghapus dosa satu tahun dinilai bermasalah oleh sejumlah ahli hadis. Beberapa kajian bahkan menggolongkan riwayat tersebut sebagai hadis maudhu atau palsu karena terdapat perawi yang dinilai tidak dapat dipercaya.

Baca juga:   Niat Puasa Kamis: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Waktu Membacanya

NU Online juga menjelaskan bahwa riwayat tentang penghapusan dosa satu tahun melalui puasa Tarwiyah tidak dapat digunakan sebagai hujah syariat oleh sebagian ahli hadis.

Namun, kelemahan hadis tersebut tidak otomatis membuat puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah terlarang. Dasar anjurannya dapat dikembalikan kepada dalil umum tentang keutamaan amal saleh dan puasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah.

Karena itu, penjelasan yang lebih tepat ialah:

Puasa Tarwiyah merupakan puasa sunah pada tanggal 8 Dzulhijjah. Pelaksanaannya termasuk amal saleh pada hari-hari utama Dzulhijjah. Namun, klaim pasti bahwa puasa tersebut menghapus dosa satu tahun tidak memiliki dalil khusus yang sama kuatnya dengan dalil puasa Arafah.

Sikap ini menjaga semangat beribadah tanpa menyampaikan keutamaan yang belum memiliki dasar kuat.

Keutamaan Puasa Tarwiyah

Puasa Tarwiyah memiliki keutamaan sebagai bagian dari amal saleh pada awal Dzulhijjah.

1. Beribadah pada hari-hari yang utama

Tanggal 8 Dzulhijjah termasuk dalam sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa amal saleh pada hari-hari tersebut sangat dicintai Allah.

Puasa menjadi salah satu bentuk amal saleh yang dapat dilakukan. Umat Islam juga dapat memperbanyak salat sunah, sedekah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan membantu orang lain.

2. Mengikuti anjuran puasa awal Dzulhijjah

Riwayat dalam Sunan Abu Dawud menyebutkan kebiasaan berpuasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah. Tanggal 8 Dzulhijjah termasuk dalam rangkaian tersebut.

Seseorang dapat berpuasa sejak tanggal 1 Dzulhijjah. Ia juga dapat memilih beberapa hari sesuai kemampuan, termasuk tanggal 8 Dzulhijjah.

3. Mempersiapkan diri menuju Iduladha

Puasa Tarwiyah dilakukan dua hari sebelum Iduladha. Pelaksanaannya dapat membantu seseorang meningkatkan perhatian terhadap ibadah sebelum hari raya.

Persiapan tersebut dapat disertai dengan memperbanyak takbir, mempelajari ketentuan kurban, bersedekah, dan memperbaiki hubungan dengan orang lain.

4. Melatih pengendalian diri

Seperti puasa lainnya, puasa Tarwiyah melatih seseorang menahan makan, minum, emosi, dan keinginan.

Orang yang berpuasa juga perlu menjaga ucapan dan perilaku. Tujuan tersebut tidak tercapai jika seseorang hanya menahan lapar tetapi tetap berbohong, menghina, menggunjing, atau menyakiti orang lain.

5. Meningkatkan konsistensi ibadah

Puasa Tarwiyah dapat menjadi bagian dari rangkaian ibadah pada awal Dzulhijjah. Seseorang dapat menggabungkannya dengan kebiasaan salat berjemaah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan berzikir.

Utamakan kualitas dan keikhlasan. Jangan menjalankan ibadah hanya untuk mendapatkan pengakuan sosial.

Perbedaan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah

Puasa Tarwiyah dan puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal yang berbeda.

Puasa Tarwiyah dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Puasa Arafah dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Keduanya merupakan puasa sunah. Namun, kekuatan dalil mengenai keutamaan khususnya berbeda.

Dalil khusus tentang penghapusan dosa satu tahun melalui puasa Tarwiyah dinilai tidak kuat oleh sejumlah ahli hadis. Anjuran puasanya didasarkan pada keutamaan umum beramal dan berpuasa pada awal Dzulhijjah.

Sementara itu, puasa Arafah memiliki dalil sahih yang menjelaskan harapan penghapusan dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya. Keterangan tersebut berasal dari hadis Abu Qatadah yang diriwayatkan Imam Muslim.

Perbedaan tersebut tidak perlu digunakan untuk merendahkan puasa Tarwiyah. Umat Islam tetap dapat menjalankannya sebagai bagian dari puasa awal Dzulhijjah.

Apakah Boleh Puasa Tarwiyah Saja Tanpa Puasa Arafah?

Seseorang boleh menjalankan puasa Tarwiyah saja meskipun tidak menjalankan puasa Arafah.

Puasa Tarwiyah dan Arafah tidak menjadi satu paket yang menentukan sah atau tidaknya puasa. Masing-masing dilaksanakan pada hari yang berbeda.

Orang yang hanya mampu berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah tetap dapat menjalankan puasa Tarwiyah. Orang yang tidak berpuasa Tarwiyah juga tetap dapat menjalankan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Namun, apabila mampu, seseorang dapat menjalankan keduanya. Ia juga dapat berpuasa sejak tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah sesuai kondisi tubuh dan tanggung jawabnya.

Jangan memaksakan puasa apabila terdapat risiko kesehatan yang nyata. Ibadah sunah tidak boleh mengabaikan keselamatan atau kewajiban yang lebih utama.

Tata Cara Puasa Tarwiyah

Tata cara puasa Tarwiyah sama seperti puasa sunah lainnya.

1. Menentukan tanggal pelaksanaan

Pastikan hari yang akan dipuasai merupakan tanggal 8 Dzulhijjah. Gunakan kalender Hijriah dan ikuti penetapan awal Dzulhijjah dari lembaga yang menjadi rujukan.

2. Menghadirkan niat

Lakukan niat sejak malam hari. Seseorang dapat mengucapkan lafal Arab atau cukup menghadirkan maksud dalam hati.

Jika lupa, ia dapat berniat pada pagi hari sebelum Zuhur selama belum melakukan pembatal puasa.

3. Makan sahur

Makan sahur dianjurkan. Namun, sahur bukan syarat sah puasa.

Orang yang tidak sempat sahur tetap dapat melanjutkan puasa selama sudah berniat dan mampu menjalankannya. NU Online menjelaskan bahwa tidak makan sahur tidak memengaruhi keabsahan puasa. Orang tersebut hanya kehilangan keutamaan sahur.

Baca juga:   Niat Sholat Dhuha 2 Rakaat: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya

4. Menahan diri sejak terbit fajar

Puasa dimulai ketika waktu Subuh masuk. Sejak saat itu, seseorang menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, serta hal lain yang membatalkan puasa.

5. Menjaga ucapan dan perilaku

Hindari berbohong, menggunjing, menghina, bertengkar, dan menyebarkan keburukan.

Isi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Tetap jalankan pekerjaan, pendidikan, dan tanggung jawab keluarga dengan baik.

6. Berbuka ketika Magrib

Puasa berakhir ketika matahari terbenam. Segerakan berbuka setelah waktu Magrib masuk.

Seseorang dapat berbuka dengan air dan makanan yang tersedia. Tidak ada kewajiban menyediakan hidangan tertentu.

Apakah Makan Sahur Sudah Termasuk Niat Puasa Tarwiyah?

Makan sahur dapat menunjukkan adanya niat apabila seseorang melakukannya karena ingin menjalankan puasa Tarwiyah.

Contohnya, seseorang mengetahui bahwa esok hari adalah 8 Dzulhijjah. Ia bangun dan makan sahur agar mampu menjalankan puasa. Tindakan tersebut menunjukkan kehendak untuk berpuasa.

Namun, aktivitas makan pada malam hari tidak selalu menjadi niat. Seseorang mungkin makan karena lapar tanpa mengetahui atau bermaksud menjalankan puasa Tarwiyah.

Penentunya tetap terletak pada kesadaran dan tujuan dalam hati.

Agar lebih jelas, hadirkan niat ketika makan sahur. Seseorang dapat berkata dalam hati:

“Saya berniat berpuasa Tarwiyah hari ini karena Allah SWT.”

Apakah Orang yang Sedang Berhaji Boleh Puasa Tarwiyah?

Terdapat pembahasan fikih mengenai puasa Tarwiyah bagi jemaah haji.

Sebagian ulama tetap membolehkan atau menganjurkan puasa selama tidak melemahkan jemaah. Pendapat lain mempertimbangkan keadaan fisik dan rangkaian ibadah haji yang harus dijalani.

Hari Tarwiyah merupakan waktu ketika jemaah bergerak menuju Mina dan mempersiapkan diri untuk wukuf di Arafah. Rangkaian tersebut membutuhkan tenaga yang cukup. Muhammadiyah menjelaskan bahwa pelaksanaan Tarwiyah bagi jemaah perlu mempertimbangkan keselamatan serta kelancaran ibadah haji secara keseluruhan.

Karena itu, jemaah sebaiknya mengikuti arahan pembimbing ibadah dan petugas kesehatan. Jangan memaksakan puasa apabila kondisi fisik tidak mendukung.

Bolehkah Menggabungkan Puasa Tarwiyah dengan Qadha Ramadhan?

Ulama dan lembaga keagamaan memiliki pandangan yang berbeda mengenai penggabungan puasa wajib dan puasa sunah.

Dalam penjelasan fikih yang dimuat NU Online, seseorang boleh menjalankan qadha Ramadhan pada hari Tarwiyah. Puasa qadhanya sah. Ia juga diharapkan memperoleh keutamaan puasa pada hari tersebut. Niat utama tetap menggunakan niat qadha Ramadhan karena qadha berstatus wajib.

Muhammadiyah memberikan panduan yang berbeda. Puasa wajib dan puasa sunah sebaiknya dilakukan secara terpisah karena masing-masing memiliki ketentuan dan tujuan sendiri.

Pilihan yang lebih hati-hati ialah memprioritaskan qadha Ramadhan. Gunakan niat qadha jika masih memiliki utang puasa. Setelah kewajiban selesai, jalankan puasa sunah secara terpisah.

Kesalahan yang Sering Terjadi tentang Puasa Tarwiyah

Beberapa kesalahpahaman berikut perlu dihindari.

Menganggap niat harus berbahasa Arab

Niat boleh menggunakan bahasa yang dipahami. Kehendak dalam hati menjadi unsur utama.

Menganggap puasa Tarwiyah wajib

Hukum puasa Tarwiyah adalah sunah. Orang yang tidak melakukannya tidak berdosa.

Menyampaikan keutamaan satu tahun sebagai fakta pasti

Hadis khusus yang menyebutkan penghapusan dosa satu tahun dinilai tidak kuat oleh sejumlah ahli hadis. Jangan menyampaikannya tanpa penjelasan kualitas riwayat.

Menganggap puasa Tarwiyah harus disertai puasa Arafah

Keduanya merupakan puasa pada hari yang berbeda. Seseorang dapat menjalankan salah satunya sesuai kemampuan.

Menganggap tidak sahur membuat puasa tidak sah

Sahur merupakan amalan sunah. Tidak makan sahur tidak membatalkan atau merusak keabsahan puasa.

Tidak memeriksa tanggal Hijriah

Puasa Tarwiyah ditentukan berdasarkan tanggal 8 Dzulhijjah, bukan tanggal Masehi yang tetap.

Pertanyaan Umum tentang Niat Puasa Tarwiyah

Apa bacaan niat puasa Tarwiyah?

Bacaannya ialah Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillāhi ta‘ālā. Artinya, “Aku berniat puasa sunah Tarwiyah karena Allah Taala.”

Puasa Tarwiyah tanggal berapa?

Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Tanggal Masehinya berubah setiap tahun.

Kapan niat puasa Tarwiyah dilakukan?

Niat sebaiknya dilakukan sejak malam tanggal 8 Dzulhijjah, mulai setelah Magrib sampai sebelum terbit fajar.

Apakah boleh niat setelah Subuh?

Boleh untuk puasa sunah Tarwiyah. Niat dilakukan sebelum Zuhur dan orang tersebut belum melakukan pembatal puasa sejak fajar.

Apakah niat harus dilafalkan?

Tidak harus. Niat berada dalam hati. Lafal lisan berfungsi membantu menegaskan maksud ibadah.

Apakah boleh membaca niat dalam bahasa Indonesia?

Boleh. Gunakan bahasa yang dipahami selama maksud untuk menjalankan puasa Tarwiyah sudah jelas.

Apakah puasa Tarwiyah wajib?

Tidak. Hukum puasa Tarwiyah adalah sunah.

Apakah puasa Tarwiyah menghapus dosa satu tahun?

Terdapat riwayat yang menyebutkan hal tersebut. Namun, riwayat itu dinilai bermasalah dan tidak dapat dijadikan dasar kuat oleh sejumlah ahli hadis. Dasar anjuran puasa Tarwiyah berasal dari keutamaan umum amal saleh dan puasa pada awal Dzulhijjah.

Apakah boleh puasa Tarwiyah tanpa puasa Arafah?

Boleh. Puasa Tarwiyah dan Arafah dapat dilakukan secara terpisah.

Apakah boleh puasa Arafah tanpa puasa Tarwiyah?

Boleh. Tidak menjalankan puasa Tarwiyah tidak menghalangi seseorang untuk menjalankan puasa Arafah.

Apakah sah puasa Tarwiyah tanpa sahur?

Sah. Sahur bukan syarat sah puasa.

Apakah wanita boleh menjalankan puasa Tarwiyah?

Boleh selama tidak sedang haid atau nifas dan kondisi tubuhnya memungkinkan.

Apakah ibu hamil boleh menjalankan puasa Tarwiyah?

Ibu hamil perlu mempertimbangkan kondisi dirinya dan janin. Konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan yang memahami kondisi kehamilan sebelum berpuasa.

Apakah puasa Tarwiyah dapat digabung dengan qadha Ramadhan?

Terdapat perbedaan pendapat. Penjelasan fikih NU membolehkan qadha dilakukan pada hari Tarwiyah. Muhammadiyah menyarankan agar puasa wajib dan sunah dilakukan secara terpisah. Utamakan qadha apabila masih memiliki utang puasa.

Kesimpulan

Niat puasa Tarwiyah merupakan kehendak dalam hati untuk menjalankan puasa sunah pada tanggal 8 Dzulhijjah karena Allah SWT.

Bacaan niatnya ialah:

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillāhi ta‘ālā.

Artinya:

“Aku berniat puasa sunah Tarwiyah karena Allah Taala.”

Niat sebaiknya dilakukan sejak malam hari setelah Magrib sampai sebelum terbit fajar. Jika lupa, seseorang masih dapat berniat pada pagi hari sebelum Zuhur. Syaratnya, ia belum melakukan pembatal puasa sejak fajar.

Puasa Tarwiyah berstatus sunah. Dasar anjurannya berkaitan dengan keutamaan amal saleh dan puasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah.

Hadis yang secara khusus menyatakan bahwa puasa Tarwiyah menghapus dosa satu tahun dinilai tidak kuat oleh sejumlah ahli hadis. Karena itu, jangan menjadikan klaim tersebut sebagai satu-satunya dasar pelaksanaan puasa.

Laksanakan puasa dengan niat yang ikhlas. Jaga ucapan dan perilaku. Lengkapi dengan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan amal saleh lainnya.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Related Articles

Back to top button