Haru, bangga dan penuh rasa yang tak bisa terungkapkan. Gemuruh memang, namun tak sedikit pun mengganggu jiwa. Andai orang lain yang merasakannya, niscaya akan terasa jika dirasakan dengan ketulusan hati. Aneh, mungkin. Tapi ini nyata, walaupun tak rasional.
Pagi itu benar-benar membuncah. Rasa hati tak menentu, tak karuan, entah, aku tak tahu bagaimana menyebut atau menamai keadaan itu. Sedih bukan, senang mungkin tapi kalau dilihat seperti orang mau menangis. Dadaku semakin sesak, bukan karena penyakit asma. Bernafaspun tak stabil akibat rengekan yang gila dasyatnya.
Kulihat ke arah samping, ada seorang laki-laki paruh baya duduk termenung, seperti meratapi sesuatu. Mimik wajahnya sendu, penuh perenungan. Entah, apa yang direnungkan. Tak lama kemudian, tiba-tiba leleh juga air matanya. Tenyata ia pun mungkin merasakan sepertiku. Iya, mungkin. Tapi kenapa? Ada apa? Hanya ketenangan dan kenyamanan hati yang bisa kurasa, itu jawabannya.
Pandangan mata kuarahkan lebih jauh, tepatnya di kerumunan para wanita. Dari ribuan wanita, hanya satu wanita yang membuatku tertarik untuk melihat lebih jelas. Ialah, wanita yang duduk di sebelah kiri tiang penyangga mesjid. Sebatas pandanganku, dia sangat khusyuk memutar tasbehnya. Matanya terpejam, penuh penghayatan. Kupandangi lebih tajam bibirnya yang sedikit menawan, ternyata jika tidak salah mulutnya mengucap kata:”Ya Allah... Ya Allah... Ya Allah...” Kata itu diulang-ulang berkali-kali. Dia sama sekali tidak terusik dengan tingkah laku seorang anak kecil yang tidak bisa diam, berlarian, dan sesekali mendekapnya dari belakang. Namun, wanita itu tetap diam dan tak terganggu sedikitpun. Seolah-olah ada hal lain yang sedang dituju dalam perjalanan spiritualnya saat itu.
Setelah itu, kulihatkan pandanganku las ke arah Bapak tua yang duduk di shof depanku. Bajunya sedikit lusuh, putih tapi agak kotor. Pecinya juga tidak serapi kopyah yang dipakai orang-orang disekitarnya. Kepalanya dan tangannya menengadah, sambil memejamkan mata. Seolah ada yang sedang dia pinta, atau mungkin dia sedang meminta pengampunan. Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang dilakukannya.
Aku termenung lagi, dalam hatiku masih bertanya, mungkin ini cara orang-orang untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya. Aku semakin tak kuasa menahan, bukan karena aku adalah teman iblis yang mungkin saja tak tahan dengan acara taqorrub itu. Aku hanya tak ingin menangis, dan merasakan lebih dalam akan penghayatan jiwa di mata Tuhan.
Aku keluar dari mesjid melanjutkan perjalanan kembali melewati satu-persatu dari ribuan orang yang duduk menghadap ke arah kiblat yang sedang beribadah. Tak bisa kuartikan dengan yang pemahaman lain, karena tak ada yang tepat selain itu.
Sampai di pertigaan alun-alun, kulihat anak muda, berpakaian ala punk jalanan. Dengan suara merdunya ia bernyanyi sambil memainkan gitar keroncongnya. Penampilannya buruk, tapi ada sisi lain yang menarik perhatianku. Kudengarkan lebih jelas tentang lirik lagu yang dinyanyikannya. Dia bernyanyi:
“Bila adzan subuh, aku kesiangan,
Bila adzan dhuhur, aku kerepotan,
Bila adzan asyar, aku diperjalanan,
Bila adzan maghrib, aku kecapekan,
Bila adzan isya’, aku ketiduran,
Tuhan, mohon ampuni hamba-Mu...”
Mungkin semua orang hanya berpikiran anak itu hanya bernyanyi. Dia hanya seorang pengamen yang menggantungkan hidupnya dengan menyanyi dijalanan. Hanya itu, mungkin. Tapi bagiku lirik lagunya adalah pengingat. Ingat akan kelupaan diri, sekaligus ingatkan kewajiban umat islam untuk menjaga salatnya. Dalam hati, kurasa pengamen seumuran anak SMA itu memang secara tulus mengatakan apa yang sedang terjadi dengannya. Benar-benar munafik sekali, sehingga pantas dia harus meminta ampun melalui lagu karangannya sendiri itu lewat bernyanyi. Semoga saja diampuni, terbesit hatiku berdoa untuknya.
Akhirnya, kuputuskan untuk sejenak mendengarkan nyanyian pengamen itu. Aku ingin mendengar bait demi bait lagu religinya yang mungkin akan menjadi bahan inspirasi dan motivasi bagiku, sambil duduk di halte bus.
“Mau kemana mas? Saya lihat dari mesjid ya?” Tanya salah seorang penunggu bus datang.
“Iya, Pak, Bapak juga darisana?”
“Enggak Mas, saya pulang kerja...”
“Bapak enggak ikut acara di Masjid?”
“Enggak Mas, Nabi tidak pernah mengajarkan kegiatan semacam itu, itu bid’ah”
“Oh... Begitu ya Pak, tapi apa acara itu bukan acara yang baik?”
“Ya, tetap saja Mas, kalau Nabi nggak mengajarkan itu yang nggak boleh dilakukan...” Kata Sang Bapak ngotot.
“Maaf Pak, andai Nabi masih ada, dan ada disini saat ini, apa Bapak yakin, Nabi akan marah-marah melihat umatnya melakukan acara di masjid itu?”
Sang Bapak berpenampilan rapi dengan jenggot tebal itu terdiam. Aku takut dia merasa tersinggung karena omonganku. Syukurlah, tak lama kemudian bus datang, ia berpamitan lalu pergi bersama bus itu.  
Bagiku, mungkin semua orang yang di mesjid itu punya tujuan sama, untuk berdoa bersama, mendekatkan diri kepada Tuhan di saat matahari terbenam di akhir tahun. Bertafakkur bersama, mengkoreksi semua perbuatan yang sudah dilakukan di tahun lalu, agar kehidupan di tahun yang akan datang bisa lebih baik lagi.
Kulangkahkan kaki ini lebih jauh lagi. Tak jauh dari mesjid itu ternyata ada sebuah gereja umat katolik yang kebetulan buka pada hari itu. Dari luar kudengar lantunan-lantunan nyanyian syair tentang pujian kepada Tuhan. Serempak, teratur dan berirama. Lantuan nyanyian orang-orang yang berada didalamnya membuatku berpikir akan sebuah keteguhan dalam menghadap Sang Tuhan. Semakin lama, membuatku tertarik untuk melihat kedalamnya. Kuberanikan diri dan akhirnya aku bisa melihat dari luar pintu gerbang gereja.
Semua yang hadir berdiri menundukkan kepala, bersama-sama menyanyikan lagu-lagu kerohanian gereja yang mungkin sudah diajarkan sebelumnya. Pemandangan ini membuat diriku berpikiran ketika berada di mesjid sebelumnya. Dimana semua itu kuartikan sebagai keteguhan, kekhusyukan, kesungguhan, dan kebaktian kepada Sang Tuhan.
Lelah, mungkin sedikit istirahat bisa membuatku nyaman kembali. Kucari warung angkringan terdekat yang bisa sejenak melapaskan lelahku. Kulihat sebelah gereja ada angkringan sederhana yang nyaman untuk duduk beristirahat. Beristirahat dengan pelayanan yang ramah dari pemilik angkringan, sambil kembali mendengarkan nyanyian-nyanyian gereja, adalah satu hal yang sedikit bisa melupakan penat dan lelahku.
“Dek kog keluar, nggak ikut nyanyi?”
Tiba-tiba salah seorang pengunjung angkringan yang bekerja sebagai satpam gereja bertanya kepadaku. Mungkin dia menganggapku salah seorang pemeluk agama kristen. Wajar, mungkin karena dia melihatku keluar dari gereja.
“Saya muslim Pak...”
“Lha tadi kog ikut-ikut masuk ke gereja Dek, mau apa?”
“Ya Cuma sekedar ingin tahu saja Pak...”
“Oh... Tak kira pengikut juga, lucu ya Dek, cara ibadahnya orang kristen, masa ibadah kog nyanyi-nyanyi begitu...”
“Ya, mungkin itu cara terbaik mereka untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Pak...”
Aku hanya tersenyum simpul menanggapi satpam gereja itu. Tak kusangka, selama ini dia bekerja sebagai satpam di gereja, namun masih saja bersikap kurang bersahabat dengan orang kristen. Andai salah seorang pengikut kristen tahu tentang apa yang dikatakan oleh satpam itu, bukan tak mungkin lagi dia akan dikeluarkan dari pekerjaannya. Mungkin dia tak sadar kalau omongannya mengandung pelecehan bagi agama kristen. Karena, ajaran agama jelas berbeda, siapapun tidak bisa dipaksakan untuk meyakini salah satunya, dan agama sendiri telah mengajarkan untuk tidak merendahkan orang lain. “Ahh... Sudahlah”.

Perjalanan yang cukup melelahkan. Terdapat banyak pelajaran yang bisa kupetik di hari ini. Tuhan memberiku sedikit gambaran kehidupan nyata yang ada di dunia ini. Gambaran orang-orang yang merasa menjadi seorang hamba ciptaan, yang teguh akan keimanannya kepada Tuhan mereka sendiri. Aku bertanya pada diri sendiri:”Lalu, kamu beriman kepada Siapa?” Entahlah, yang pasti aku ber-Tuhan.

Facebook Google twitter
Family: Para Penyembah Sang Tuhan

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat