Dikisahkan belasan tahun lalu seorang santri yang sedang nyantri di Rubat Tarim yaman  yang saat itu diasuh oleh Habib Abdulloh asy Syatiri, dia dikenal sangat alim hingga mampu menghafal kitab Tuhfatul Muhtaj 8 jilid di luar kepala, siapa tak kenal dia??

Semua tau bahwa ia sangat alim bahkan diprediksi sebagai calon ulama besar...
Para guru pun kagum dengan keilmuannya, ketika itu ada masalah yg masih iskal blom di temukan jawabannya pasti murid ini bisa menylesaikan masalah itu dg detail dan terperinci .

Nah, Suatu hari di saat Habib Abdulloh mengisi pengajian rutin santri, tiba tiba habib bertanya tentang santri yang sangat terkenal alim itu. "Kemana si fulan???"

Semua santri bingung menjawab pertanyaan sang guru.

Ternyata santri yang dimaksud tidak ada di pondok melainkan keluar berniat mengisi pengajian di kota Mukalla tanpa izin.

Akhirnya Habib Abdulloh Asy Syatiri yg sangat terkenal Allamah dan Waliyulloh berkata :"Baiklah orangnya boleh keluar tanpa izin, tapi ilmunya tetap di sini!!!".

Di kota Mukalla, santri yang sudah terkenal Alim tersebut sudah di nanti nantikan para pecinta ilmu untuk mengisi pengajian di masjid Omar Mukalla.

Singkat cerita si santri ini pun maju ke depan dan mulai membuka ceramahnya dengan salam dan muqaddimah pendek.

Allohu akbar !!! Ternyata, setelah membaca amma ba'du si alim ini tak mampu berkata sama sekali, bahkan kitab paling kecil sekelas Safinah pun tak mampu ia ingat sedikitpun....

Sontak dia tertunduk dan menangis.. para hadirin pun heran, "Ada apa ini???",, akhirnya Salah satu Ulama kota mukalla pun menghapirinya dan bertanya; "Saudara mengapa begini??? Apa yang saudara lakukan sebelumnya?".

Dia menjawab : "Aku keluar tanpa izin habib dari pesantren."

Dia terus menangis , dan beberapa orang menyarankan agar ia meminta maaf kepada Habib..

Parahnya dia dengan sombong tidak mau meminta maaf!!.

Kesombongannya ini membuat semua orang menjauhinya, dan tidak ada satupun yang perduli padanya, bahkan hidupnya setelah itu sangat miskin dan terlunta lunta dengan menjual daging ikan kering.
Bukan cuman kesombongannya ini yg menjadilan ilmunya tidak manfaat tp tidak takdzim/mulyakan guru gurunya bahkan memanggil gurunya dg nama gurunya langsung bukannya: ya saiyidi, atau ya saikhona, atu ya habibana.

Dan di saat ia meninggal, ia mati dalam keadaan miskin bahkan kain kafannya pun tak mampu dibeli dan akhirnya diberi oleh seseorang.

"Santri Yang Manfaat... Bukanlah Yang Paling Banyak Hafalannya, Yang Paling Bagus Penjelasan Kitabnya, Yang Selalu Juara Kelas..... Tapi Santri Yang Bermanfaat Adalah Yang Paling Hormat dan Taat Kepada Gurunya... dan Menganggap Dirinya Bukan Siapa-siapa Di Hadapan Gurunya..."

Semga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah di atas..

SANTRI DURHAKA KEPADA GURU
Al faqir abdullah umar dapet cerita ini dari guru kita sayidi syeh mohammad bin ali baatiyah bliu dapat dr guru nya al habib  abdullah sodiq al habsyi . Habib abdullah ini salah stu murid a al habib abdullah as satiri ..
Dan tak ada satupun murid2 al habib abdullah as satiri yg tak jadi ulamak dan orang2 yg bermanfaat bagi umat kecuali murid satu ini ..


Facebook Google twitter
Family: SANTRI DURHAKA KEPADA GURU

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat