Oleh: Kyai Haji Abdul Wahab Chasbullah

Dengan menyebut Asma Allah yang menjadikan ayat ini sebagai mukjizat atas kekufuran yang hina:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوْا اللهَ كَثِيرًا الآية
Maka ketika salat telah ditunaikan, berhamburlah di bumi dan berharaplah pada anugerah Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak.

Dengan menyebut Asma Allah yang telah mengharamkan perdagangan semacam ja’alah[1] dan syirkah bagi orang yang tak mengerti beda antara ‘yang sah’ dan ‘yang rusak’.

Dengan menyebut Asma Allah yang telah menjadikan sabdanya
إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُب بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ
apabila kalian berhutang dengan tujuan tertentu maka catatlah dan hendaknya salah satu dari kalian yang mencatatnya sebagai satu dari sekian banyak syari’at Islam yang cemerlang sebagaimana Allah menjadikan kebaikan prasangka antar hamba-hambanya sebagai hakikat yang menancap dan meresap.

Dengan menyebut Asma Allah yang telah menyalakan ghirah melawan kekafiran sebagai penjaga agama, penopang keberanian yang terpuji, dan sekaligus menjadi sebab bagi tergalangnya ahli syahadah dengan sabda

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ 
قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهإِخْوَاناً

dan berpegang-teguhlah kalian semua dalam ikatan Allah dan jangan bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah atas kalian semua (dulu pada masa jahiliyah) ketika kalian bermusuh-musuhan, kemudian Allah mempersatukan hati kalian. Sebab kenikmatan dari-Nya lah kalian menjadi saling bersaudara.

Dan dengan sabda-Nya pula:
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى الآية
dan saling tolong menolonglah kalian semua dalam kebaikan dan ketaqwaan
Dikukuhkan pula melalui dawuh Kanjeng Nabi sang Pemilik Syafa’at:
كُونُوْامُؤَلِّفِيْنَوَلاَتَكُونُوْامُنْفَرِّيْنَ
Jadilah kalian semua saling rekat-merekat satu sama lain dan jangan terpecah belah.
Juga dawuh beliau:
أُنْصُرْأَخَاكَظَالِمًاأَوْمَظْلُومًا
Tolonglah saudara kalian yang dzalim dan yang terdzalimi (yakni dengan menghilangkan unzur kedzalimannya dengan berbagai cara dan perantara).
Sudah pasti bahwa maksud dari apa yang disebut Kanjeng Nabi dalamمَنْرَأَىمِنْكُمْمُنْكَرًافَلْيُغَيِّرْهُبِيَدِهِ(siapa dari kalian yang menyaksikan kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya) adalah kewajiban bagi penguasa, sedangفَإِنْلَمْيَسْتَطِعْفَبِلِسَانِهِ(jika tak mampu, maka dengan lisannya) adalah kewajiban bagi ulama, danفَإِنْلَمْيَسْتَطِعْفَبِقَلْبِهِوَذَلِكَأَضْعَفُالْإِيمَانِ(jika tak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian adalah selemah-lemahnya iman) ialah kewajiban bagi masyarakat awam.
Segala puji bagi Allah Dzat yang Maha mencukupi dengan nikmat dan rahmat-Nya. Sebagian dari nikmat dan rahmat-Nya itu terdapat dalam hadis qudsi:
أَنَاثَالِثُالشَّرِيكَيْنِمَالَمْيَخُنْأَحَدُهُمَاصَاحِبَهُفَإِذَاخَانَهُخَرَجْتُمِنْبَيْنِهِمَا
Akulah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat sepanjang salah satunya tidak berkhianat kepada yang lain (yakni Allah membersamai mereka berdua dalam menjaga dan membantu harta benda keduanya). Jika salah satu saja berkhianat, Aku hengkang dari keduanya.
Nabi SAW pun pernah berserikat dengan seseorang yang bernama Saib dan membanggakan perserikatannya itu.
Salawat dan salam terhatur pada kekasih kita Nabi Muhammad, sang hamba dan utusan Allah, yang telah dawuh:
مَنْطَلَبَالدُّنْياَحَلَالًاتَعَفُّفًاعَنِالْمَسْأَلَةِوَسَعْيًاعَلَىعِيَالِهِوَتَعَطُّفًاعَلَىجَارِهِلَقَىاللّهَوَوَجْهُهُكَالْقَمَرِلَيْلَةَالْبَدْرِ
Manusia yang bekerja di dunia secara halalseraya menjaga diri dari meminta-minta, berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya, dan juga berbagi untuk tetangga sekitarnya, maka ia akan menghadap Allah dengan wajah secerah bulan purnama.
Nabi dawuh pula:
التَّاجِرُالصَّدُوقُيُحْشَرُيَوْمَالْقِيَامَةِمَعَالصِّدِّيقِيْنَوَالشُّهَدَاءِ
Usahawan terpercaya pada hari kiamat kelak dikumpulkan bersama ahli kebenaran dan syuhada.

Salawat dan salam semoga terhatur pula kepada Keluarga serta Sahabat Nabi yang bagai bintang-gemintang, dan juga pada segenap manusia mukmin yang masih hidup atau yang telah berpulang.
Waba’du

Kita melihat kemerosotan generasi tanah air dan sedikitnya perhatian mereka terhadap syariat Islam dengan bukti sedikitnya santri yang menuntut ilmu dan rusaknya berbagai ikatan. Sebagian di antara hal tersebut menjadikan terhalangnya solat berjamaah dan maraknya Sekolahan Belanda. Sementara, penduduk tanah air ini adalah kaum beragama yang dipinggirkan padahal di tangan merekalah terdapat kejayaan, keberanian, dan kekuasaan di lautan, daratan, dan segenap penjuru.

Maka, berpikir dan merenunglah kami pada sebab-sebabnya. Kami menemukan bahwa sebagian besar penyebabnya, dinisbatkan pada para kyai, ada tiga. Dan dari sisi santri, penyebabnya banyak dan tak terhitung lagi jumlahnya. Dari tiga penyebab tersebut, yang pertama ialah para kyai bersikap tajarrud[2]padahal belum mampu. Ini membuat sebagian besar mereka membungkuk meminta-minta pada orang kaya yang bodoh dan penguasa yang hina.
Kedua, para guru tidak bersentuhan dengan lingkungan sekitar yakni kaum duafa yang tak mengerti rukun salat, bahkan yang tak mampu mengucap syahadat. Jelas sekali, tingkat ketidaktahuan para duafa itu berlapis-lapis (jahil murakkab). Dalam hal keagamaan, tak ada penyampai kabar gembira dan peringatan yang membersamai mereka. Demikian pula, tak ada pendamping yang membantu penghidupan/kesejahteraan mereka. Sementara, para pembesar justru memangsa hak-hak hidup kaum duafa itu. Di waktu yang sama, para pemuka agama justru diam tak bergerak dengan dalih menghindari ilusi fitnah. Padahal jika saja kaum duafa itu minta dibela para pemuka agama dan hal itu disanggupi, mereka bakal menaruh hormat dan taat pada apa yang saja yang berkaitan dengan urusan sang pemuka dan mereka sendiri, seperti dalam urusan ibadah shalat dan selainnya.
Ketiga, para guru gelap mata pada khazanah pengetahuan luar sambil merasa cepat puas dengan apa yang sudah diketahui. Mereka tak merasa perlu bermusyawarah, berjejaring, dan berjam’iyyah dalam organisasi khusus keulamaan untuk mencari tahu cara menguatkan agama; untuk mencaritahu piranti-piranti yang diperlukan semisal apakah memelajari tulisan Belanda itu haram atau justru fardlu kifayah; Juga untuk mencari tahu cara pengembangan ilmu-ilmu yang bermanfaat seraya  menangkal kezaliman yang terang-terangan agar meraka dapat mendorong kesetaraan dan menyemarakkan agama; juga untuk membahas cara mengurangi kemaksiatan yang dilakukan para pelakunya secara terang-terangan. Sebab merekalah kita turut menjadi orang yang bersalah karena terkena imbasnya. Nabi Muhammad menerangkan:
الْخَطِيئَةُإِذَاخَفِيَتْلاَتَضُرُّإِلاَّصَاحِبَهَافَإِذَاظَهَرَتْفَلَمْتُغَيَّرْضَرَّتِالْعَامَّةَ
Kekeliruan yang tersembunyi hanya membahayakan pelakunya. Tapi jika terang-terangan, dan tak dirombak, pasti membahayakan masyarakat umum.

Kalian semua berjalanlah keluar dan hanya dalam sepuluh langkah saja segera kalian jumpai kekeliruan-keliruan yang terang-terangan. Apakah semua orang di zaman ini tenggelam dalam persekongkolan yang menyamakan yang baik dengan yang buruk? Ataukah semua orang menjadi awam dan tak satupun yang mengerti hukum? Ataukah semuanya telah pasrah-bongkokan pada takdir dan merasa tak perlu ikhtiyar? Ataukah semuanya telah putus asa dari rahmat Allah yang langgeng itu? Ataukah kemalasan memang merupakan watak penduduk nusantara?
Padahal, berapa banyak orang fasik bodoh yang tak terpercaya justru mengorganisasi-diri, menyuarakan, dan mengadukan aspirasi pada Gemeenteraad[3] atas nama organisasi untuk menuntut apa yang jadi kepentingan mereka. Maka, terkabul lah tuntutan mereka itu disertai tanggapan positif Gemeenteraad atas tuntutan tersebut.

Wahai para ulama, andai saja kalian mengadukan aspirasi pada Gemeenteraad dengan jalan organisasi untuk menghentikan kemaksiatan yang terang-terangan, apakah kalian sangka Gemeenteraad tak mendengarkan dan mengabulkannya? Tidak, sama sekali tidak. Gemeenteraad justru malah menanggapi positif tuntutan kalian yang disampaikan dengan jelas, sepanjang kalian dalam kesepakatan yang kuat. Pemerintah Belanda bersikap netral, mau mendengar aduan warga, dan mengabulkan tuntutan yang baik. Justru kalian lah yang diam tak bergerak seperti mayit.
Sudah pasti, kesepakatan tak mungkin dicapai tanpa didahului musyawarah. Banyak dari golongan kita yang menghindar dari masalah dengan mencomot dalil kaum sufi, bertindak dengan perilaku orang malas (mutasawwifin), bermain kata dengan ucapan orang jabariyah, dan mempertunjukkan senyum getirnya orang putus asa.  Sementara, boleh jadi sebagian yang lain menghindar dengan cara menempatkan diri dalam kelompok orang awam. Akan tetapi, di lain kesempatan dan urusan, mereka justru mendesakkan diri untuk tampil di depan. Manakala pada mereka diungkapkan prinsip-prinsip membangun, berserikat, dan bermusyawarah, mereka akan mengabaikannya karena mengira tak bakal berhasil. Tapi, mereka ini tak menyadari bahwa terwujudnya kekuasaan termasuk jalan yang menghantarkan pada keselamatan.

Wahai pemuda tanah-air yang cerdik-cendekia! Wahai para ustadz yang mulia! Mengapa engkau sekalian tak mendirikan saja perserikatan kerja. Satu daerah, satu perserikatan yang mandiri. Perserikatan ini diperuntukkan bagi para Ulama dan kelompok lain seperti kaum terdidik. Dari perserikatan kerja ini, sebagian hasilnya diperuntukkan untuk membangun Darun Nadwah  sebagaimana diteladankan para Sahabat Nabi. Melalui Darun Nadwah, perkumpulan diselenggarakan empat kali atau paling kurang sekali tiap tahunnya. Darun Nadwah ditujukanuntuk (1) berbai’at dan bermusyawarah guna menampakkan Syariat Nabi Muhammad SAW pada kaum terpelajar dan masyarakat awam. Selain itu, (2) Darun Nadwah bertujuan untuk meningkatkan jumlah santri, (3) menghidupkan ikatan-ikatan yang mati-suri, (4) mencari cara untuk mencukupi penghidupan para pendidik yang fakir baik di kota atau di desa, dan (5) untuk menghadang kemaksiatan yang terang-terangan.
Wahai saudara-saudara, tidakkah kalian saksikan betapa banyak dan sesaknya sekolahan asing, termasuk ribuan sekolahan di desa-desa. Di sana, diajarkan ini-itu, tapi syariat Nabi Muhammad SAW tak dibahas meski secuil, bahkan tidak sama sekali. Apakah kalian sangka bahwa rahmat Allah berkurang tanpa sikap berlebihan dari umat itu sendiri? Padahal Allah berfirman:
إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak merubah nikmat yang ada pada suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.
Ahlussunnah telah berkeyakinan dan berikrar bahwa kebaikan-keburukan berasal dari Allah Ta’ala, bahwa takdirtak bisa berubah, dan bahwa generasi terbaik ialah generasi Nabi Muhammad kemudian generasi sesudahnya, lantas generasi berikutnya, dan seterusnya. Akan tetapi, Ahlussunnah juga menetapkan dan tunduk bahwa segala sesuatu memiliki sebab dan pertanda. Sebab solat, misal, ialah datangnya waktu solat dan menunaikannya ialah pertanda ahli surga.
Ahlussunnah telah menetapkan pula bahwa takdir yang tak bisa dirubah ialah takdir yang ditunjukkan pada malaikat, bukan takdir yang ada di sisi Allah Ta’ala. Allah berfirman:
يَمْحُوْ اللهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
Allah menghapus apa yang Ia kehendaki, dan menetapkan (apa yang Ia kehendaki). Dan di sisi-Nya lah terdapat Ummul Kitab (lauh mahfudl).

Ahlusunnah juga berketetapan bahwa merelakan keburukan dengan alasan bersandar pada takdir merupakan akidahnya filsafat jabariyah.

Maka, atas dasar perenungan di muka, pemikiran yang panjang, dan dalil-dalil yang telah disebut, syekh-guru-paman kita Hasyim Tebuireng membentuk perserikatan kerja dengan dukungan pihak-pihak yang nama dan tugas mereka tertera di bawah ini. Perserikatan ini disebut Syirkatul ‘Inan, disingkat SKN.

Di antara syarat yang berlaku dalam perserikatan ini ialah pembagian keuntungan tiap tahun sekali. Separuh keuntungan dibagi berdasar besaran modal masing masing. Separuhnya lagi dikembalikan pada modal bersama untuk mengembangkan kebesaran perserikatan. Semoga Allah menjadikan perserikatan ini sebagai panutan yang dilimpahi barokah.

Selaku pimpinan Syirkah ialah Syekh Hasyim. Bendahara ialah Abdul Wahab Tambakberas yang memiliki lima buah kunci yang berbeda. Tiap kunci dipegang lima anggota yang terpercaya, satu orang satu kunci. Sedangkan dokumen dan arsip dipegang dua katib, Haji Basri dan Syekh Manshur.
Semua anggota telah bersepakat bahwa Syirkatul ‘Inan ini bergerak di bidang pertanian, bukan pada perniagaan karena sukar dan tak terbiasa. Kesepakatan akad Syirkatul ‘Inan ini disahkan pada akhir bulan Rajab tahun 1336 tahun Hijrah Kenabian. Solawat, salam, dan rahmat semoga langgeng terlimpah pada Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya yang berhijrah.
Para anggota juga bersepakat untuk mengurusrechtpersoon[4]atas perserikatansetelah dua atau tiga tahun.
Ya Rabbal alamin, berilah keberhasilan pada usaha ini.
Tersebut lah dalam syair
Tatkala ahli ilmu dan hujjah tak bermanfaat
Ia bagaikan orang bodoh di lingkungannya
Orang yang tak bermanfaat bagi umat
Ia bagaikan duri di sela-sela bunga
 

*terjemah ini beserta salinan naskah aslinya disiapkan sebagai bahan rembug Selapanan Komunitas Petani Keset (KaPeka) di Krinjing, Magelang (rumah Ustadz Hanif Manuto Muhammad) pada Malem Kemis Legi 30 Sapar 1435/1 Januari 2014. Ungkapan terima kasih ditujukan pada Kyai Ahmad Said Asrori athala Allahu baqa’ahu  yang pertama kali membagikan salinan naskah aslinya. Kekeliruan dan kekurangtepatan yang terdapat dalam terjemah ini sepenuhnya tanggung-jawab Ahmad Musthofa Haroen. Catatan kaki adalah tambahan seperlunya dari penerjemah.

[1]Ju’alah, Ji’alah, atau Ja’alah: pemberian upah atas suatu manfaat yang diduga bakal terwujud. Akad Ju’alah sering diidentikkan dengan sayembara.
[2]Salah satu pengertian umum tentang tajarrudialah melepaskan diri dari segala ikatan kecuali ikatan kepada Allah dan segala sikap berpihak kecuali berpihak pada Allah SWT.
[3]Gemeenteraad ialah Lembaga Perwakilan Kota bentukan penjajah Belanda. Semacam DPRD kota pada masa sekarang. Gemeenteraad dibentuk setelah terbit Undang-undang Desentralisasi pada 1903 yang mengatur terbentuknya gemeente, semacam kotamadya, di kota-kota yang dianggap bisa mandiri.
[4]Hukum bawaan Kolonial Belanda membedakan subyek hukum, antara lain, menjadi naturlijkpersoon (orang pribadi) dan rechtpersoon (badan hukum).
kebangkitan ekonomi syariah yang sesuai dengan ajaran Islam terdapat dalam naskah Syirkatul Inan Murabathah Nahdhatut Tujjar ini


Facebook Google twitter
Family: Syirkatul Inan Murabathah Nahdhatut Tujjar*

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat