Saturday, September 29, 2018

Guru Kita Selamanya Akan Tetap Menjadi Guru Kita

"Kita ini beruntung.. " kata Habib Umar al-Muthohhar waktu itu. "Guru-guru kita tidak memberikan kita ujian yg berat seperti ujian yg diberikan ulama-ulama terdahulu, karena mereka tahu hati kita lemah, iman kita lemah tidak seperti santri-santri zaman dahulu.. "

Beliau lalu menceritakan kisah Habib Ali Bin Abdullah Assegaf ketika 'jauh-jauh' datang dari Hadhramaut ke Malibar India untuk berguru kepada Habib Ali Bin Abdullah Alaydrus. Sesampainya ia di depan rumah gurunya dan mengucapkan salam, Sang guru yg waktu itu sedang makan dilantai dua menyuruh Khodamnya melihat siapa yg ada didepan pintu.

"Seorang pencari ilmu dari Seiwun Hadhramaut Habib, namanya Ali Assegaf " Jawab Khodamnya.

Mendengar itu Habib Ali Alaydrus mengambil air bekas cuci tangannya dan memberikannya kepada khodamnya.
"Ambil air ini.. Dan siramkan kepadanya.. "

Dengan segera si khodam mengambil air kobokan itu dan menyiramkannya ke tubuh Habib Ali Assegaf dari lantai dua..
"Mbyuurrr... "

Setengah jam kemudian Habib Ali Alaydrus memanggil khodamnya lagi.

"Coba lihat.. Apakah orang itu masih ada dibawah.. "

Khodamnya melihat kebawah dan ternyata pemuda itu masih berdiri mematung di depan pintu. Malahan ia masih menunduk penuh ta'zhim.

"Masih Ya Habib.. Dia masih ada di bawah.. " jawab khodamnya

"Sekarang.. Bukakan pintu untuknya.." Ujar Habib Ali Alaydrus. Berkat ketulusan dan keteguhannya itu, kelak Habib Ali Assegaf menjadi salah satu murid kesayangan Habib Ali Alyadrus.

Sebagian ulama terdahulu memang mempunyai cara tersendiri dalam menguji keteguhan dan ketulusan santri-santrinya. Tentunya cara-cara 'aneh' yang mereka tempuh dalam mendidik tak lepas dari maksud dan tujuan yg mulia, yg sering kali tak bisa kita ketahui dengan pemahaman dan cara berpikir kita.

Syaikhona KH. Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan merupakan salah satu dari ulama yg mendidik murid-muridnya dengan cara-cara unik itu.

Dulu ia mempunyai santri asal Magelang, Manab namanya. Selama liburan - karena termasuk dari golongan yg tak mampu dan tak pernah mendapat kiriman dari orang tuanya - ia bekerja di sawah sekitar pesantren untuk mengumpulkan beberapa ikat padi yg akan ia gunakan sebagai 'sangu' selama mengaji kepada Syaikhona Kholil. Sesampainya di Demangan, kebetulan Syaikhona Kholil waktu itu sedang duduk di luar rumahnya, melihat santrinya datang membawa dua karung beras, beliau berkata :

"Kebetulan ayam-ayamku masih belum makan.."

Manab lekas memahami keinginan Kiyainya, tanpa menunggu lama ia menaburkan beras dua karung itu di kandang ayam-ayam Syaikhona Kholil. Hasil jerih payahnya berbulan-bulan ludes pada waktu itu juga. Sebagai ganti beras itu, Syaikhona Kholil menyuruhnya untuk mengumpulkan daun mengkudu sebagai makanan sehari-harinya. Santri bernama Manab itu kelak akan menjadi ulama besar di zamannya, mendirikan pesantren yg memiliki ribuan santri hingga saat ini, ia yg kelak lebih dikenal dengan KH. Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Lain lagi dengan yg dialami oleh santri bernama Muhammadun. Sehari sebelum santri asal Lasem itu datang ke Bangkalan, Syaikhona Kholil menyuruh murid-muridnya untuk membuat 'kurungan' ayam. Keesokan harinya Syaikhona Kholil menyambut kedatangan Muhammadun lalu memerintahkannya untuk menjebloskan diri ke dalam kurung ayam itu. Sam'an wa tho'atan ia laksanakan perintah sang guru tanpa protes sedikitpun. Kelak ialah yg akan menjadi salah satu Jago tanah Jawa, menjadi Kiyai Alim nan Kharismatik yg dikenal dengan Mbah Kiyai Maksum Lasem.

Santri asal Tambak Beras Jombang bernama Abdul Wahhab malah memiliki pengalaman yg seru dan menegangkan. Ketika baru sampai di gerbang pondok Syaikhona Kholil, ia disambut oleh Puluhan Santri yg membawa clurit dan pedang dan hendak menyerangnya. Tentu saja ia lari terbirit-birit. Ternyata Syaikhona Kholil sudah mewanti-wanti para muridnya untuk bersiaga di hari itu, kata beliau akan ada 'Macan' yg hendak memasuki area pondok. Dan sialnya, Santri baru bernama Abdul Wahhab itu yg Syaikhona Kholil tuduh sebagai 'Macan' hingga ia menjadi target serbuan para santri.

Keesokan harinya ia kembali lagi, masih juga disambut dengan clurit dan pedang. Ia belum menyerah, ia mencoba lagi di malam ketiga, dan dimalam itu ia berhasil memasuki area ponpes. Karena kelelahan ia tertidur di Musholla Pesantren, Syaikhona Kholil lalu datang dan membangunkannya. Di malam itu ia resmi diterima menjadi Santri Kiyai Kholil. Di masa depan, ialah yg akan menjadi Macan NU. Pengasuh Pesantren Tambak Beras yg kita kenal sebagai Kiyai Wahhab Hasbullah.

"Orang Yang mencari ilmu itu," dawuh al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, "Ibaratkan orang yg membawa wadah untuk meminta madu. Jika ia membawa wadah yg kotor, apakah sang pemilik madu akan menuangkan madunya untuknya.. ? Tentunya ia akan menyuruhnya untuk membersihkan wadahnya terlebih dahulu.. "

Na'am, ilmu itu layaknya madu, sedangkan Hati kita adalah wadah untuk 'menampaninya' (menerimanya). Semakin besar rasa ta'zhim dan keyakinan kita terhadap guru kita, semakin besar pula wadah yg kita miliki. Dan tentunya 'barokah' yg kita dapatkan akan lebih banyak dan melimpah. Seringkali para Ulama mengulang-ulangi ucapan ini :

"Al Madad 'Ala Qadril Masyhad"

Pemberian dan pertolongan Allah - yg akan kita peroleh lewat guru kita - itu tergantung rasa ta'zhim, keyakinan dan cara pandang kita terhadapnya..

Semoga - sampai kapanpun- kita tetap bisa menjaga adab dan ta'zhim terhadap para guru kita, para ulama kita, selalu mendapat keridhoan mereka bukan malah menjadi orang yg tak tahu adab dan balas budi, bagaikan kacang yg melupakan kulitnya, karena sejatinya tidak ada guru yg mantan. Guru kita selamanya akan tetap menjadi guru kita..

Kang Santri

pesantren.or.id

bersama santri memberdayakan masyarakat

0 comments:

Post a Comment