Sekarang kita masuk ke Bangkalan, tepatnya di pesantren asuhan Syekhona KH. Mohamad Kholil. Sang kyai yang dikenal wali dan punya banyak karomah itu mempunyai Khodam ( pelayan ) yang mengurusi kitab - kitab beliau. Mulai dari membawakannya bila menyertai sang kyai, membersihkannya, dan meletakkan kembali di tempat semula. Suatu hari, ketika sedang membersihkan kitab, tidak sengaja khodam itu melihat dihalaman kitab ada tulisan do'a AKEKAT.
"Wah, ini doa kesukaan saya," gumamnya dalam hati.
Akekat adalah bahasa madura yang artinya berkelahi. Khodam itu segera menghafalkan doa yang hanya beberapa kalimat itu. Setelah merasa sudah hafal, dia mengembalikan kitab itu ke tempat semula.
Suatu hari, khodam itu terlibat perselisihan dengan ketua pengurus pondok. Khodam yang tubuhnya kerempeng itu biasanya selalu mengalah. Tetapi kali ini dia tidak mau mengalah. Dia menantang ketua pengurus pondok yang tubuhnya lebih besar dan kekar. Beberapa saat khodam itu komat kamit membaca doa sambil menyingsingkan lengan bajunya.
"Maju kamu!" Tantang ketua pengurus sambil mengenakan kopiahnya.
"Oh, jelas," kata khodam dengan posisi siap tempur.
Perkelahianpun dimulai. Santri - santri berdatangan menyaksikan tontonan gratis itu. Dari awal, khodam terus mendesak mundur ketua pengurus. Sorak sorai bergemuruh. Ketua pengurus kaget dan terheran - heran dengan kekuatan serangan khodam yang dari kemaren di remehkannya. Akhirnya, ketua pengurus itu keok dan menyerah, padahal dia sebelumnya dikenal memiliki banyak ragam ilmu kanuragan.
Pada hari - hari berikutnya, banyak santri yang menjajal kekuatan khodam itu. Namun, setiap berkelahi, khodam selalu menang.
Ketenaran khodam itu akhirnya terdengar oleh Syeikhona kyai Kholil. mungkin karna penasaran, beliau memanggil khodamnya itu.
"Khodam, kesini kamu!" Panggil kyai.
"Ya kyai," khodam bergegas menghampiri.
"Saya dengar kamu selalu menang berkelahi," selidik Kyai Kholil penasaran.
"Barokahnya kitab kyai," jawab khodam merendah.
"Mengapa begitu?" Tanya kyai Kholil.
"Saya mendapatkan doa berkelahi dari kitab kyai," terang khodam.
"Coba saya mau lihat," kata kyai Kholil semakin ingin tau.
"Ini kyai," jawab khodam sambil menunjukkan halaman kitab "referensi"-nya.
"Oh, ini do'a Aqiqah, bukan Akeket," kata Kyai Kholil.
Mendengar keterangan kyainya, khodam itu tersipu malu.
Khodam itu salah baca, tapi kok manjur ?

Sumber dari :
SANTRI BANGKALAN YANG SAKTI MANDRAGUNA( Syeikhona Kholil Kemalingan Ilmu)
Facebook Google twitter
Family: Doa Akekat

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat