Rasulullah saw bersabda : " Ilmu itu ada dua macam :
1. Ilmu yang berada didalam hati (Ilmu yang menancap didalam hati dan membawa kemanfaatan ilmu).
2. Ilmu yang hanya berada di lisan (Ilmu yang akan ditanyakan pertanggungjawabannya terhadap manusia) ".

Dengan dalil hadits diatas dapat ditarik garis besar, bahwasanya ilmu yang berada dalam hati, mampu menghasilkan ilmu yang bermanfaat dan menghasilkan amal yang istiqomah.

Sedangkan, ilmu yang hanya berada pada lisan, hanya membuat orang yang memilikinya tambah banyak berbicara tanpa ada amalnya.

Begitu juga, ilmu yang berada dalam hati akan menembus hati seseorang, sehingga orang tersebut dapat kembali kejalan yang diridhoi allah swt dengan cara bertobat kepada-Nya.

Sedangkan, ilmu yang hanya berada di lisan, hanya membuat orang terkesan, namun hanya sedikit yang masuk kedalam hati. Bahkan, yang lebih parah, sama sekali tidak masuk kedalam hati seseorang.

Ilmu yang memiliki hikmah, pasti lebih membuat seseorang mendahulukan amal daripada omongan belaka.

Selanjutnya, imam malik RA berkata : " Ilmu itu tidak untuk diceritakan saja, melainkan ilmu adalah cahaya yang diberikan kepada kita oleh allah swt dan diletakkan didalam hati kita, sebagai landasan dalam beramal ".

Dari keterangan tersebut dapat kita ambil pelajaran, bahwasanya ilmu yang masuk kedalam hati, akan menerangi pemiliknya dan membawanya kedalam jalan menuju surganya allah swt. Sedangkan, ilmu yang berada dalam lisan saja, hanya menjadi api baginya, yang mampu membakar ia kapan saja, karena ia hanya senang berkata tentang ilmu, tetapi ia sendiri malas untuk mengamalkan ilmunya.

Dan imam idrus bin umar al-habasyi RA juga berkata : " Ilmu yang jatuh kedalam hati, maka ilmu tersebut adalah cahaya. Sedangkan, ilmu yang masuk kedalam diri seseorang, tetapi tidak masuk kedalam hatinya, maka ilmu tersebut adalah api baginya ".

Keterangan diatas selaras dengan nasihat imam malik RA.

Dan juga, diterangkan dari seorang yang arif billah, imam abdullah bin muhsin Al-Athos RA berkata : " Ilmu itu ada dua macam :
1. Ilmu yang menjadikan seseorang takut kepada allah swt dan menjadi cahaya baginya, yakni ilmu yang menambah seseorang lebih mengenal dirinya sendiri, sehingga ia lebih tawadhu kepada allah swt, sehingga ia tidak mudah sombong dan merasa ia tidak mengetahui ilmu kecuali hanya sedikit saja.
2. Ilmu yang hanya berada di lisan saja, yakni ilmu yang menambah seseorang tersebut untuk sombong dan menjadikannya ingin diakui sebagai orang yang alim (pintar dan hebat),  Sehingga ia menyangka dirinya sendiri sebagai seorang yang tiada tandingannya (karena ia sama sekali tidak mengenal dirinya sendiri, apalagi mengenal siapa yang telah memberikan ilmu kepadanya) ".

Dari kalam hikmah diatas, dapat kita ketahui, bahwasanya walaupun seseorang sudah alim, namun ia tidak mengenali dirinya sendiri, sehingga ia sombong, maka ilmunya termasuk ilmu yang tidak bermanfaat.

Lain halnya dengan orang yang arif billah, maka ia sangat mengenali dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan mendapatkan keluasan ilmu tanpa hidayah dari allah swt, sehingga ia pun tawadhu dan takut untuk sombong, inilah tanda orang yang telah mendapatkan kemanfaatan ilmu.

Point 1.
Jika ilmu kita bertambah, lalu kita menjadi lebih mengoreksi diri sendiri dan tambah tawadhu, maka pada hakikatnya kita telah mendapatkan kemanfaatan ilmu.

Point 2.
Jika kita bertambah ilmunya, sedangkan kita tambah sombong, ujub, riya, juga lebih sering mengoreksi orang lain daripada diri sendiri, maka ilmu kita tergolong ilmu yang tidak bermanfaat.

Point 3.
Sikap kita dalam mengaji maupun mengajarkan ilmu, agar mendapatkan kemanfaatannya adalah lebih menjaga hati dan terus istiqomah untuk berakhlak mulia, agar ilmu kita bisa sampai kehati, bukan hanya dilisan saja. Agar ilmu kita tidak sia-sia.

Semoga bermanfaat dan semoga guru kita selalu diberikan kesehatan sehingga dapat selalu memberikan siraman rohani kepada kita semua.

Ahad, 25 muharram 1439 H atau 15 oktober 2017 M.

LAJNAH PONPES NURUL HIKMAH AS-SALAFIYAH PUTRA

Kalam Hikmah Romo KH. Ikhsan Nur mengutip dari kitab : " Manhajus Sawi " ...................... !
.
الفصل الأول
في بيان العلم النافع
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : العلم علمان : فعلم في القلب ، فذلك العلم النافع ، وعلم على اللسان ، فذلك حجة الله على ابن آدم ......................... الخ وعلم اللسان ، كلما ازداد الإنسان منه ازداد دعوى ، وظن أنه لا يوجد في العلم مثله . إنتهى .


Facebook Google twitter
Family: ILMU YANG BERMANFAAT

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat