Dalam pemikiran umum, sekolah formal dengan semua perangkat gelar akademiknya selalu dihubungkan dengan modernitas, keilmuan, kemajuan, peningkatan status sosial, status ekonomi, dan status budaya bersifat hegemonic. Orang yang lulus sekolah tinggi dengan gelar akademik hingga doctor diasumsikan lebih tinggi status sosial, ekonomi dan budayanya dibanding yang sekolah rendah. Mereka yang bersekolah dianggap sebagai orang yang berpendidikan. Bahkan sekolah dikaitkan dengan nasib baik orang seorang.

Mereka yang tidak sekolah dianggap sebagai calon manusia bodoh, buta huruf, tidak berilmu pengetahuan, tidak bisa mendapat lapangan kerja, pikiran picik, miskin, sengsara. Benarkah pandangan ini?

Yang lebih celaka, tanpa pengembangan sekolah yg baik, sebuah bangsa akan terbelakang, ketinggalan, bodoh, primitif, buta huruf, tidak beradab, sengsara. Benarkah pandangan ini?

*Kunci postulat: Sistem Persekolahan yg diberikan kepada inlander terjajah dimulai tahun 1901 -- saat Etische Politiek -- diterapkan. Apakah bangsa Indonesia sebelum tahun 1901 bodoh, buta huruf, primitif, miskin, tidak beradab, tidak berbudaya, sengsara?

Dalam ilmu pendidikan, pendidikan dibagi atas 3 bagian dgn masing-2 cakupan yang digarapnya: Pendidikan Formal (10%); Pendidikan Non Formal (15%); Pendidikan Informal (75%). Tetapi akibat hegemoni doktrin persekolahan, pendidikan diidentikkan dengan sekolah. mereka yang tidak sekolah dianggap tidak berpendidikan. Bahkan belajar diidentikkan dengan bersekolah, sehingga saat pemerintah menetapkan Wajib belajar dimaknai Wajib Bersekolah. Pandangan ini kacau dan payah dalam ranah ilmu Pendidikan, yang memandang "belajar" berbeda jauh maknanya dgn "bersekolah".

Akibat hegemoni doktrin itu, orang menganggap pendidikan adalah sekolah formal, sehingga aspek non formal dan informal diabaikan. Sekolah dinilai sebagai satu-satunya sistem pendidikan. Sekolah identik dgn perbaikan nasib orang seorang. Sistem pendidikan asli Nusantara seperti Padhepokan, Asrama, Dukuh, Peguron, Pesantren dianggap sebagai sistem primitif yg wajib ditinggalkan. Begitulah, bangsa ini menganggap sekolah sebagai "agama" baru, Yang wajib dianut dan diikuti semua warganegara. Parameter tentang baik dan tidaknya sekolah, adalah Negara-negara Barat kulit putih..

Sekarang ini, Bangsa Indonesia sudah 115 tahun menerapkan sistem persekolahan yg menghasilkan jutaan sarjana S-1, S-2, S-3, dan guru besar. Yang wajib kita tanyakan, apakah karya besar yg sudah dihasilkan oleh para lulusan sekolah itu terhadap kemajuan keilmuan, peradaban dan kebudayaan bangsanya? Karya ilmu pengetahuan apa yg dihasilkan lulusan sekolah? Karya teknologi apa yg mereka hasilkan? adakah mereka Yang kampiun sekolah pernah menjadi ilmuwan Yang membangun bidang ilmu dan teknologi baru dgn epistemologi baru yang independen?

Sistem kalender Surya Sangkala, Candra Sangkala, Pranatamangsa sudah dibuat leluhur bangsa ini pada awal abad pertama Masehi; Aksara ditemukan abad 7 Masehi (sebelumnya pinjam aksara Pallawa, Dewanagari); KUHP Kalingga dicipta dan diterapkan paruh awal abad 6 Masehi; Sistem politik kekuasaan, sistem ekonomi keuangan, sistem perniagaan, sistem budaya, sistem pendidikan, sistem hukum, sistem kepercayaan, yg mewujud dalam bentuk negara-negara besar seperti Sriwijaya, Mataram, Kahuripan, Singhasari, Majapahit,, Pasai, Aceh, Demak, Gowa, Bone, Buton, Ternate, Tidore, dll adalah bukti keunggulan leluhur bangsa ini Yang dididik di Padhepokan, Asrama, Dukuh, Peguron, Pesantren.
Hasil peradaban dan kebudayaan Yang disumbangkan lulusan sekolah dgn gelar-2 hebatb yg membuat bulu kuduk merinding itu?

Dan simaklah cerita berikut ini :

Sudah sebulan ini Prof Dr Ir Gaguk Longori, M.Sc, hidup dalam kegamangan dan ketidak-pastian yang membuatnya makan tidak enak dan tidur tidak nyenyak. Pasalnya, bulan lalu ia sudah tidak lagi menjadi guru besar di IOSCU (International of Stupidity Camp University) karena sudah memasuki purna tugas alias pensiun. Sebagai laki-laki tua yang tidak lagi dibutuhkan ilmu dan pengabdiannya, Prof Dr Ir Gaguk Longori,M.Sc, dipersilahkan meninggalkan kampus sekaligus rumah dinas yang selama tiga dasawarsa ditinggalinya bersama anak-anak dan isteri.

Didampingi isteri yang sudah tua dan seekor kucing, tinggal di rumah kontrakan yang terletak di dekat pesantren, membuat Prof Dr Ir Gaguk Longori,M.Sc, tertekan dan kehilangan kepercayaan diri. Pasalnya, KH Kasan Sobari, sesepuh pesantren yang usianya 15 tahun lebih tua darinya, yang sudah pensiun dari kedudukan sebagai pengasuh pesantren, tidak kehilangan apa pun dari segala hal yang dimilikinya: kepercayaan, kehormatan, kemuliaan, kekeramatan, dan keberkahan yang justru semakin meningkat dibanding sebelum pensiun. Hampir setiap hari, para santri didikan KH Kasan Sobari yang sudah berhasil menjadi warga masyarakat, ganti-berganti mengunjungi gurunya tersebut untuk meminta barokah dan doa serta keridhoan atas ilmu yang telah mereka peroleh. Tentu saja, para santri yang bersikap memuliakan gurunya itu datang tidak dengan tangan kosong, melainkan membawa aneka macam buah tangan mulai buah-buahan, roti, sembako, rokok, alat-alat elektronik, dan dana berupa ringgit, real, dolar, euro, poundsterling, rupiah. Bahkan warga masyarakat sekitar pesantren, silih berganti mendatangi KH Kasan Sobari untuk minta petunjuk, arahan, pemecahan masalah atas kasus rumah tangga sampai meminta doa bagi anak-anak mereka yang sakit.

KH Kasan Sobari, lelaki yang usianya jauh lebih tua itu, diam-diam telah menyadarkan Prof Dr Ir Gaguk Longori, M.Sc, tentang makna hakiki ilmu – alim – ulama – Al-‘Alim. KH Kasan Sobari, yang belajar di pesantren salafiyyah dan tidak memiliki gelar formal akademik apa pun kecuali gelar kyayi yang diberikan masyarakat karena selain faktor nasab juga karena kapasitas keilmuannya, terbukti tidak pernah memasuki masa pensiun dalam makna yang sebenarnya. Maksudnya, meski sebagai kyayi sepuh sudah tidak lagi menjadi pengasuh yang mengelola proses belajar-mengajar di pesantren – karena kedudukan pengasuh itu sudah digantikan puteranya, KH Sholahuddin – dalam kenyataan justru kedudukannya sebagai “kyayi sepuh” lebih tinggi dari pengasuh. Begitulah, dalam keseharian menghabiskan masa tua sebagai “kyayi sepuh”, KH Kasan Sobari menjadi “kiblat ruhani” yang dimuliakan dan dihormati santri-santrinya dan masyarakat.

Semakin mengamati dengan cermat kehidupan sehari-hari KH Kasan Sobari yang penuh diliputi tawa dan canda, doa dan harapan, masalah dan jalan keluar, barokah dan karomah, manfaat dan khidmat, problema agama dan fatwa, telah membuat Prof Dr Ir Gaguk Longori, M.Sc, merasa rendah diri dan tidak berharga sebagai manusia tua bangka yang dibuang di tengah tumpukan “sampah kehidupan”. Hari-hari setelah masa pensiun, dilewati Prof Dr Ir Gaguk Longori,M.Sc, dalam kesendirian yang sunyi di mana sampai sebulan tinggal di rumah kontrakan, tidak ada satu pun mantan mahasiswanya yang datang menjenguk apalagi meminta barokah doa. Para tetangga yang orang kampung, tidak ada satu pun yang memanggilnya dengan sebutan “Professor” atau “prof”. Para tetangga rata-rata memanggilnya dengan sebutan “Mbah Gaguk”, atau “Pakde Gaguk” dan bahkan ada yang kurang ajar menyebutnya dengan panggilan “Wak Gaguk”.

Sebagai seorang guru besar yang puluhan tahun mengajar, Prof Dr Ir Gaguk Longori, M.Sc, dalam kesendiriannya sangat rindu ilmu pengetahuannya di bidang geologi dibutuhkan oleh masyarakat sebagaimana angan-angannya bahwa setelah pensiun ia akan banyak berbuat bagi masyarakat dengan ilmu yang dimilikinya. Namun kenyataan menunjuk, masyarakat tidak sedikit pun membutuhkan ilmu geologi yang dimilikinya. Bahkan mahasiswa-mahasiswa jurusan geologi, tidak ada satu pun yang datang mengunjunginya untuk bertanya ini dan itu terkait geologi. Itu sebabnya, setelah sebulan pensiun dan melewati hari-hari dalam kesendirian yang sunyi, senyap, sepi, lengang, dan hampa, Prof Dr Ir Gaguk Longori,M.Sc, sadar bahwa ilmu geologi yang telah dipelajarinya sejak tahap geografi selama berbelas tahun sejak SD, SLTP, SLTA, S-1, S-2, S-3 itu ternyata hanya berguna sewaktu ia bekerja sebagai pengajar di perguruan tinggi. Kini, setelah pensiun, ilmu geologi yang ia kuasai dari telapak kaki sampai ubun-ubun itu tidak berguna lagi. Gelar Insinyur, Master of Science, Doctor, dan Professor yang disandangnya juga sudah tidak berguna manfaat apa pun setelah masa pensiun datang.

Dalam galau, Prof Dr Ir Gaguk Longori, M.Sc, menghadap Guru Sufi di pesantren sufi untuk menanyakan berbagai hal terkait nasib malang yang dialaminya sebagai pensiunan professor yang hidup seperti orang buangan tak dibutuhkan oleh siapa pun. Namun Guru Sufi tidak menjawab langsung semua pertanyaan yang dilontarkan Prof Dr Ir Gaguk Longori, M.Sc, sebaliknya Guru Sufi malah menceritakan para professor yang pernah dikenalnya, yang rata-rata setelah pensiun meninggal dunia dalam hitungan tahun dan bahkan bulan. “Professor Munandar Koplaki, tujuh bulan setelah pensiun kena stroke. Dirawat sebulan di rumah sakit, nyawanya tak bisa ditahan, pindah ke alam baka,” kata Guru Sufi.

“Tapi KH Kasan Sobari, sudah belasan tahun pensiun, ilmunya tetap dibutuhkan dan bahkan lebih dimuliakan dibanding sebelum pensiun, Pak Kyai,” kata Prof Dr Ir Gaguk Longori, M.Sc.

“Lha, ilmu Kang Kasan Sobari itu ilmu agama, pak professor,” sahut Guru Sufi menegaskan, “Karena itu ilmunya mengandung unsur istiqomah, manfaat, barokah, dan karomah. Ibarat pusaka makin tua makin bertuah, begitulah para alim yang memiliki ilmu dari al-‘Aliim semakin tua semakin berkaromah dan berbarokah, sehingga didatangi oleh banyak orang yang ngalap barokah.”
“Lha ilmu saya?” tanya Prof Dr Ir Gaguk Longori,M.Sc ingin tahu.
“Ilmu geologi yang panjenengan dalami adalah ilmu duniawi,” kata Guru Sufi menerangkan, “Niat awal panjenengan menuntut ilmu itu adalah semata-mata untuk hal-hal duniawi seperti gelar akademik, fasilitas pekerjaan, kedudukan, jabatan, status sosial, pangkat, gaji, dan dana pensiun yang dinikmati pada hari tua, yang itu semua adalah angan-angan relatif sebagaimana relatifnya semua hal yang bersifat duniawi. Maksudnya, gelar akademik panjenengan hanya sebatas masa kerja aktif panjenengan. Sewaktu panjenengan pensiun, panjenengan kembali ke masyarakat dengan aturan tidak boleh lagi menggunakan gelar akademik untuk urusan RT, RW, arisan kampung, tahlilan, yasinan, slametan, sinoman, sedekah desa, siskamling, belanja ke pasar, main sepak bola, beli obat di apotik, dan lain-lain. Itu sebabnya, selama tinggal di rumah kontrakan yang baru, para tetangga tidak ada yang memanggil panjenengan dengan sebutan bapak professor atau sekedar prof.”

“Jadi ilmu saya tidak manfaat, begitukah Pak Kyayi?”
“Ilmu panjenengan bermanfaat untuk diri panjenengan sendiri. Fakta membuktikan, panjenengan mendapat manfaat ilmu sewaktu panjenengan bekerja sebagai pengajar yang “menjual” ilmu dengan imbalan upah yang setimpal sebagai guru besar. Ketika panjenengan pensiun, praktis ilmu panjenengan sudah tidak bermanfaat bagi panjenengan pribadi apalagi untuk masyarakat luas,” kata Guru Sufi tegas.
“Aduh bagaimana ini?” Prof Dr Ir Gaguk Longori,M.Sc, garuk-garuk kepala bingung, “Betapa tidak bergunanya ilmu dan gelar akademik yang saya peroleh dengan susah payah selama berpuluh tahun jika akhirnya tidak memberi manfaat apa pun, bahkan terhadap diri sendiri. Bagaimana ini, ternyata ilmu dan gelar akademik hanya sebatas masa kerja.”
“Bahkan saat panjenengan nanti wafat, batu nisan panjenengan tidak akan ditulisi gelar akademik professor doctor insinyur dan master of science,” kata Guru Sufi sambil ketawa.
“Apa Kyayi Kasan Sobari kalau meninggal batu nisannya akan ditulisi gelar Kyayi Haji?”
“Tergantung ahli waris yang hidup. Jika perlu ditulis KH, maka akan ditulis gelar KH di depan nama beliau,” kata Guru sufi,”Bahkan sewaktu keluarga, murid-murid dan masyarakat mendoakan seorang kyayi dalam tahlilan, yasinan, istighotsah sudah menjadi kelaziman gelar ke-kyayi-annya disebut di depan namanya.”
Prof Dr Ir Gaguk Longori,M.Sc termangu-mangu. Ia benar-benar merasakan seperti manusia terbuang yang tidak saja tidak dibutuhkan masyarakat melainkan tidak dibutuhkan oleh institusi-institusi terkait dengan bidang ilmu yang selama ini ditekuninya. Ia sadar dalam kesendirian sebagai manusia terbuang, dirinya tidak cukup kuat untuk menghadapi kenyataan tidak dihormati dan tidak pula dimuliakan orang seperti saat ia menjadi guru besar. Itu sebabnya, dalam kesepian tanpa penghargaan dan penghormatan, ia sadar bahwa usianya tidak akan panjang untuk bisa bertahan hidup karena diintai oleh penyakit kejiwaan yang disebut Post Power Syndrome.

Pesantren Menggugat
Disarikan dari note Facebook:
Pemikiran Pasca Hegemony XV:
Menggugat Eksistensi Gelar Akademik
Oleh: K Ng H Agus Sunyoto
Facebook Google twitter
Family: Pesantren Menggugat

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat