I. Pengertian Master of Ceremony

Pengertian Master of Ceremony adalah Secara singkat MC merupakan singkatan berbahasa Inggris yang tersusun dari kata Master of Ceremony. Master artinya penguasa, sedangkan Ceremony artinya acara, jadi pemahaman MC secara luas adalah pemimpin acara yang berkuasa penuh terhadap jalannya sebuah acara. Selain bermakna sebagai penguasa acara, MC juga terkadang di identikkan dengan arti pemandu acara, pengendali acara, pembawa acara, pengatur acara, penata acara dan banyak lagi julukan bagi MC. Pada bagian lain MC bertindak selaku “tuan rumah” (host) dalam suatu acara atau kegiatan/pertunjukan.

Secara garis besar tugas MC berbeda dengan protokoler/protokol. Namun, secara struktural MC merupakan bagian dari aktivitas protokoler. sehingga dapat dipahami bahwa MC adalah pembawa acara yang bertugas untuk mengendalikan jalannya acara. Sedangkan protokol adalah tata acara, yang telah dirangkai dan tersusun secara lengkap. Sehingga seorang MC akan melaksanakan tugas sesuai dengan arahan Protokoler. Namun biasanya kegiatan keprotokoleran dilaksanakan pada acara-acara resmi, seperti acara kenegaraan, pemerintahan atau kegiatan-kegiatan yang melibatkan pejabat negara, pimpinan Daerah. Karena pada dasarnya kegiatan-kegiatan resmi tersebut telah tertata dalam perundang-undangan baku dan harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan, khusus pembahasan Protokol.

II. Syarat-syarat Master of Ceremony

Untuk mewujudkan sebuah bentuk karakter MC yang profesional, ada beberapa syarat dasar yang harus dipenuhi oleh seorang MC, sebagian diantaranya adalah :

a. Persyaratan Formal.
1. Kepribadian (Personality) Seorang MC harus mempunyai pribadi yang baik, sopan dan santun ketika bertegur sapa, menjaga tata krama dalam berkomunikasi, sehingga audiens akan mempunyai pandangan yang positif dan akhirnya acara dapat berjalan dengan lancar, karena komunikasi yang terjalin.
2. Penampilan (Performance) Seorang MC harus menata penampilan ketika tampil, meliputi busana yang dipakai dan perangkat kelengkapan yang digunakan, apakah sudah sesuai dengan tema acara, ataukah justru bertolak belakang. Contohnya dalam acara pengajian, untuk menyesuaikan sebaiknya kita memakai baju Koko model terbaru sehingga sesuai dengan tema acara.
3. Luwes (Flexibel) Seorang MC harus mampu beradaptasi dengan segala macam karakter audiens dan bentuk acara, sehingga bisa menyesuaikan diri dalam setiap keadaan dan mengendalikannya.
4. Pengetahuan (Knowlegde) Seorang MC diharapkan mempunyai pandangan luas tentang acara yang akan ia pimpin, meliputi tema acara, susunan acara dan pengisi acara. Sehingga audiens akan terasa nyaman mengikuti acara hingga usai.

b. Persyaratan non Formal.
1. Mampu berbahasa dengan baik, baik itu bahasa Indonesia, Daerah maupun bahasa Asing. Karena bahasa adalah senjata utama ketika menjadi MC.
2. Pengaturan intonasi kata-kata, karena dengan pengaturan intonasi yang baik, maka suara kita akan menjadi merdu dan nyaman di dengar. Salah satu caranya adalah meminimalisir logat daerah.
3. Memiliki karakter “Microphone Voice”, yakni suara yang enak didengar setelah melalui alat pengeras suara.
4. Mampu mengatur tehnik Komunikasi dengan orang lain.
5. Mengusai materi yang akan disajikan, meliputi rangkaian acara dan lokasi acara.
6. Mempunyai gaya dan style yang berwibawa, dengan memasang raut muka yang bersahabat, sehingga dengan bentuk MC yang anggun maka Audiens akan tertarik untuk menyimak acara.
7. Memiliki kwalitas suara yang enak didengar, alamiah, tidak dibuat-buat dan sewajarnya.
8. Memiliki karakter vokal yang jelas dan powerful, caranya adalah dimulai dengan nada dasar.
9. Tidak tergesa-gesa dalam berkata-kata. Sehingga rangkaian kata-kata yang telah tersusun tidak berantakan.

c. Persyaratan Teknis
1. Mengecek persiapan perangkat Sound System, seperti Mic dan standart mic, apakah sudah siap ataukah justru sebaliknya.
2. Membawa alat tulis menulis seperti bolpoint, blok note dan map.
3. Berada di tempat khusus yang berdekatan dengan Podium atau panggung utama.

III. Tugas MC Tugas seorang MC

secara mendasar adalah memimpin acara, namun selain itu tanggung jawab MC terhadap kelancaran sebuah acara sangatlah vital. Secara garis besar, tugas MC terbagi sebagai berikut :
1. Mengumumkan tema acara yang akan berlangsung, sehingga audiens akan memahami jenis kegiatan yang akan dilaksanakan.
2. Memberi pengantar secara singkat, tentang materi acara yang akan berlangsung.
3. Mengumumkan susunan acara yang sedang dan akan berlangsung, sehingga baik audiens maupun pengisi acara dapat bersiap diri.
4. Memperkenalkan figur yang akan tampil mengisi acara, sekaligus dengan jabatannya, sehingga seluruh peserta acara dapat mengenal dan mengetahui figur yang akan tampil.
5. Memastikan acara berjalan dengan lancar dan tepat pada waktunya, sesuai dengan rencana. Sehingga acara tidak terkesan bertele-tele dan melebihi aloksi waktu.
6. Sebagai mediator antara panitia dan audiens acara.

IV. Persiapan Agar tugas MC dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan, maka seorang MC perlu melakukan beberapa langkah-langkah persiapan, diantaranya :
a. Menyusun acara dengan baik dan berkoordinasi dengan panitia penyelenggara.
b. Menyusun naskah MC yang sesuai dengan tema kegiatan.
c. Mengecek kesiapan panggung kehormatan atau podium acara, juga perangkat yang termasuk didalamnya. Contohnya pada saat peresmian, apakah prasasti yang akan ditanda tangani dan spidol yang akan digunakan sudah siap.
d. Mengecek pengeras suara (mike) atau sound-system agar berfungsi dengan baik. Dengan menyesuaikan volume dan karakter suara kita, agar nantinya lebih nyaman ketika melaksanakan tugas.
e. Mengecek kesiapan acara dan kehadiran orang-orang penting yang akan tampil.
f. Berkonsentrasi menyimak detil jalannya acara.
g. Mengendalikan acara agar berjalan sesuai dengan alokasi waktu yang ditetapkan. Seperti acara hiburan dalam Pra Acara.

V. Materi MC
Agar seorang MC mampu menampilkan performa yang maksimal, maka dibutuhkan persiapan materi yang tertata dengan rapi, berikut adalah panduan menyusun naskah MC :
a. Alenia Pertama : Berisi salam dan muqoddimah berbahasa arab. Agar tidak terkesan egois, maka sebaiknya, muqoddimah menggunakan bahasa yang sederhana.
b. Alenia kedua : Berisi kata-kata penghormatan terhadap hadirin, dimulai dari pihak yang dirasa paling terhormat, para pengisi acara, hingga masyarakat umum.
c. Alenia ketiga : Berisi kata-kata sanjungan kehadlirat Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
d. Alenia keempat : Berisi penjelasan secara sekilas tentang acara yang dilaksanakan, tema, tempat pelaksanaan dan susunan acara. Jika ada kemungkinan acara dapat berubah, maka sebaiknya, susunan acara tidak dibacakan, agar tidak ada kesan inkonsisten.
e. Alenia kelima : Berisi pemanggilan pengisi acara, agar hadirin mengetahui acara berikutnya dan mengenal figur yang tampil didepan, maka sebaiknya di sebutkan jabatan dan tugasnya, seperti Pimpinan pesantren atau pimpinan daerah tertentu.
f. Alenia keenam : Berisi kata-kata penutup, dilengkapi dengan ungkapan permohonan maaf jika dalam pelaksanaan tugas, MC mempunyai kesalahan.

VI. Sikap dan Mental Salah satu unsur yang tidak kalah penting dalam membentuk karakter MC yang profesional adalah pengaturan sikap dan mental seorang MC, sebagai bahan acuan, berikut hal-hal yang perlu dilakukan:
1. Dapat dipercaya dan mengikuti petunjuk dari panitia. Tidak semena-mena dan egois dalam mengatur acara.
2. Mempunyai rasa hormat, terutama kepada orang yang akan mengisi acara.
3. Tegar, mampu mengendalikan audiens dan suasana hati, meski terkadang tangan gemetar dan nafas naik turun. 4. Percaya diri dan tidak pemalu.
5. Tidak terburu-buru dalam bertindak, sehingga acara tidak semakin kacau.
6. Responsif, artinya tanggap dalam menyikapi sebuah keadaan.
Responsif, dibagi menjadi empat macam :
a. Teliti, cermat mengamati kekurangan yang terjadi dan segera melakukan tindakan yang dapat membuat suasana dan keadaan menjadi lebih terkendali.
b. Waspada, berkonsentrasi penuh atas tugasnya sebagai pemandu acara dan meminimalisir kekurangan dengan kewaspadaan yang tinggi.
c. Mediator, bersikap sebagai penghubung yang mampu menjembatani antara keinginan hadirin dan kepentingan penyelenggara/panitia.
d. Antusias, bersedia menerima masukan dari pihak manapun.

VII. Tata Cara dan Tata Krama Selain persyaratan dan persiapan yang telah diuraikan diatas, berikut ini adalah rumus singkat dalam merangkai kata ketika berbicara didepan forum, karena salah satu syarat dasar MC adalah lancar berbicara.

Prinsip berbicara bagi seorang MC dirumuskan dalam rumus “CABE”, yakni:
Clear : Jelas, langsung dimengerti dan tidak membingungkan, pengucapan kata demi kata dilakukan dengan jelas dan runtut. Agar rapi dan tidak terkesan kacau, sebaiknya naskah MC disusun terlebih dahulu dan ditata dengan rapi menyesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.
Audibel : Karakter suara jernih, yang dapat didengar secara baik dengan suara yang jelas, tapi tidak dengan berteriak dan ngotot. Suara powerful dan energik, tidak loyo dan tak bertenaga. Sehingga suara terdengar semangat.
Brief : Ringkas, dengan menggunakan kata-kata yang sederhana dan langsung ke inti. Tidak bertele-tele yang justru mengumbar kata-kata, sehingga audiens akan menjadi bosan.
Ease : Lancar, mampu melafalkan kata tanpa tersendat. Salah satu caranya adalah berwawasan luas. Khususnya berkaitan dengan tema acara, sehingga bisa memberikan pengantar yang memikat dan menimbulkan simpati.
Salah satu resep jitu bagi seorang MC adalah membaca Naskah MC berulang-ulang sebelum bertugas.

VIII. Tambahan
a. Dalam moment atau kegiatan yang lain, seorang MC justru dituntut mampu menjadi penghibur. Karenanya ia harus humoris. Dengan demikian, ia akan mampu menyegarkan suasana dengan joke-joke segar, maupun guyonan-guyonan ringan. Seperti acara Reuni, ulang tahun dan pagelaran musik.
b. Untuk menghidupkan suasana, seorang MC disarankan mampu memotivasi hadirin agar tetap bersemangat. Ajakan tepukan tangan (applause), bahkan teriakan dan pekikan, bisa membantu memeriahkan acara dan memancing spirit peserta acara agar kembali bergelora. Sehingga sebuah acara akan terasa lebih hidup.
c. Agar tidak terkesan mondar-mandir, seorang MC dianjurkan untuk mempunyai tempat tugas sendiri, dengan cara disediakan meja dan estándar Mic, dan penempatannya tidak jauh dari podium utama, sehingga tidak naik dan turun panggung.

IX. Protokoler Sesuai dengan UU No. 8 Tahun 1987.
Pengertian protokol adalah : ”Serangkaian aturan dalam acara kenegaraan atau acara resmi kenegaraan”. Hal ini menunjukkan pentingnya tugas Protokoler, sehingga perlu dibentuk perundang-undangan khusus. Keterangan lain menyebutkan, bahwa Protokol adalah peraturan terhadap tingkah laku dan tata pergaulan, namun semua pelaksananaan kegiatan keprotokoleran sangat tergantung pada ruang, waktu, keadaan, situasi dan kondisi setempat.

Aturan protokoler meliputi:
a. Tata Tempat Tata urutan tempat bagi pejabat negara, pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat yang terlibat dalam sebuah acara kenegaraan atau acara resmi. Penataan tempat sangat bergantung dengan jabatan dan kedudukannya.
Adapun komposisi penataan tempat duduk adalah dengan menggunakan urutan nomor posisi dengan contoh :
1. Bila orang yang terhormat ada dua orang, maka sebelah kanan adalah yang utama.
2. Bila terdapat tiga orang, yang tengah yang pertama.
3. Bila terdapat empat orang, penataannya adalah 4.2.1.3
4. Bila terdapat lima orang, penataannya adalah 5.3.1.2.4
5. Bila terdapat enam orang, penataannya adalah 6.4.2.1.3.5
6. Bila terdapat tujuh orang, penataannya adalah 7.5.3.1.2.4.6

b. Tata Upacara Seperti tata bendera, lagu kebangsaan, pakaian atau kostum pengisi upacara, dan sebagainya. Tata upacara bukan hanya berlaku pada saat pelaksanaan sebuah upacara bendera, namun juga berlaku pada upacara pelantikan, upacara serah terima jabatan, bahkan upacara pemberangkatan jenazah. Sehingga semua perangkat yang dilibatkan harus dipenuhi dahulu agar tidak terjadi kekurangan.

c. Tata Penghormatan Penghormatan kepada seseorang, kepada bendera kebangsaan, lagu kebangsaan, dan sebagainya. Penghormatan dapat dilaksanakan dalam berbagai cara, seperti penataan tata lokasi duduk tamu VIP, penyebutan dalam laporan panitia dan penyebutan oleh pembawa acara.

Oleh Ustadz Arief Noer -
Facebook Google twitter
Family: Master of Ceremony Adalah

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat