Abu Dawud meriwayatkan bahwa pada masa Rasulullah pernah ada seseorang yang terkena luka pada bagian kepalanya, lalu pada suatu malam yang sangat dingin dia berhadats besar.
Orang tersebut meminta fatwa kepada kaum muslimin dan mereka menjawab, ”Mandilah!”. Lalu orang tersebut mandi yang kemudian mengakibatkan dirinya meninggal. Hal ini kemudian dilaporkan kepada Rasulullah.
Beliau menyayangkan mengapa tidak menanyakan terlabih dulu perihal tersebut ketika mereka tidak mengetahui hukum yang sebenarnya. Nabi kemudian  bersabda, “Sesungguhnya sudah cukup baginya bertayammum dan membalut lukanya dengan kain, lalu mengusap kain tersebut dan membasuh anggota tubuhnya yang lain”.

Seandainya ijtihad dapat dilakukan oleh setiap orang Islam tentu Rasulullah tidak mencela kaum muslimin yang telah memberikan fatwa kepada orang tersebut.

(Al-Habsyi Syeikh Abdullah, Maqshid at-Thâlibîn, Dârul Masyârî’, cet. ke-1, 2003 hal. 188) -



Facebook Google twitter
Family: Bisakah Ijtihad dilakukan oleh Setiap Orang

pesantren.or.id bersama santri berdayakan masyarakat