Beberapa hari lalu, saya mendapat screenshot berisi pesan KH. Maimoen Zubair. Kiai kharismatik dari Rembang, Jawa Tengah. Pesan tertulis itu dibacakan pada acara peringatan Maulid Nabi oleh Pengurus Pusat GP Anshor di hadapan Presiden Jokowi. Isinya tentang  pandangan beliau terhadap kegaduhan yang terjadi akhir2 ini. 

Setelah membaca pesan yang ditulis dalam bahasa Arab ini, saya mendapat beberapa kesan. Pertama, KH. Maimoen Zubair itu ulama nasionalis. Cinta bangsa dan negaranya. Berharap agar bangsanya terus maju (irtiqa) dan jauh dr perpecahan. Kedua, KH. Maimoen Zubair adalah ulama yang alim, arif, dan senantiasa menghendaki yang terbaik utk umat. Pesan beliau tulis dalam bahasa Arab. Tidak ditulis dalam bahasa Indonesia kemungkinan agar tidak gampang dipahami oleh orang awam. Yang latah dan gampang percaya pada berita hoax. Lalu memviralkannya sedemikian rupa. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa paham. Beliau menjelaskan tentang perkara-prinsipil dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara sesuai tujuan Islam. Hanya orang pernah belajar ilmu ushul fikih secara mendalam yang dapat mengerti tentang falsafah shariah Islam ini. Ketiga, beliau mengkontekstualisasikan falsafah shariah Islam (maqasid shariah) ke dalam kehidupan bernegara kita. Ini menunjukkan sifat kenegarawanan beliau. Beliau bukan saja kiai, tapi juga negarawan (statesmen). Seorang pemikir tradisional-progresif. Keempat, beliau mewanti-wanti agar waspada terhadap gerakan yg mengajak kpd pendirian negara khilafah, upaya menciptakan kekacauan dan teror. Beliau menyebut mereka sbg orang-orang yang tidak mengerti pada ideologi perjuangan para sahabat (ma'rifat tamassuk ma alaih al-awwalun minal muhajirin wal anshar wa man ittaba'uhum). Berikut ini beberapa point yang bisa dirangkum dr tulisan beliau. 

Menurut beliau, umat manusia selalu dipenuhi dinamika perubahan. Beliau percaya bahwa kehidupan selalu menuju arah yang lebih maju dan berperadaban. Ini ditunjukkan oleh perang dunia kedua, tragedi kemanusiaan global, yang berbuah kemerdekaan bangsa Indonesia yang patut disyukuri. 

Bangsa Indonesia lalu membentuk negara yang tidak melupakan Tuhan (hablum minallah), seraya mengakui keragaman realitas sosial (hablum minan nas). Mempraktekkan prinsip hablum minallah tidak dapat dilepaskan dari praktik hablum minan nas. Bahkan menjadi ketentuan yang tak terpisahkan. Salah satu bentuk implementasi hablum minan nas adalah mewujudkan keadilan. KH. Maimoen Zubair menghubungkan keadilan dgn maqasid shariah atau lima unsur penting dlm kehidupan yang menjadi pertimbangan dalam semua (perumusan) hukum shariah. Yaitu (1) keselamatan jiwa, (2) penghargaan terhadap akal fikiran, (3) penghargaan terhadap kehendak manusia utk diakui dan bersosialisasi, (4) kebutuhan materil, dan (5) meneruskan keturunan. 

KH. Maimoen Zubair memuji Allah karena menjadikan bangsa Indonesia sbg bangsa pertama yg berhasil memerdekakan diri dr penjajahan. Dan mendirikan negara di atas mabadi' khamsah dlm kehidupan bernegara. Mabadi khamsah berarti lima prinsip atau lebih dikenal dengan pancasila. Yaitu ketuhanan (al-uluhiyyah), kemanusiaan (al-insaniyyah), persatuan bangsa Indonesia (wahdah sha'b indunisi), demokrasi kebangsaan (al dimuqrathiyyah al-sha'biyyah), keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia (al-adalah al-ijtima'iyyah lil ummah al-indunsiah bi asriha).

KH. Maimoen Zubair bersyukur kpd Allah karena bangsa Indonesia masih diberi konsistensi menegakkan prinsip2 kebangsaan tadi sampai hari ini. Namun beliau menyampaikan keprihatinan melihat kondisi sosial belakangan. Beliau menyebut kondisi saat ini dgn al-huznus syadid (keprihatinan yg mendalam). Yaitu munculnya perbedaan pendapat sesama anak bangsa. Beliau menyesalkan ada sebagian orang yang sedang berupaya menciptakan kegaduhan (thawa'if tubashir bi ihdath al-fitan). Mereka adalah orang-orang yang mengaku membela Islam dan umat Islam. Lebih disesalkan lagi karena mereka berkolaborasi dengan kaum teroris-ekstrimis (al-irhabiyyun al-mutatharrif). Beliau mengakhiri keprihatinan nya dengan membaca istirja', inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. 

Dlm pengamatan KH. Maimoen Zubair, ternyata mereka punya agenda yang lebih luas yaitu mendirikan khilafah islamiyyah, padahal mereka adalah orang-orang yang mengenal apa yang menjadi pegangan generasi muslim pertama. Kaum muhajirin dan anshor. KH. Maimoen Zubair mengakhiri pesannya dengan memuji Allah SWT yang telah menunjukkan yang benar. Bahwa yang benar adalah yang sesuai dengan tuntunan bapak para nabi, Nabi Ibrahim AS. Seperti yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. 
على العاقل ان يكون عارفا بزمانه مستقبلا في شأنه عارفا بربه 
Orang pintar harus paham kondisi zaman. Melakukan yang terbaik utknya. Seraya mengingat Tuhan. 

Lalu, KH. Maimoen Zubair menutup pesan nya dengan mendokan bangsa Indonesia. Semoga beliau senantiasa dijaga Allah, dipanjangkan umurnya, dan memberi kita suluh untuk mnjalani kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.




Facebook Google twitter
Family: Makna Kebangsaan KH. Maimoen Zubair

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat