Ada sahabat Rasul Saw yang bernama Abu Dujanah. Ia mempunyai kebiasaan tergesa-gesa meninggalkan Jama'ah seusai Shalat Subuh, tidak seperti halnya sahabat yang lain yang menunggu hingga Rasulullah Berdoa.

Suatu ketika Rasulullah Saw menegurnya, “Wahai Abu Dujanah, tidakkah kau memiliki permintaan kepada Allah?” Kenapa engkau tidak menunggu sampai aku Berdoa?  Abu Dujanah menjawab, "Ya Rasulullah, tentu aku mempunyai permintaan kepada Allah".

Rasul Saw berkata :
"Lalu mengapa engkau segera pulang?”.

Abu Dujanah pun menjelaskan udzurnya :
“Bukannya aku tidak mau mendengarkan doamu ya Rasul...Namun aku ini memiliki anak kecil di rumah yang sedang lapar, tidak satupun makanan ada di rumahku, bahkan tidak jarang kami seharian menahan lapar".

"Sedangkan aku memiliki tetangga yang memiliki pohon kurma yang batangnya condong ke rumahku, maka jika malam angin bertiup kencang, pasti buah-buahnya jatuh ke halaman rumahku".

"Pernah suatu hari usai Shalat Subuh, aku menunggu sampai mendengarkan engkau membacakan Doa, namun yang terjadi ketika aku sampai di rumah, aku lihat anakku sedang memungut kurma tetanggaku yang jatuh di halaman rumahku, dan ia memakannya karena lapar".

"Maka segera aku keluarkan kurma itu dari mulutnya. Aku tidak mau anakku memakan yang bukan haknya. Aku katakan kepadanya, “Nak, jangan kau permalukan ayahmu di akhirat nanti, lantaran perbuatanmu ini...Ayah lebih suka engkau mati dalam keadaan lapar, daripada engkau hidup dengan memakan barang haram.”

Mendengar kisah Abu Dujanah, Rasulullah Saw dan para sahabat meneteskan air mata. Sambil menangis, Rasullah memberikan penawaran kepada si pemilik pohon kurma dengan imbalan pohon-pohon kurma di Surga.

Kontan saja si pemilik yang munafik itu menolaknya. Segera Sayyidina  Abu Bakar melakukan penawaran berikutnya :
“Hai fulan, ku beli pohon kormamu dengan 10 pohon kurma terbaikku di kota Madinah.”

Mendengar penawaran yang menguntungkan itu, si Munafik menyetujuinya. Sayyidina Abu Bakar berhasil membelinya, lalu memberikannya kepada Abu Dujanah. 

Begitulah orang-orang yang bertakwa akan senantiasa mendapatkan jalan keluar dan penolong di setiap kesulitannya.

Sumber: Kitab ‘Ianatuth-Thalibin Bab Luqatah, Juz 3, hal : 239.

"NAK, JANGAN KAU PERMALUKAN AYAHMU DI AKHIRAT NANTI, LANTARAN PERBUATANMU INI...AYAH LEBIH SENANG KAU MATI DALAM KEADAAN LAPAR, DARIPADA ENGKAU HIDUP DENGAN MEMAKAN BARANG YANG HARAM!".


Facebook Google twitter
Family: Abu Dujanah

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat