BANDINGKAN DENGAN CARA USTADZ-USTADZ ZAMAN SEKARANG.

1. Imam al-Syafii (w. 204 H.) sering ditanya lalu tidak menjawab. Lalu ada yang berkata: "Mengapa Anda tida menjawab?" Imam al-Syafii berkata: "Aku tidak akan menjawabnya sampai aku mengetahui apakah lebih baik menjawab atau tidak menjawab."

2. Imam Ahmad bin Hambal (w. 241H.) sering mengatakan "laa adri (tidak tahu)" padahal tentang masalah yang beliau mengetahui banyak qaul-qaul (pendapat-pendapat) para ulama tentangnya.

3. Imam Malik (w. 179 H.) ditanya 50 masalah maka tidak ada satupun yang dijawab. Dan pernah pula ditanya 48 masalah, lalu 32 pertanyaan darinya dijawab dengan "tidak tahu." Padahal yang bertanya itu datang dari jauh dan ingin mendapatkan jawaban.

4. Imam Malik (w. 179 H.) berkata: "Jika hendak menjawab suatu pertanyaan maka hendaknya, sebelum menjawab, menghadapkan diri ke surga dan neraka seraya memikirkan bagaimana caranya selamat darinya lalu menjawab."

5. Imam Malik (w. 179 H.) pernah ditanya tentang suatu masalah lalu beliau menjawab: "Tidak tahu." Lalu ada yang bertanya: "Mengapa tidak tahu padahal masalah itu ringan?" Beliau tampak marah seraya berkata: "Tidak ada yang ringan dalam ilmu."

6. Imam Al-Syafii (w. 204 H.) berkata: "Aku belum pernah melihat ulama yang paling mumpuni padanya perangkat fatwa melebihi Ibn Uyainah tapi dia paling diam dari berfatwa."

7. Imam Abu Hanifah (w. 150 H.) berkata: "Seandainya tidak ada hukuman dari Allah karena menyianyiakan ilmu maka aku tidak akan pernah berfatwa. Bagi yang bertanya ada kesenangan dan dosanya bagiku."

8. Imam Abdurrahman bin Abu Laila  (w. 83 H.) sempat bertemu dengan 120 sahabat Anshor yang apabila salah seorang dari mereka ditanya tentang hukum (Agama) maka melemparkannya ke yang lain, dan temannya melemparkannya lagi ke yang lain, dan terus saling melemparkan sampai kepada sahabat Anshor yang ke 120, dan pertanyaan pun kembali ke yang pertama. Padahal meraka adalah para ulama yang berguru langsung kepada Rasulullah Saw.

9. Para sahabat Rasulullah Saw, tidak semata-mata salah seorang dari mereka ditanya satu hadits kecuali menginginkan  agar dicukupkan dengan jawaban yang lain. Demikian pula ketika ditanya tentang hukum, mereka selalu berharap yang lain menjawabnnya.

10. Ibnu Abbas (w. 68 H.) berkata: "Barangsiapa yang menjawab setiap masalah yang ditanyakan kepadanya maka dia orang gila."

11. Imam al-Sya'bi (w. 100 H.), al-Hasan al-Bashri (w. 110 H.), dan Abu Hashin (w. 132 H.). Mereka adalah tabiin. Pernah berkata kepada orang-orang yang dengan mudahnya menjawab pertanyaan yang ditanyakan: "Kalian memberikan jawaban tentang suatu masalah yang apabila ditanyakan kepada Umar bin Khaththab maka akan mengumpulkan Ahli Badar dulu untuk menjawabnya."

12. Atho bin Al-Saib (w. 136 H.). Beliau adalah seorang tabiin. Pernah berkata: "Aku bertemu banyak sahabat Rasulullah Saw yang apabila salah seorang dari mereka ditanya tentang suatau masalah Agama maka dia berkata sambil bergetar."

13. Ibn Abbas (w. 68 H.) dan Muhammad bin 'Ajlan (w. 148 H.) berkata: "Apabila seorang ulama melupakan kalimat "tidak tahu" maka musibah telah menimpanya."

14. Imam Sufyan bin 'Uyainah (w. 198 H.) dan Sahnun (w. 854 M.) berkata: "Orang yang paling berani mengeluarkan jawaban (fatwa) adalah orang yang paling sedikit ilmunya."

Referensi kitab "Adabul Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti" karangan Imam al-Nawawi (w. 676 H.)


Facebook Google twitter
Family: CARA PARA ULAMA SALAF MENJAWAB PERTANYAAN MASALAH AGAMA

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat