PERTANYAAN:
Dalam teks kitab syarah seringkali ditemukan “ay” (أي) yang terletak setelah dalam kurung. Misalkan saja apa yang tertulis dalam kitab Fath al-Qorib berikut:
(المياه التي يجوز) أي يصح
Ay apakah itu? Dan kata yang setelahnya  berkedudukan sebagai apa?
JAWABAN:
Ay tersebut adalah ay tafsiriyah. Deskripsinya adalah:
حَرْفٌ مَبْنِيٌ عَلَى السُّكُوْنِ لَا مَحَلَّ لَهُ مِنَ الْإِعْرَابِ يُسْتَعْمَلُ لِتَفْسِيْرِ الْمُفْرَدَات
Kalimah huruf, mabni sukun dan tidak mempunyai mahal I’rob. Ia digunakan untuk menjelaskan kosakata.
Secara luas terjadi ikhtilaf, ada yang memasukanya sebagai huruf ataf dan ada yang memasukannya sebagai ay tafsiriyah tapi tidak termasuk huruf ataf. Ibnu Malik menjelaskan dalam mensyarahi kitab al-Tashil:

وَجَعَلَ صَاحِبُ الْمُسْتَوْفَى "أَيْ" التَّفْسِيْرِيَّةَ حَرْفَ عَطْفٍ فِي نَحْوِ: مَرَرْتُ بِغَضَنْفَرٍ أي أَسَدٍ، وَنَهَيْتُكَ عَنِ الْوُنَى أَيْ الْفُتُوْرِ. وَالصَّحِيْحُ
أَنَّهَا حَرْفُ تَفْسِيْرٍ وَمَا يَلِيْهَا مِنْ تَابِعٍ عَطْفُ بَيَانٍ مُوَافِقٌ مَا قَبْلَهَا فِي التَّعْرِيْفِ وَالتَنْكِيْرِ

Abu Sa’id bin Mas’ud, pengarang kitab al-Mustaufaa, menjadikan ay tafsiriyah sebagai huruf ataf
 dalam contoh “marortu bi ghodonfar ay asad” (aku bertemu macan) dan “nahaytuka ‘an al-wanaa ay al-futuur (aku melarang kamu bermalas-malasan)”. Pendapat yang sahih, ay adalah huruf tafsir dan kata sesudahnya sebagai athaf bayaan yang mengikuti kata sebelumnya dalam persoalan ma’rifat dan nakiroh.

Sementara Ibnu Aqil menjabarkan dalam menyarahi kitab al-Tashil tersebut dengan kata-kata:

(و لَا أَيْ، خِلَافًا لِصَاحِبِ الْمُسْتَوْفَى) – وهو مذهب الكوفيين – نَحْوُ: هَذَا الْغَضَنْفَرُ أَي الْأَسَدُ. وَخَرَّجَ عَلىَ أَنَّ أي حَرْفُ تَفْسِيْرٍ وَمَا بَعْدَهَا عَطْفُ بَيَانٍ


Ay tidak termasuk huruf athaf, berbeda dengan pandangan dengan Abu Sa’id bin Mas’ud, pengarang  kitab al-Mustaufaa yang termasuk dalam mazhab nahwu kufah. Contoh “hazaa al-Ghodonfaru ay al-Asadu (ini adalah macan). Ibnu Malik tidak memasukan ay dalam huruf athaf, melainkan ia adalah huruf tafsir dan kata setelahnya bersetatus sebagai athaf bayan.
Lalu bisakah kata setelah ay tersebut menjadi badal?
Bisa, sebab setiap kata yang bisa dijadikan ataf bayan maka bisa pula dijadikan badal. Ini kata IbuMalkinya:
وَصَـالِحًـا لِبَدَلِيَّـٍة يُــــــرَى ‫#‏فِي‬ غَيْرِ نَحْوُ يَا غُلَامُ يَعْمُرَا
وَنَحْوُ بِشْـِر تَابِعِ الْبَكْــــــرِيِ# وَلَيْسَ أَنْ يُبْدَلَ بِالْمَرْضِـيِّ
Atau dengan bahasa simpelnya IbnuAqil
:
كُلُّ مَا جَازَ أَنْ يَكُوْنَ عَطْفُ بَيَانٍ، جَازَ أَنْ يَكُونَ بَدَلًا
Setiap kata yang bisa dijadikan athaf bayan, makabisa pula dijadikan sebagai badal.
Jadi, ay tersebut adalah ay tafsiriyah yang tidak termasuk huruf athaf dan kalimah setelahnya bersetatus sebagai athaf bayan ataubadaldari kalimah yang terletak sebelum ay. Contoh, dalam kitab fath al-Qorib disebutkan:
(رب) أي مالك (العالمين)
Sedangkan Abu Sa’id bin Mas’ud memasukannya sebagai salah satu huruf athaf.

Bahan Bacaan:
1. Jamaluddin bin Muhammad bin Abdillah bin Abdillan bin Malik al-Andaalusy, Syarh al-Tashiil (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2001), juz 3, h. 206.
2. Ibnu Aqil, al-Musaa’id ‘alaa tashiil al-Fawaaid (Jiddah: Daar al-Madaniy, 1984), juz 2, h. 443.
3. Muhyiddin Abdul Hamid, Minhah al-Jaliil bitahqiiq syarh Ibnu 'Aqiil (Kairo: Daar al-Turats, 1980), vol. 2, juz 3, h. 221.
4. Emil Badii Ya’qub dan Misyaal ‘Ashiy, al-Mu’jam al-Mufashshal fi al-Lughah wa al-Adab (Beirut: Daar al-‘Ilm li al-malayyin, 1989), jilid 1, h.266.
5. Ibnu Qoosim al-Ghuzy, Fath al-Qoriib (Semarang: Pustaka ‘Alawiyah, t.th), h. 2.

Sumber dari klik disini

Facebook Google twitter
Family: Ay Tafsiriyah (أي)

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat