SERUPA TAPI TAK SAMA 
Perbankan Syari’ah Vs Perbankan Konvensional

Tumbuhnya perbankan syari’ah di Indonesia merupakan hal baru bila dibandingkan dengan perbankan konvensional. Perbankan konvensional lebih banyak dikenal oleh masyarakat sebab ia lahir lebih dahulu. Rentan waktu yang memisahkan antara kedua bank ini memiliki konsekuansi logis terhadap pandangan masyarakat mengenai perbankan, terutama terhadap perbankan syari’ah.

Masyarakat awam  memiliki pandangan yang sangat beragam mengenai perbankan Syari’ah. Keberagaman itu bisa jadi karena mereka tidak tau banyak tentang perbankan syari’ah, sudah pernah menjadi nasabah perbankan syari’ah atau memang belum pernah sama sekali. Kebanyakan mereka memiliki pandangan bahwa tidak ada bedanya antara perbankan syari’ah dengan perbankan konvensional.

Asumsi masyarakat yang menyamaratakan bahwa tidak ada bedanya perbankan syari’ah dan perbankan konvensional ini bukan tanpa alasan. Mereka beralasan bahwa ternyata perbankan syari’ah juga menerapkan sistem “bunga” meskipun dengan istilah yang berbeda. Tolak ukur mereka dalam menyikapi hal ini cukup sederhana, yakni mereka menganggap bahwa apapun bentuknya yang namanya kelebihan dari uang pokok adalah “bunga.” Oleh sebab itu,  mereka akan mengatakan bahwa ternyata perbankan syari’ah dan konvensional adalah sama.

Menyadarkan masyarakat yang memiliki pandangan demikian tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bagi pihak pengelola dan para pengkaji perbankan syari’ah haruslah pandai-pandai didalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat bahwa perbankan syari’ah sangatlah berbeda dengan perbankan konvensional. Namun yang menjadi pertanyaan adalah untuk memberikan pengetahuan terhadap mereka letak perbedaan mendasar antara perbankan syari’ah dengan konvensional dibutuhkan waktu yang cukup lama.

Untuk menjelaskan kepada masyarakat umum mengenai perbedaan perbankan syari’ah ini rasanya tidaklah mudah dilakukan. Kesulitan yang dihadapai adalah karena untuk mengetahui perbedaan mendasar antara perbankan syari’ah dan konvensional disebabkan menyangkut kepahaman mengenai mekanisme yang ada dalam perbankan syari’ah.

Agar memiliki pemahaman yang baik dan benar mengenai mekanisme perbankan syari’ah, masyarakat kiranya harus banyak membaca dan mendalami perbankan syari’ah dan hal itu membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit – misalnya dengan kuliah mengambil jurusan Ekonomi Islam –. Dengan keterbatasan waktu dan biaya inilah, masyarakat sangat membutuhkan anologi untuk menggapai pemahaman singkat dan benar tentang mekanisme yang ada diperbankan syari’ah agar benar pula.

Suatu contoh adalah dua orang yang berjualan bakso dengan harga yang sama yaitu sepuluh ribu rupiah per-porsi. Pedagang yang satunya diberi daftar harga satu porsi yaitu Rp. 10.000. sementara penjual bakso yang satunya lagi tidak diberi tulisan. Kedua pedagang ini memiliki harga jual yang sama yaitu sama-sama sepuluh ribu. Namun yang satunya transparan dan yang satunya lagi tidak transparan. Yang transparan, itulah perbankan syari’ah.

Analogi kedua adalah melakukan seksual. Seksual yang dilakukan oleh suami istri dengan orang yang berada di lokalisasi adalah sama, yaitu sama-sama melakukan hubungan seksual. Namun yang menjadi titik pembeda adalah pada akadnya. Jadi ukuran halal atau haramnya perbuatan tersebut adalah tergantung pada akad. Selain analogi diatas, perbedaan mendasar yang lain juga harus diketahui oleh masyarakat, sebab mereka kebanyakan hanya melihatnya pada ujungnya saja. yaitu sama-sama memiliki bunga, hanya istilahnya saja yang berbeda. Untuk itu, istilah yang ada pada perbankan syari’ah juga perlu untuk diberikan penjelasan yang singkat tepat agar pemahaman tentang perbankan syari’ah menjadi tepat pula.

Dalam perbankan konvensional, orang yang menabung atau orang yang meminjam, kedua-duanya sama-sama merasakan bunga. Orang yang menabung tidak tahu-menahu kondisi perbankan yang ia tabungkan, sehat atau tidak. Asalkan orang yang menabung tadi menyimpan uang disitu, maka orang tersebut pasti akan mendapatkan bunga. Terserah pihak bank mau dikemanakan uang tersebut. Mekanisme seperti ini tentu akan sangat menguntungkan para pemodal besar dan membahayakan pihak bank atau bahkan negara. Karena pihak bank akan menanggung berapapun jumlahnya bunga yang ditumpuk oleh penabung dalam kondisi apapun. Dan jika dalam situasi negara kurang kondusif, maka bisa jadi kasus krisis 1998 bisa terulang kembali.

Untuk mengatasi berbagai kemungkinan terulanganya kembali krisis moneter, perbankan syari’ah hadir sebagai mekanisme perbankan yang telah teruji dan terus berkembang dari waktu-kewaktu. Karena  pada perbankan syari’ah, pihak bank tidak akan menanggung bunga nasabah dalam keadaan yang tidak memungkinkan, dan hanya pokoknya saja. Dengan mekanisme yang demikian, maka wajar apabila perbankan syari’ah lebih teruji waktu.

Bunga dan Provit sharing. Ciri lain yang sangat signifikan dalam membedakan antara perbankan syariah dan konvensional adalah pada istilah “bunga”. Orang sering beranggapan bahwa perbankan syariah dan konvensional adalah sama saja, yakni ama-sama memiliki bunga. Anggapan yang demikian kiranya harus diluruskan. Perlu diketahui bahwa dalam perbankan syari’ah tidak ada istilah bunga. Yang ada adalah profit sharing. Itu artinya, jika ada untung dari uang yang dikelola oleh pihak bank, maka keuntungan itu dibagi antra pihak bank dengan nasabah. Dan jika rugi, maka pihak bank tidak berkewajiban untuk membayarkan profit tersebut kepada pihak penabung. Dan jika pada perbankan konvensional, tetap harus membayar bunga yang telah ditentukan.

Bunga dan bagi hasil. Bagi orang yang meminjam uang diperbankan konvensional, maka ia wajib mengembalikan uang pinjaman pokok dan bunga yang ditetapkan. Tidak ada opsi lain yang bersifat kekeluargaan ketika si peminjam mengalami kerugian yang tidak terduga. Dan hal itu sangat memungkinkan, seperti misalnya perusahaan yang terkena musibah seperti kebekaran, banjir dan sebagainya. Jika pinjam diperbankan konvensional, apapun penyebabnya kerugian tersebut, ia akan tetap melunasi hutang-hutangnya bersamaan dengan bunga yang telah ditetapkan. Dan kalau tidak dilunasi maka jaminan yang telah ada ditangan pihak bank, akan disita.

Berbeda halnya dengan perbankan syari’ah. Orang meminjam uang diperbankan syari’ah memang memiliki beban yang sama dalam melunasi hutangnya. Akan tetapi masih ada opsi kekeluargaan dalam menanggulangi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Semisal pada saat perusahaan mengalami kerugian yang disebabkan oleh musibah bencana alam, orang yang pinjam di perbankan syari’ah bisa jadi hanya mengembalikan uang pokoknya saja tanpa harus ada tambahannya. Karena kondisinya memang demikian. Itulah beberapa perbedaan antara perbankan syari’ah dan konvensional secara singkat.

Perbankan Syari’ah Vs Perbankan Konvensional

Abdurahman
Facebook Google twitter
Family: Perbankan Syari’ah Vs Perbankan Konvensional

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat